Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Pelaksanaan Program Pesantren Ahad sebagai Sarana Dakwah dalam Meningkatkan Pemahaman Keislaman Mualaf Irma Ruswatin Mandaka; Nunung Nurhasanah
JOURNAL OF ISLAMIC SOCIAL SCIENCE AND COMMUNICATION (JISSC) DIKSI Vol. 1 No. 01 (2022): JISSC-DIKSI Februari 2022
Publisher : Prodi KPI STAI Persis Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (209.694 KB) | DOI: 10.54801/jisscdiksi.v1i01.66

Abstract

Fenomena peningkatan jumlah mualaf, membawa persoalan tersendiri bagi mereka yang berkecimpung di arena dakwah ini. Untuk membina mereka diperlukan  sebuah sarana yang tepat. Yayasan Mualaf Center Indonesia Regional Jawa Barat, telah menyelenggarakan sebuah  program yang bernama Pesantren Ahad Mualaf Center Bandung (PA-MCB), sebagai jawaban atas kebutuhan sarana tersebut. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana proses pelaksanaan program Pesantren Ahad MCB berlangsung. Bagaimana program ini berperan  dalam meningkatkan pemahaman keislaman para mualaf binaannya. Serta bagaimana program ini berfungsi sebagai sarana dakwah dari Yayasan Mualaf Center Indonesia Regional Jawa Barat dalam meningkatkan pemahaman keislaman mualaf. Pendekatan penelitian dilakukan secara kualitatif dengan menggunakan kerangka berpikir berdasarkan  teori Konvergen sebagai gabungan teori nativisme dan empirisme dari William Stren. Dimana mualaf adalah variable intern yang perubahan pemahaman dan perilaku keislamannya bersumber dari dirinya (nativisme) dan Program Pesantren Ahad MCB adalah variable eksternal (empirisme) yang menjadi sarana lingkungan tempat mualaf meningkatkan pemahaman dan merubah  pola perlaku dan kepribadian menjadi islami. Data yang diperoleh menunjukan Pelaksanaan program PA-MCB diminati oleh para mualaf. Demikian juga sebagai sarana dan faktor empiris, PA_MCB cukup efektif dalam meingkatkan pemahaman dan merubah pola kepribadian dan perilaku mualaf menjadi lebih islami.Keberadaan sarana dakwah dalam bentuk Pesantren Ahad MCB ini sangat dibutuhkan para mualaf. Namun untuk k eberlangsungan sarana dakwah ini sangat diperlukan kepedulian dan dukungan baik moril maupun materil dari kaum muslimin dan pemerintah
Qaulan Sadida, Qaulan Ma’rufa, Qaulan Baligha, Qaulan Maysura, Qaulan Layyina Dan Qaulan Karima Itu Sebagai Landasan Etika Komunikasi Dalam Dakwah Najhan Dzulhusna; Nunung Nurhasanah; Yuda Nur Suherman
JOURNAL OF ISLAMIC SOCIAL SCIENCE AND COMMUNICATION (JISSC) DIKSI Vol. 1 No. 02 (2022): JISSC-DIKSI Agustus 2022
Publisher : Prodi KPI STAI Persis Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (261.63 KB) | DOI: 10.54801/jisscdiksi.v1i02.114

