White Coat Uncontrolled hypertension (WCUH) menjadi salah satu pertimbangan yang dinilai pada pasien hipertensi tidak terkontrol. Penilaian lebih jauh dibutuhkan untuk menghindari terjadinya medikasi berlebihan. Pada penelitian ini, penulis meneliti sebuah kasus WCUH yang ekstrem, yang ditemukan pada saat melakukan pemeriksaan ambulatory blood pressure monitoring (ABPM). Subyek penelitian adalah perempuan berusia 66 tahun pasien rutin poli rawat jalan departemen jantung RSPAD Gatot Soebroto dengan diagnosis hipertensi tidak terkontrol, Coronary artery disease (CAD) post Percutaneous Coronary Intervention (PCI), dan diabetes melitus tipe 2. Pasien termasuk ke dalam kategori overweight dengan kadar gula darah yang tidak terkontrol dan diberikan terapi hipertensi agresif yang diberikan dengan, Angiotensin Receptor Bloker (ARB), Calcium Chanel Blocker (CCB), Beta Blockers, diuretik dan klonidin, tekanan darah sistolik pasien masih terukur 160 mmHg di poliklinik. Hasil ekokardiografi menunjukkan adanya hiperterofi konsentrik ventrikel kiri. Hasil pemeriksaan ABPM menemukan bahwa rerata tekanan darah dua puluh empat jam pasien adalah 93,6/59 mmHg, dengan rerata tekanan darah day-time 90/55 mmHg dan night time 98,7/65.2 mmHg, serta hipotensi intermiten dengan reverse dipper pattern. Tekanan darah terendah yang terekam adalah 69/44 mmHg, dan tekanan darah tertinggi terukur pada 211/186 mmHg. Pasien terdiagnosis dengan White Coat Uncontrolled Hypertension (WCUH), dan melakukan penyesuaian terapi yang diberikan. Kasus ini menekankan perlunya identifikasi dan eksklusi diagnosis WCUH pada pasien hipertensi tidak terkontrol dengan ABPM supaya pasien mendapatkan terapi yang sesuai dan mencegah hipotensi yang tidak diinginkan. DOI : 10.35990/mk.v5n1.p79-90