Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

Effect of Thermal Stress on Urine Specific Gravity, Blood Pressure, and Heartbeat Among Underground Miners Puspita, Nurul; Ramdhan, Doni Hikmat; Ulfa, Nurul Farekha; Indriani, Asiyah
KEMAS: Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol 13, No 2 (2017)
Publisher : Department of Public Health, Faculty of Sport Science, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/kemas.v13i2.7896

Abstract

Underground miners highly exposed to thermal stress hazard. Closed condition, heavy work load, and limited ventilation are the common cause of high environment temperature in underground mining. Thermal stress can influence metabolism and physiological function of human body. The objective of these study is to investigate the effect of thermal stress to physiological (bodyweight, blood pressure, urine specific gravity, and heartbeat) of underground miners. This study is observational cross sectional study with 42 underground miners. Thermal stress level is 147.14 Wm2 and categorized as unrestricted zone. These study showed that urine specific gravity, blood pressure, and heart beat on underground miners were change after shift work, while the body weight changes were not observed. The relation among TWL with blood pressure, urine specific gravity, and heartbeat is low category.
Urban Air Pollution and Testosterone Plasma Level of Traffic Policemen in Jakarta Ramdhan, Doni Hikmat; Modjo, Robiana; Rachmawati, Sutrani; Kurniasari, Fitri
KEMAS: Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol 15, No 3 (2020)
Publisher : Department of Public Health, Faculty of Sport Science, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/kemas.v15i3.20719

Abstract

This study aims to investigate the concentration of traffic air pollution and the level of testosterone, fasting glucose, cortisol, and lipid profile among traffic police in Jakarta. Testosterone plasma and blood biochemicals in traffic police and the police officer were analyzed using ELISA kit. Air quality data from the Regional Environmental Agency (BPLHD) Jakarta 2012 were used for the characterization of exposure. The analysis used a t-test and linear regression test to show the relationship levels of pollutants exposure with the effects of reproductive dysfunction (p<0.05). The average plasma levels of testosterone in the traffic police 543.6 ± 170.5 mg/dL, which is higher than the police at the office 456.2 ± 133.2 mg/dL. The average plasma cholesterol levels of police at the office is 212.3 ± 42.0 mg/dL, which is higher than the traffic police 200.0 ± 40.2 mg/dL. On average fasting glucose levels police at the office is 90.0 ± 13.1 mg/dL, while traffic police 84.2 ± 5.9 mg/dL. The testosterone levels of traffic police are higher than the official police, and traffic police exposed to pollutants have lower fasting glucose levels than police officers in offices. Keywords: PM, plasma testosterone, reproductive function.
Pajanan Personal PM2.5 dan Perubahan Biokimia Darah pada Petugas Penyapu Jalan Ramdhan, Doni Hikmat; Fajriyah, Nurul; Yuniarti, Astri
Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia Vol 19, No 2 (2020): Oktober 2020
Publisher : Master Program of Environmental Health, Faculty of Public Health, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkli.19.2.89-94

