Industri pertambangan batubara merupakan salah satu sektor dengan tingkat risiko keselamatan kerja tertinggi, terutama pada aktivitas pengoperasian dan interaksi alat-alat berat. Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menunjukkan bahwa kecelakaan tambang berakibat mati di Indonesia masih didominasi oleh kegagalan pengendalian kritis yang berulang, bukan semata-mata ketiadaan pengendalian. Pendekatan konvensional yang berbasis inspeksi aktivitas, seperti Inspeksi Observasi Terencana, cenderung memeriksa keberadaan kontrol secara administratif tanpa menilai apakah kontrol tersebut benar-benar berfungsi efektif. Artikel ini bertujuan mengkaji secara konseptual kerangka Critical Control Management (CCM) yang dikembangkan oleh International Council on Mining and Metals sebagai pendekatan alternatif dalam pengelolaan risiko fatal. Metode yang digunakan adalah tinjauan literatur konseptual terhadap sumber-sumber primer berupa panduan ICMM, literatur keselamatan berbasis barrier, serta dokumen pemerintah Indonesia. Hasil tinjauan menunjukkan bahwa CCM menawarkan proses sistematis yang meliputi identifikasi Material Unwanted Event, pemetaan bow-tie, seleksi critical control, penetapan performance criteria, dan mekanisme verifikasi lapangan. Kerangka ini mengintegrasikan teori Swiss Cheese Model, atribut performa barrier, serta konsep degradation factor sehingga mampu menilai keandalan kontrol secara multidimensi. Artikel ini menyimpulkan bahwa CCM memiliki relevansi tinggi untuk diterapkan pada konteks pertambangan batubara Indonesia, khususnya dalam menjembatani kesenjangan antara pendekatan berbasis aktivitas yang dominan saat ini dengan kebutuhan akan verifikasi keandalan kontrol kritis terhadap risiko fatal.