Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

ANALISA DESAIN BENDUNG D.I KAWASAN SAWAH LAWEH TARUSAN (3.273 HA) KABUPATEN PESISIR SELATAN PROVINSI SUMATERA BARAT Syofyan. Z; Frizaldi
Jurnal Teknik Sipil Institut Teknologi Padang Vol 4 No 1 (2017): Jurnal Teknik Sipil Institut Teknologi Padang
Publisher : ITP Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (505.474 KB) | DOI: 10.21063/jts.2017.V401.070-78

Abstract

Bendung adalah bangunan melintang sungai yang berfungsi untuk meninggikan muka air agar bisa diambil dan dialirkan ke saluran lewat bangunan pengambilan. Analisa perencanaan bendung dilakukan perhitungan-perhitungan seperti analisa hidrologi, perhitungan hidrolis bendung, perhitungan dimensi bendung dan perhitungan stabilitas bendung. Data-data pendukung seperti peta topografi berskala 1:50.000 dan data curah hujan. Daerah Irigasi Sawah Laweh Tarusan yang secara administratif berlokasi dinagari Barung-barung Balantai Kecamatan XI Koto Tarusan Kabupaten Pesisir Selatan.Berdasarkan kondisi umum daerah irigasi Sawah Laweh Tarusan mempunyai luas areal 3,273 Ha, Daerah Irigasi Sawah Laweh Tarusan menggunakan pompa untuk mengaliri air ke jaringan irigasi yang dibangun sejak tahun 1982. Pada saat ini pompa tidak berfungsi lagi, disebabkan biaya operasi dan perawatannya sangat tinggi sehingga biaya dan hasil yang dicapai tidak seimbang lagi. maka perlu alternatif lain sebagai pengganti pompa yaitu dengan membangun bendung permanen sehingga areal irigasi Sawah Laweh Tarusan bisa diairi dengan sistem grafitasi. Hasil analisa, didapat debit banjir rencana (Q50) = 986,98 m3/dt, dari perhitungan hidroulis bendung didapatkan tinggi mercu 2,25 m, lebar total bendung 75 m, lebar efektif bendung 72,71 m, tinggi muka air banjir diatas mercu bendung 3,5 m, Perhitungan gaya-gaya yang bekerja terhadap tubuh bendung dilakukan kontrol terhadap stabilitasnya, dari hasil perhitungan stabilitas tubuh bendung aman terhadap Geser, Guling, Eksentrisitas dan Daya Dukung Tanah baik kondisi muka air normal maupun kondisi muka air banjir.
KARAKTERISTIK DISTRIBUSI HUJAN PADA STASIUN HUJAN DALAM DAS BATANG ANAI KABUPATEN PADANG PARIAMAN SUMATERA BARAT Syofyan. Z
Jurnal Teknik Sipil Institut Teknologi Padang Vol 1 No 1 (2014): Jurnal Teknik Sipil Institut Teknologi Padang
Publisher : ITP Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1454.238 KB) | DOI: 10.21063/jts.2014.V101.057-66