Abstract

Latar belakang: Pajanan partikulatjalan raya akibat hasil pembakaran bahan bakar kendaraan dapat menyebabkan gangguan kesehatan yang dimulai dari perubahan kadar biokimia darah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan biokimia darah pada sampel terpajan partikulatdan tidak terpajan partikulat..Metode: Penelitian ini bersifat deskriptif analitik dengan desain studi cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah penyapu jalan raya yang bekerja membersihkan sampah dan kotoran di jalan raya. Melalui teknik purposive sampling didapatkan51 sampel yang diambil darahnya untuk diuji oleh laboratorium dan melihat kadar glukosa, insulin, hs-CRP, MDA dan TNF-α. Data dianalisis dengan uji t independen dan uji kai kuadrat.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan kadar glukosa, insulin, MDA dan TNF-α pada kelompok terpajan partikulatdan kelompok tidak terpajan partikulat(p=0,025; p=0,001; p=0,006; p=0,039).  Namun, tidak terdapat perbedaan kadar hs-CRP pada kelompok terpajan partikulatdan kelompok tidak terpajan partikulat(p=0,169).Simpulan: Disimpulkan bahwa pajanan partikulat halus atau ukuran diameter kurang 2.5 μm dapat berpengaruh terhadap kadar biokimia darah pada pekerja yang terpajan secara terus menerus, dilihat dari terdapat perbedaan pada glukosa, insulin, MDA dan TNF-α pada kedua kelompok sampel. ABSTRACTTitle: PM2.5 Personal Exposure and Blood Biochemical Changes among Road SweeperBackground: Highway particulate exposure due to the burning of vehicle fuel can cause health problems that begin with changes in blood biochemical levels. This study aims to determine whether there are differences in the biochemical blood samples exposed to PM2.5 and unexposed to PM2.5.Methods: This study is a descriptive-analytic with a cross-sectional design study. The population is the road sweeper who works cleaning trash and dirt on the highway. Through a purposive sampling technique, 51 blood samples were taken to be tested by the laboratory and looked at glucose, insulin, hs-CRP, MDA and TNF-α levels. Data were analyzed by independent t-test and chi-square test.Result: there were differences in the levels of glucose, insulin, MDA and TNF-α between exposed of PM2.5 and unexposed groups of PM2.5 (p = 0.025, p = 0.001, p = 0.006, p = 0.039). However, there was no difference in the levels of hs-CRP in the PM2.5 exposed group and the PM2.5 unexposed group (p = 0.169).Conclusion: The conclusion was that exposure to fine particulate or PM2.5 can affect the blood biochemical level in workers who exposed continuously, seen from differences in glucose, insulin, MDA and TNF-α in both groups of samples.
Studi Awal Pajanan Personal Active Pharmaceutical Ingredients (API) Prednisolone pada Pekerja PT. XY MIRZA DEFRIANDI; DONI HIKMAT RAMDHAN
Afiasi : Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol. 7 No. 1 (2022): Afiasi
Publisher : Universitas Wiralodra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31943/afiasi.v7i1.197

Abstract

Abstrak Sektor industri farmasi merupakan bidang industri penting yang menghasilkan obat-obatan untuk memenuhi kebutuhan pasien serta selalu memastikan keselamatan pasien dalam mengkonsumsi produknya. Akan tetapi pajanan terhadap API (Active Pharmaceutical Ingredients) pada pekerja masih sangat sedikit dilakukan penelitian dan dapat memberikan dampak Kesehatan pada pekerja. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui apakah pekerja yang terlibat dalam proses pembuatan tablet obat Prednisolone yang termasuk OHC (Occupational Hazard Category) 4 berpotensi terpajan bahan aktif farmasi dan melakukan mengumpulkan data pajanan pekerjaan di fasilitas produksi obat sediaan padat. Penelitian ini dilakukan dengan mengukur pajanan debu pada pekerja dibagian MPF (Multi Product Facility), yang dimulai dari proses penimbangan, pengayakan, granulasi, cetak tablet dan pengemasan primer. Banyaknya sampel yang diambil berdasarkan jumlah pekerja pada masing-masing proses masing-masing 3 sampel. Total 15 sampel diuji oleh laboratorium eksternal yang selanjutnya hasil uji dibandingkan dengan OEL (Occupational Exposure Limit) dari Prednisolone yaitu sebesar 9 µg/m3. Hasil Penelitian menunjukkan pajanan API di lokasi produksi ini bervariasi mulai 0.89 µg/m3 sampai 182.81 µg/m3. Pekerja di bagian proses penimbangan beresiko sangat tinggi terpajan serta pekerja di bagian pengayakan, granulasi dan cetak tablet. Disimpulkan bahwa pekerja di bagian pembuatan obat tablet pada bagian MPF beresiko terpajan bahan aktif farmasi yang disebabkan karena beberapa tahapan proses dilakukan secara manual dan sistem terbuka, sehingga perlu dilakukan tindakan pengendalian dan perbaikan secara komprehensif untuk melindungi pekerja. Kata kunci: Active Pharmaceutical Ingredients (API), Occupational Hazard Category (OHC), Occupational Exposure Limit (OEL), Prednisololone.
HUBUNGAN TEKANAN PANAS DENGAN TEKANAN DARAH PEKERJA SEKTOR KONSTRUKSI Siti Nurmala Dewi; Doni Hikmat Ramdhan
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 6 No. 1 (2022): April 2022
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v6i1.3172

