Jean Anthoni
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Kajian Tentang Gembala Yang Menjadi Panutan Di Jemaat Gki Elim Malanu Jean Anthoni; Eva Runtuwene
EIRENE (JURNAL ILMIAH TEOLOGI) Vol 1 No 1 (2016): Eirene Jurnal Ilmiah Teologi
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian, Universitas Kristen Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (285.583 KB)

Abstract

Profil seorang Gembala dalam kehidupan pribadi keluarganya sangatlah berperan penting dalam jemaat, dimana jemaat menginginkan seorang Gembala yang dapat menjadi panutan bagi mereka, Dan ketika jemaat menginginkan seorang Gembala yang dapat menjadi panutan bagi mereka, tentulah ini dimulai dari kehidupan pribadi seorang gembala tersebut, agar ketika Gembala mengembalakan jemaat, memberikan solusi atau jalan keluar yang dihadapi oleh anggota jemaat.Kata gembala secara harafiah dalam bahasa Ibrani adalah "ro'eh", dalam bahasa Yunani "poimen" dan dalam bahasa latinnya disebut "Pastor". Gambaran Gembala inilah yang terlukis dalam kehidupan umat Kristen, khususnya para pemimpin gereja atau yang kita kenal dengan sebutan Pendeta atau Gembala Sidang. Para Pendeta atau Gembala Sidang ini berbeda dengan gembala yang kita kenal sebagai Yesus Kristus. Pendeta atau Gembala Sidang ini hares melalui suatu tahap pendidikan yang memberikan mereka ilmu dalam membina dan bekerja dalam jemaat. Oleh sebab itu untuk menjadi seorang Gembala Sidang atau Pendeta yang menjadi panutan dalam jemaatnya, maka setidaknya ia harus memiliki sifat-sifat lemah lembut, rendah hati, bijaksana, sopan, cakap mengajar dan suka memberi tumpangan, seorang yang dapat menahan diri bukan hamba uang, sopan, sabar, pembawa damai, dapat membimbing, melindungi jemaat, suka bergaul dengan orang lain, memiliki hati yang terbuka terhadap segala macam golongan manusia : kaya, miskin, pintar, bodoh, bawahan atau atasaan. Dari semua itu yang terpenting adalah bahwa seorang Gembala Sidang atau Pendeta harus memiliki karakter seperti Sang Gembala Agung, yaitu Yesus Kristus.
KAJIAN ETIS TERHADAP PENANGGULANAGAN BANJIR DI KOTA SORONG BERDASARKAN KEJADIAN 2 : 15 Erens W Watumlawar; Ricky Donald Montang; Jean Anthoni
EIRENE (JURNAL ILMIAH TEOLOGI) Vol 10 No 2 (2025): Eirene Jurnal Ilmiah Teologi
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian, Universitas Kristen Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56942/9xzvbp76

Abstract

Keberlangsungan hidup manusia sangat ditentukan oleh kapasitas daya dukung lingkungan tempat tinggalnya. Oleh karena itu, diperlukan upaya yang sistematis dan berkelanjutan untuk menjaga serta memelihara kondisi lingkungan agar tetap mampu menyediakan kenyamanan dan manfaat bagi kehidupan manusia. kebersihan kota dan melestarikan lingkungan sekitar dengan perilaku yang beretika, sehingga mengakibatkan Kota Sorong tidak mengalami kebanjiran.Dengan demikian, maka penulis berupaya untuk mengkaji masalah ini dengan mendudukan sebuah Kajian Eksegese dari kitab Kejadian 2 : 15, karena pada bagian ini terdapat identitas manusia sebagai ciptaan Allah sekaligus sebagai citra Allah. Bahwa pada kitab Kejadian pasal 2 diceritakan Taman Eden disediakan oleh Allah untuk manusia dengan kepentingan yang mulia, yaitu untuk diusahakan, dijaga dan dirawat oleh manusia. Tetapi bukan berarti mengusahakan dengan sembarangan, melainkan harus dijaga dan dirawat. Sebab pada hakekatnya, manusia bukanlah satu-satunya ciptaan Allah yang mendiami bumi tatapi bahwa masih terdapat kepentingan lainnya, yaitu untuk didiami oleh seluruh ciptaan Allah lainnya secara bersama-sama. Itulah sebabnya diberikan pula tugas dari Allah kepada manusia untuk juga memelihara dan menjaga Taman Eden itu. Hal inilah yang mendorong kajian penelitian mengenai tafsir terhadap Kejadian 2:15 khususnya terhadap kata kerja mengusahakan dan memelihara Taman Eden sebagai konstruksi pemahaman bagi orang percaya mengenai tanggung jawabnya terhadap lingkungan dan alam sekitar.
MEMBANGUN GENERASI UNGGUL BERDASARKAN DANIEL 6 DI PGPI KOTA SORONG Maria Cheren Manaroinsong; Ricky Donald Montang; Jean Anthoni
EIRENE (JURNAL ILMIAH TEOLOGI) Vol 10 No 2 (2025): Eirene Jurnal Ilmiah Teologi
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian, Universitas Kristen Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56942/y7hc7j49

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji prinsip-prinsip pembentukan karakter dan integritas yang terdapat dalam Daniel pasal 6 serta relevansinya dalam membangun generasi unggul di lingkungan PGPI (Persekutuan Gereja-Gereja Pentakosta Indonesia) Kota Sorong. Latar belakang penelitian ini didasarkan pada kebutuhan gereja akan generasi muda yang tidak hanya memiliki kapasitas rohani, tetapi juga integritas, keteladanan, keberanian untuk berdiri teguh dalam kebenaran serta berdampak di tengah tantangan zaman.Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan eksplanatori dan konfirmatori. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang dibagikan kepada generasi muda dan pemimpin gereja di bawah naungan PGPI Kota Sorong, serta melalui kajian teologis terhadap Daniel 6. Bagian Alkitab ini digunakan sebagai dasar untuk membangun model “generasi unggul” yang mencakup empat indikator utama: keahlian, integritas, ketaatan spiritual, dan hidup yang berdampak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jemaat PGPI Kota Sorong secara umum telah mencerminkan karakter generasi unggul. Dari seluruh indikator yang diuji, ketaatan spiritual muncul sebagai faktor paling dominan dalam membentuk generasi unggul. Selain itu, dari aspek latar belakang, profesi menjadi faktor yang paling berpengaruh dalam mendukung terbentuknya karakter generasi unggul di kalangan jemaat. Melalui penelitian diharapkan gereja tidak hanya menjadi lembaga rohani saja tetapi juga pencetak generasi unggul yang professional dan siap memancarkan kemuliaan Allah di mana saja.