Muhammad Arbani
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Sistem Sanksi Dalam Pelanggaran Kumulatif Pelaksanaan Jabatan Notaris Dan Eksekusi Sanksi Yang Bersifat Kondemnator (Studi Kasus Putusan Majelis Pengawas Wilayah Notaris Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 09/Pts/Mj.PWN.DIY/XI/2018) Muhammad Arbani
Indonesian Notary Vol 2, No 4 (2020): Indonesian Notary
Publisher : Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (409.531 KB)

Abstract

Sistem isanksi idalam ipengawasan iterhadap ipelaksanaan ijabatan inotaris iyang idiatur idalam iUndang-Undang iJabatan iNotaris idan iperilaku inotaris iyang idiatur idalam iKode iEtik iNotaris, ididasarkan ikepada ijenis isanksi iyang imenjadi ikewenangan ipejabat iyang iberwenang imenjatuhkan isanksi idan ijenis isanksi iberdasarkan ijenis ipelanggaran inorma ihukum iyang idirumuskan idalam ipasal-pasal iUndang-Undang iJabatan iNotaris. iSanksi ijabatan iyang ibersifat ikumulatif itidak idikenal idalam iUndang-Undang iJabatan iNotaris. i idan ieksekusi isanksi iteguran itertulis idilakukan ioleh iKepala iKantor iWilayah iKementerian iHukum idan iHAM iRI isedangkan ieksekus ijenis isanksi ipemberhentian isementara iatau ipemberhentian idengan itidak ihormat idilakukan ioleh iMenteri. iAda itumpang itindih ipengaturan ijenis isanksi idan ilembaga iyang iberwenang imenjatuhkan isanksi iterhadap ipelanggaran iKode iEtik iNotaris iyaitu iDewan iKehormatan iNotaris iyang iberwenang imenjatuhkan isanksi iatas ipelanggaran ikode ietik inotaris iyang ibersifat iinternal i(organisatoris) isedangkan iMajelis iPengawas iNotaris iberwenang imenjatuhkan isanksi ijabatan iterhadap ipelanggaran iKode iEtik iNotaris.Penelitian iini idilakukan i iuntuk imenjawab imasalah ijenis isanksi iyang ibersifat ikumulatif idan ieksekui isanksi iyang ibersfat kondemnator? iDengan imenggunakan imetode ipenelitian inormatif, imelalui ipengaturan inormative itentang isistem isanksi iyang idiatur idalam iUndang-Undang iJabatan iNotaris idan iperaturan ipelaksanaanya, iditemukan iadanya itumpng itindih i(overlapping) ijensi isanksi idan ilembaga iyang iberwenang imenjatuhkan isanksi, idan itidak iadanya iotonomi iMajelis iPengawas iNotaris iyang iseharusnya imandiri idan iimparsialitas idengan iikut icampur itangannya ipemerintah idalam ieksekusi isanksi.Kata iKunci: ijenis isanksi, ikumulatif idan ieksekusi
Reconstruction of Collusion and Nepotism in Corruption Policy Ali Mukartono; Ahmad Dwi Nuryanto; Muhammad Arbani; Mohammed AlHadi Ibrahim Bosha Ahmed
Jurnal Justice Dialectical Vol 3 No 2 (2025): Journal of Justice Dialectical
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Adhyaksa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70720/jjd.v3i2.95

Abstract

The ineffectiveness of the criminal system in addressing collusion and nepotism in Indonesia stem form from normative inequality, multiple interpretations of the law, and a repressive approach that does not address the complexity of power crimes. This research aims to reconstruct the national legal system to combat the lack of norms and weak regulations related to collusion and nepotism as an operational criminal offense. It employs a normative approach with a statute analysis and a comparative study of the United States legal system to enhance normative recommendations. This research shows, first, that there are fundamental differences in legal policies regarding the criminalisation of collusion and nepotism. The United States addresses these issues implicitly through various criminal statutes, while Indonesia integrates them into its anti-corruption regime as a historical response to the abuse of power. Second, normative imbalances in Indonesia, such as the non-operational formulation of the crime of collusion and limited sanctions against nepotism, have led to weak enforcement and created loopholes for the abuse of authority. Therefore, third, it is imperative to reconstruct the law to encompass the aspects of substance, structure, and legal culture, thereby strengthening the effectiveness of criminalisation and addressing collusion and nepotism.