Abstract

Indonesia telah diprediksi oleh Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika memiliki tren peningkatan suhu sekitar 0.03 °C setiap tahunnya sehingga diperkirakan akan meningkatkan risiko penyakit terkait panas di Indonesia. Peningkatan suhu diprediksi akan menimbulkan kerugian ekonomi karena penurunan kesehatan seperti meningkatnya tekanan darah atau penyakit terkait panas lainnya dan peningkatan angka kematian. Tujuan penelitian ini mengetahui hubungan tekanan panas terhadap tekanan darah pekerja sektor konstruksi area indoor dan outdoor proyek Depo Light Rail Transit (LRT) Jabodebek. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif analitik dengan desain crosssectional dan menggunakan analisa data univariat dan bivariat. Jumlah sampel dalam penelitian ini dihitung menggunakan rumus uji hipotesis proporsi dua populasi dan diambil dengan metode pengambilan sampel secara acak sederhana berjumlah 185 pekerja dengan rincian 126 area outdoor dan 59 area indoor. Variabel dalam penelitian ini adalah tekanan panas dan tekanan darah. Tekanan panas diukur menggunakan alat Thermal Environment Monitor QuestTemp 34o dan anemometer. Sedangkan tekanan darah setelah bekerja diukur menggunakan Spygmomanometer (Merk Omron tipe HEM-7130). Hasil penelitian didapatkan bahwa dari 126 pekerja area outdoor, sebanyak 95 orang (75,4%) masuk kategori prahipertensi dan hipertensi pada tekanan darah sistoliknya dan sebanyak 56 orang (44,4%) masuk kategori prahipertensi dan hipertensi pada tekanan darah diastoliknya. Dari 126 pekerja area outdoor, sebanyak 123 orang (97,6%) mengalami tekanan panas diatas Nilai Ambang Batas. Hasil uji statistik menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara tekanan panas dengan tekanna darah dengan p value < 0,05. Untuk mencegah peningkatan tekanan darah, perusahaan disarankan segera melakukan pengendalian lingkungan kerja agar risiko penyakit terkait panas dapat diantisipasi. Kata kunci: Konstruksi, Suhu Tubuh, Tekanan Darah, Tekanan Panas
ANALISIS HUBUNGAN INDEKS TEKANAN PANAS DENGAN TINGKAT KELELAHAN KERJA DI PROYEK KONSTRUKSI LIGHT RAIL TRANSIT (LRT) JABODEBEK DEPO JATIMULYA Raymond Luthfi Hartanindya; Doni Hikmat Ramdhan
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 6 No. 1 (2022): April 2022
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v6i1.3629

Abstract

Tekanan panas juga diartikan sebagai batasan kemampuan penerimaan panas yang diterima pekerja dari kontribusi kombinasi metabolisme tubuh akibat melakukan pekerjaan dan faktor lingkungan. Kelelahan menunjukkan kondisi yang berbeda beda dari setiap individu, tetapi semuanya bermuara pada kehilangan efisiensi dan penurunan kapasitas kerja serta ketahanan tubuh. Pengaruh tekanan panas terhadap kelelahan telah banyak diteliti namun belum banyak yang meneliti hal tersebut di sektor konstruksi pembangunan prasarana. Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara indeks tekanan panas terhadap kelelahan kerja pekerja. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yang menggunakan metode potong lintang. Sampel pada penelitian ini adalah seluruh pekerja yang berada di proyek yang diambil datanya menggunakan kuesioner dan suhu lingkungan yang diukur menggunakan thermal environmental monitor quest. Hasil dari penelitian ini menjelaskan bahwa terdapat hubungan signifikan antara indeks tekanan panas dan kelelahan yang dialami pekerja. Perlu adanya pengendalian dalam bentuk rekayasa teknik, pengaturan shift kerja, pengadaan program kesehatan dan pemakaian coverall berbahan cotton combed yang berfungsi untuk mengurangi pajanan panas yang dialami pekerja.
Pengaruh Kuantitas dan Kualitas Tidur Terhadap Faktor Kelelahan dan Kewaspadaan pada Pekerja Lepas Pantai PT. X Kharisma Muffti Pratama; Doni Hikmat Ramdhan
Journals of Ners Community Vol 13 No 1 (2023): Journals of Ners Community
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55129/jnerscommunity.v13i1.2495

