Salah satu bidang holtikultura yang sangat menjanjikan adalah budidaya cabai rawit karena menjadi bahan masakan favorit yang digunakan oleh masyarakat. Banyak petani Indonesia, khususnya di Provinsi Riau membudidayakan cabai rawit. Akan tetapi pemilihan bibit masih dilakukan dengan cara manual sehingga membuat hasil panen yang tidak sesuai dengan harapan. Untuk itu, dibutuhkan sebuah solusi dalam pemilihan bibit cabai rawit. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah Technique for Order Performance by Similarity to Ideal Solution (TOPSIS) yaitu metode yang mempertimbangkan jarak terhadap solusi ideal positif dan jarak terhadap solusi ideal positif. Kreteria yang digunakan dalam metode ini adalah Umur Benih, Berat Cabai, Banyak Ranting, Ukuran Cabai, Waktu Panen, Daya Kecambah, Tingkat Rasa, Curah Hujan, dan Jarak Tanam. Alternatif yang digunakan untuk penelitian ini yaitu Cabai Rawit F1 Hibrida “Raga 2”, Cabai Rawit Hibrida “Bhaskara”, Cabai Rawit F1 Hibrida “Sonar”, Cabai Rawit Putih Raputi, dan Cabai Rawit Putih Sorande. Setelah dilakukan penghitungan dengan metode Technique for Order Performance by Similarity to Ideal Solution (TOPSIS), sehingga didapatlah rangking cabai rawit terbaik yaitu Cabai Rawit F1 Hibrida “Raga 2” dengan nilai preferensi 0,766. Dengan adanya penelitian ini dapat disimpulkan bahwa metode TOPSIS dapat diterapkan dalam pemilihan bibit cabai rawit berdasarkan kriteria yang digunakan.