This Author published in this journals
All Journal Vokasi
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Tinjauan Kerusakan Hutan Akibat Pelaksanaan Konstruksi Beton pada Pembangunan Gedung di Pontianak Azza Arena
Vokasi Vol 13 No 1 (2018): Vokasi
Publisher : Politeknik Negeri Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (398.096 KB)

Abstract

Penggunaan beton metoda dalam pelaksanaan pekerjaan konstruksi berpotensi menimbulkan kerusakan hutan atau maraknya penebangan liar menyebabkan luas hutan bekurang dengan cepat, dampak serius adalah pemanasan global. Saat ini isu mengenai pemanasan globa sudah semakin meluas. Banyak pihak menyerukan untuk mencegah pemanasan global dengan berbagai cara, diantaranya adalah usaha pelestarian hutan. Menurut world resource institute, 1997. Indonesia telah kehilangan hutan aslinya sebesar 72%. Pada tahun 1997 – 2000 Indonesia kerusakan hutan mencapai 3,8 juta hektar per tahun. Kerusakan hutan masih tetap menjadi ancaman di Indonesia. Menurut data laju deforestasi (kerusakan hutan) periode 2003-2006 yang dikeluarkan oleh Departemen Kehutanan, laju deforestasi di Indonesia mencapai 1,17 juta hektar pertahun. Ini menjadikan Indonesia merupakan salah satu tingkat kerusakan hutan tertinggi di dunia. Dari data ini menunjukkan betapa pentingnya menjaga hutan yang terus berkurang untuk diambil kayunya. Jika penggunaan beton dimasa depan terus meningkat, pertanyaanya adalah berapa-m2 kah jumlah luas lantai yang akan dibangun dan berapa hektar-kah luas lahan yang akan dirusak. Apakah laju pertumbuhan hutan bisa mengimbangi lajunya penggunaan konstruksi beton, tentunya perlu studi lebih lanjut untuk menjawabnya. Pembangunan menunjukan pelaksanaan metoda beton konvesional berpotensi menimbulkan dampak kerusakan hutan ini dapat dilihat pada luas lantai 61,95 m2 untuk lantai satu dapat merusak hutan akibat dari penebangan untuk kepentingan pembangunan adalah seluas ± 1,2 hektar artinya ± 755 batang pohon yang harus diteban. Kedepan perlu dilakukan studi mengenai aspek ekonomi terhadap metoda pelaksanaan konstruksi beton agar dapat memberikan dorongan kepada masyarakat untuk menerapkan teknologi / metoda yang lebih ramah lingkungan. Pembangunan menunjukan pelaksanaan metoda beton konvesional berpotensi menimbulkan dampak kerusakan hutan, konvesional.
Perbandingan Perancah Kayu Konvesional dengan Perancah Baja Konvesional atau Scaffolding terhadap Kerusakan Hutan Akibat Pelaksanaan Konstruksi Beton Azza Arena; Syafarudin Syafarudin
Vokasi Vol 14 No 1 (2019): Vokasi
Publisher : Politeknik Negeri Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (811.23 KB)

Abstract

Keprihatinan kayu yang sering digunakan sebagai perancah semakin sulit didapat. Hutan sebagai bahan baku kayu semakin berkurang. Penebangan hutan dihadapkan pada permasalah yang semakin hari semakin serius, jika cara pembetonan konvesional terus berlanjut pada pembangunan gedung-gedung bertingkat, dapat dibayangkan dampaknya terhadap kerusakan hutan dari penebangan hutan secara liar dan eksploitasi yang besar-besaran dan tidak terkendali hutan kita menyusut cukup banyak sehingga saat ini sering kita hadapi kelangkaan kayu sebagai bahan bekesting dalam pengerjaan proyek konstruksi di samping masalah-masalah akibat mulai rusaknya hutan seperti banyaknya bencana alam banjir, akan proyek, tanah longsor, perubahan iklim yang ekstrim, dan lainnya. Hingga saat ini berdasarkan hasil penelitian kerusakan hutan akibat pelaksanaan konstruksi beton pada pembangunan gedung di Pontianak menggunakan metoda kayu konvesional berpotensi menimbulkan dampak kerusakan hutan yaitu dapat dilihat pada luas lantai 76,43 m2 untuk lantai satu dapat merusak hutan akibat dari penebangan untuk kepentingan pembangunan adalah seluas ±3 hektar dari ±7.385 batang pohon yang harus ditebang. Dari data ini menunjukkan betapa pentingnya menjaga hutan yang terus berkurang untuk diambil kayunya. Pada pelaksanaan perancah baja konvesional perbandingan tidak berpengaruh pada kerusakan hutan berdasarkan luasan lantai scaffolding berjumlah 616 set. Hasil perbandingan penelitian yang telah dilakukan pada perancah kayu konvesional dan perancah baja konvesional.