Abstract

Beberapa kecelakaan besar di offshore disebabkan oleh adanya kurangnya kewaspadaan dan kejadian kelelahan yang dialami oleh pekerja. Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran kuantitas dan kualitas tidur, hubungan sleep hygiene dengan kualitas dan kuantitas tidur, dan melihat hubungan antara kualitas tidur dengan kewaspadaan dan kelelahan yang dialami pekerja offshore PT. X. Penelitian dilakukan di offshore PT. X, dengan responden kuesioner sebanyak 84 pekerja dan pemakai alat aktigrafi sebanyak 22 pekerja. Data aktigrafi diambil selama 14 hari kerja, dibedakan menjadi tiga kelompok shift dan pengaturan temperatur ruangan. Dari PSQI, 63,1% responden memiliki kualitas tidur yang buruk dengan durasi tidur rata-rata terendah pada data aktigrafi diperoleh pada shift malam (300 menit), sedangkan durasi tidur tertinggi diperoleh pekerja non shift (358 menit). Data aktigrafi menunjukkan durasi tidur rata-rata pekerja PT. X menggunakan HVAC A (26,9℃) lebih panjang daripada menggunakan HVAC B (23,4℃). 59,5% responden mengalami normal fatigue dan 40,5% responden mengalami mild fatigue. Hampir seluruh responden memiliki sleep hygiene yang baik (95,2%) dan tidak ada hubungan antara sleep hygiene dengan kualitas tidur. Juga tidak terdapat hubungan antara kualitas tidur dan kewaspadaan pekerja (p-value : 0,466). Untuk kelelahan diperoleh hasil bahwa tidak terdapat hubungan antara kualitas tidur dengan kondisi kelelahan pekerja (p-value : 0,062).
Environmental Factors that are at Risk of Heat Stress Exposure to Fishermen in Indonesia Putri Ayuni Alayyannur; Doni Hikmat Ramdhan; Mila Tejamaya
The Indonesian Journal of Occupational Safety and Health Vol. 12 No. 1SI (2023): Special Issue of The Indonesian Journal of Occupational Safety and Health in
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (381.977 KB) | DOI: 10.20473/ijosh.v12i1SI.2023.20-24

Abstract

Introduction: Workers face pressure that comes from the work environment, one of which is heat pressure. Exposure to heat, workload, rehydration, and rest period are several factors that can cause heat stress to workers. People who are uncovered to heat are much more likely to experience heat stress. Related to this, current research was carried out aiming to analyze environmental factors that are at risk of heat stress exposure to fishermen in Indonesia. Methods: This study was conducted through a cross sectional design in the coastal regions in Surabaya. Accidental sampling technique was applied, obtaining 42 respondents. In this case, the variables included are humidity, temperature, access to clean water, risk of heat stress, and dehydration, while the data analysis techniques used are the logistic regression and pearson correlation. Results: The results showed that the significant environmental factor is access to clean water, with a value of 0.009 so that the p-value is less than 0.05. Furthermore, the relationship between heat stress and dehydration is 27.1%. Conclusion: Therefore, this study concludes that only access to clean water is significantly related to the risk of heat stress. In addition, the relationship between heat stress and the incidence of dehydration is weak.
PENGARUH KUANTITAS DAN KUALITAS TIDUR TERHADAP KELELAHAN DAN KEWASPADAAN PEKERJA LEPAS PANTAI PT. X Kharisma Muffti Pratama; Doni Hikmat Ramdhan
Journals of Ners Community Vol 13 No 1 (2023): Journals of Ners Community
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55129/jnerscommunity.v13i1.2699

