Fatigue menjadi faktor penyumbang penting dalam isu-isu keselamatan seperti kesalahan dan kecelakaan transportasi. Sebagai bagian dari transportasi darat, keselamatan juga menjadi isu dalam industri kereta api. Dalam kurun waktu 6 tahun, terdapat setidaknya 700 peristiwa luar biasa hebat (PLH) di industri kereta api di Indonesia, termasuk tumburan antarkereta api. Dari hasil investigasi Komite Nasional Keselamatan Transportasi juga ditemukan bahwa beberapa kasus tumburan kereta api terjadi akibat adanya pelanggaran akibat fatigue. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat fatigue serta faktor-faktor yang berhubungan dengan keluhan fatigue pada masinis. Penelitian ini dilaksanakan pada Januari – Juni 2021 di PT. Kereta Api Indonesia Daerah Operasional 3 Cirebon sebagai salah satu daerah operasional yang strategis dan menjadi tempat pergantian masinis. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain studi cross sectional. Sampel pada penelitian ini adalah 144 masinis kereta api penumpang dan barang. Data kemudian dianalisis dengan uji statistik chi square. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa 45,8% responden mengalami fatigue ringan dan 54,2% responden mengalami fatigue sedang. Dari penelitian ini juga diketahui ada hubungan antara IMT (OR1=2,454; OR2=4,723), waktu tidur (OR= 2,120) dan lingkungan kerja (OR= 3,495) dengan keluhan fatigue pada masinis. Untuk itu, perusahaan perlu mengoptimalkan promosi kesehatan bagi masinis dengan status gizi tidak normal, memastikan kecukupan waktu istirahat masinis serta melakukan instalasi pendingin ruangan pada kabin untuk mengurangi suhu dan kebisingan yang berdampak pada fatigue.