Abstract

Pada dasarnya hujan dapat saja terjadi disembarang tempat,asalkan terdapat dua faktor yaitu pada masa udara yang lembab, dan terdapat sarana meteoreologi yang dapat mengangkat masa udara tersebut berkondensasi. Hujan terjadi akibat adanya masa udara yang dingin,mencapai suhu bawah titik embunnya dan terdapat inti hidroskopik yang dapat memulai pembentukan molekul air. Apabila masa udara terangkat ke atas dan menjadi dingin karena expansi adiabatic dan mencapai ketinggian yang memungkinkan terjadinya kondensasi, maka akan dapat terbentuk awan. Hujan akan terjadi apabila molekul-molekul air sudah mencapai ukuran lebih 1 mm. Hal ini memerlukan waktu yang cukup untuk tumbuh dari ukuran 1-100 mikron. Daerah Aliran Sungai (DAS) dalam penelitian ini adalah Daerah Aliran Sungai Batang Anai dengan keluasan catchment area 5843,90 km2 yang mengalir pada aliran Sungai Batang Anai dengan empat stasiun hujan, stasiun hujan, stasiun Kasang stasiun Lubuk Napar, stasiun KandangIV ,dan stasiun Paraman Talang.Didapatkan: Tinggi hujan efektif yang terjadi dari analisa data curah hujan stasiun Kasang untuk periode 2 tahun yang terendah adalah 189,15 mm dan untuk periode ulang 100 tahun yang tertinggi adalah 342,58 mm sedang untuk 1 jam pertahunnya adalah minimum 16,05 mm dam maksimum 167,72 mm. Tinggi hujan efektif yang terjadi dari analisa data curah hujan stasiun Lubuk Napar untuk periode ulang 2 Tahun yang terendah 146,74 mm dan untuk periode ulang 100 tahun yang tertinggi adalah 324,5 4 mm sedangkan untuk 1 jam pertahunnya adalah minimum 20,24 mm dan maksimum 168,76 mm. Tinggi Hujan Efektif yang terjadi dari analisa data curah hujan stasiun Kandang IV untuk periode ulang 2 tahun yang terendah adalah 138,74 mm dan untuk periode ulang 100 tahun yang tertinggi adalah 291,04 mm sedangkan untuk 1 jam pertahunnya adalah minimum 9.00 mm dan maksimum 140,92 mm. Tinggi Hujan Efektif yang terjadi dari analisa data curah hujan statsiun Paraman Talang untuk periode ulang 2 tahun yang terendah adalah …mm dan untuk periode ulang 100 tahun yang tertinggi adalah 133,59 mm sedangkan unutk 1 jam pertahunnya adalah minimum 8,28 mm dan maksimum 89,08 mm. Hasil analisa Curah Hujan dari masing masing stasiun terhadap curah hujan efektifnya pada DAS sungai Batang Anai yang ditinjaunya hanya dalam 1- 7 jam yang akan membedakan minimal dan maksimal.
ANALISA PENGENDALIAN BANJIR PADA DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) BATU BUSUK (BATANG KURANJI) KOTA PADANG Syofyan. Z
Jurnal Teknik Sipil Institut Teknologi Padang Vol 3 No 2 (2016): Jurnal Teknik Sipil Institut Teknologi Padang
Publisher : ITP Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (638.92 KB) | DOI: 10.21063/jts.2016.V302.060-71

Abstract

Daerah Aliran Sungai (DAS) Batu Busuk merupakan bagian dari Satuan Wilayah Sungai (SWS) Batang Kuranji yang secara administratif berada di wilayah Kota Padang Provinsi Sumatera Barat.Daerah Aliran Sungai (DAS) Batu Busuk bagian hulu merupakan daerah pegunungan dengan topografi bergelombang dan membentuk cekungan dibeberapa tempat yang berfungsi sebagai penampung air. Pada bagian hilir daerah aliran sungai (DAS) Batu Busuk merupakan daerah yang relatif datar dan sebagian besar merupakan wilayah pemukiman yang padat penduduk.Di kotaPadang, banjir terjadi menyebabkan genangan terjadi di beberapa titik. Hal ini terjadi karena daerah aliran sungai (DAS) Batu Busuk tidak mampu lagi bekerja sebagaimana mestinya untuk menampung debit banjir. Pendapat ini diambil setelah dilakukan beberapa perhitungan. Hal yang pada awalnya dilakukan adalah mengukur curah hujan yang terjadi pada daerah aliran sungai (DAS) Batu Busuk kemudian dari hasil pengukuran curah hujan itu didapatkan debit banjir rencana. Debit banjir ini akan dibandingkan dengan kemampuan daerah aliran sungai (DAS) Batu Busuk yang diambil satu titik pengamatan yang ekstrim pada sta 4+525 didapatkan ruas tersebut tidak mampu menampung debit banjir. Ada beberapa penyebab terjadinya banjir dan salah satunya adalah penampang sungai eksisting yang terlalu kecil.Selain itu, langkah yang dapat diambil adalah normalisasi.