Abstract

Beberapa kecelakaan besar di offshore disebabkan oleh adanya kurangnya kewaspadaan dan kejadian kelelahan yang dialami oleh pekerja. Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran kuantitas dan kualitas tidur, hubungan sleep hygiene dengan kualitas dan kuantitas tidur, dan melihat hubungan antara kualitas tidur dengan kewaspadaan dan kelelahan yang dialami pekerja offshore PT. X. Penelitian dilakukan di offshore PT. X, dengan responden kuesioner sebanyak 84 pekerja dan pemakai alat aktigrafi sebanyak 22 pekerja. Data aktigrafi diambil selama 14 hari kerja, dibedakan menjadi tiga kelompok shift dan pengaturan temperatur ruangan. Dari PSQI, 63,1% responden memiliki kualitas tidur yang buruk dengan durasi tidur rata-rata terendah pada data aktigrafi diperoleh pada shift malam (300 menit), sedangkan durasi tidur tertinggi diperoleh pekerja non shift (358 menit). Data aktigrafi menunjukkan durasi tidur rata-rata pekerja PT. X menggunakan HVAC A (26,9℃) lebih panjang daripada menggunakan HVAC B (23,4℃). 59,5% responden mengalami normal fatigue dan 40,5% responden mengalami mild fatigue. Hampir seluruh responden memiliki sleep hygiene yang baik (95,2%) dan tidak ada hubungan antara sleep hygiene dengan kualitas tidur. Juga tidak terdapat hubungan antara kualitas tidur dan kewaspadaan pekerja (p-value : 0,466). Untuk kelelahan diperoleh hasil bahwa tidak terdapat hubungan antara kualitas tidur dengan kondisi kelelahan pekerja (p-value : 0,062).
Kajian Tentang Keahlian dan Kesiapan Auditor SMK3 Dalam Melakukan Audit Faktor Bahaya dan Risiko Psikososial Pada ISO 45001:2018 Dimas Angga Kharisma; Doni Hikmat Ramdhan
Pro Health Jurnal Ilmiah Kesehatan Vol. 1 No. 2 (2019): Pro Health Jurnal Ilmiah Kesehatan, Juli 2019
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (869.936 KB) | DOI: 10.35473/pro heallth.v1i2.248

Abstract

Psychosocial hazards and risks are recognized as a challenge for external auditors when auditing an Occupational Health and Safety Management System (SMK3) in an organization. The voluntary standard ISO 45001: 2018 published in March 2018 then requires explicitly the organization to identify psychosocial hazards. Audit is the organization's main tool for implementing SMK3 in measuring performance. So that this requires auditors to have expertise and readiness to fulfill the requirements of the ISO 45001: 2018. This study aims to examine the auditor's expertise in conducting psychosocial hazard audits in ISO 45001 SMK3 audits. This research is a descriptive study with cross sectional method, carried out by in-depth interviews with 7 professional auditors who actively conduct SMK3 audits and are IRCA certified auditors. The variables seen are expertise in identifying issues, expertise in conducting investigations when auditing, educational background, work, training, audit experience. Research shows that only only 14% have expertise and are ready for psychosocial auditing. The causes of unfulfillment of expertise and readiness are caused by the auditor's understanding of psychosocial hazards which causes weak expertise in identifying issues and investigations through document searches, records, observation and interviews, educational background, work and minimal training and training related to hazards and psychosocial risks , the need for extra time in investigating psychosocial hazards and risks, openness of the auditee, and the absence of specific methods or tools in conducting psychosocial audits in SMK3 audits.