Abstract

Pendekatan semantik frase qaulan sadida, qaulan ma’rufa, qaulan baligha, qaulan maysura, qaulan layyina dan qaulan karima sebagai landasan etika komunikasi dalam berdakwah. Dakwah merupakan suatu kegiatan yang tidak bisa dipisahkan lagi bagi setiap muslim, tapi yang menjadi permasalahannya tidak setiap muslim mengetahui cara atau metode berdakwah agar apa yang disampaikannya menyentuh hati sang pendengar dan sesuai dengan karakteristik atau social culture. Dan untuk mewujudkan hal itu maka perlu mengetahui etika komunikasi yang terdapat dalam Al-Qur’an untuk menjadi landasan berdakwah. Penelitian ini bertujuan untuk menggali mengeni makna dari frase qaulan sadida, qaulan ma’rufa, qaulan baligha, qaulan maysura, qaulan layyina dan qaulan karima sebagai etika komunikasi untuk berdakwah, Sehingga bisa menjadi metode atau cara berdakwah. Mencari makna dari frase qaulan sadida, qaulan ma’rufa, qaulan baligha, qaulan maysura, qaulan layyina dan qaulan karima penelitian ini ditunjang dengan memakai teori semantik yang didalamnya terdapat 3 unsur yaitu koseptual,komponensial serta oprasional yang terdapat signifie and signifiant selain dari itu mengambil penafsiran dari para ulama. Penelitian ini memakai deskipsi kualitatif yang lebih terkhusus yaitu library research dengan mencari sumber dan referensi yang berkaitan serta kitab-kitab tafsier. Dalam penelitian ini ditemukan bahwa makna frase qaulan sadida, qaulan ma’rufa, qaulan baligha, qaulan maysura, qaulan layyina dan qaulan karima mempunyai karakteristiknya masing-masing sehingga bagi orang yang berdakwah bisa menyesuaikan antara karakteristik komunikan atau mad’u dengan 6 qaulan tersebut dan pada akhirnya pesan yang diberikan akan tersampikan secara baik sehingga akan terbangun relevansi pemahaman dan keharmonisan antara keduanya, sehingga pesan dari dakwah bisa sesuai dengan karakteristik serta social cultural yang pada akhirnya dakwah bisa berhasil.
Pelaksanaan Program Pesantren Ahad sebagai Sarana Dakwah dalam Meningkatkan Pemahaman Keislaman Mualaf Irma Ruswatin Mandaka; Nunung Nurhasanah
JOURNAL OF ISLAMIC SOCIAL SCIENCE AND COMMUNICATION (JISSC) DIKSI Vol. 1 No. 01 (2022): JISSC-DIKSI Februari 2022
Publisher : Prodi KPI IAI Persis Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (209.694 KB) | DOI: 10.54801/jisscdiksi.v1i01.66

Abstract

Fenomena peningkatan jumlah mualaf, membawa persoalan tersendiri bagi mereka yang berkecimpung di arena dakwah ini. Untuk membina mereka diperlukan  sebuah sarana yang tepat. Yayasan Mualaf Center Indonesia Regional Jawa Barat, telah menyelenggarakan sebuah  program yang bernama Pesantren Ahad Mualaf Center Bandung (PA-MCB), sebagai jawaban atas kebutuhan sarana tersebut. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana proses pelaksanaan program Pesantren Ahad MCB berlangsung. Bagaimana program ini berperan  dalam meningkatkan pemahaman keislaman para mualaf binaannya. Serta bagaimana program ini berfungsi sebagai sarana dakwah dari Yayasan Mualaf Center Indonesia Regional Jawa Barat dalam meningkatkan pemahaman keislaman mualaf. Pendekatan penelitian dilakukan secara kualitatif dengan menggunakan kerangka berpikir berdasarkan  teori Konvergen sebagai gabungan teori nativisme dan empirisme dari William Stren. Dimana mualaf adalah variable intern yang perubahan pemahaman dan perilaku keislamannya bersumber dari dirinya (nativisme) dan Program Pesantren Ahad MCB adalah variable eksternal (empirisme) yang menjadi sarana lingkungan tempat mualaf meningkatkan pemahaman dan merubah  pola perlaku dan kepribadian menjadi islami. Data yang diperoleh menunjukan Pelaksanaan program PA-MCB diminati oleh para mualaf. Demikian juga sebagai sarana dan faktor empiris, PA_MCB cukup efektif dalam meingkatkan pemahaman dan merubah pola kepribadian dan perilaku mualaf menjadi lebih islami.Keberadaan sarana dakwah dalam bentuk Pesantren Ahad MCB ini sangat dibutuhkan para mualaf. Namun untuk k eberlangsungan sarana dakwah ini sangat diperlukan kepedulian dan dukungan baik moril maupun materil dari kaum muslimin dan pemerintah
Qaulan Sadida, Qaulan Ma’rufa, Qaulan Baligha, Qaulan Maysura, Qaulan Layyina Dan Qaulan Karima Itu Sebagai Landasan Etika Komunikasi Dalam Dakwah Najhan Dzulhusna; Nunung Nurhasanah; Yuda Nur Suherman
JOURNAL OF ISLAMIC SOCIAL SCIENCE AND COMMUNICATION (JISSC) DIKSI Vol. 1 No. 02 (2022): JISSC-DIKSI Agustus 2022
Publisher : Prodi KPI IAI Persis Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (261.63 KB) | DOI: 10.54801/jisscdiksi.v1i02.114

Abstract

Pendekatan semantik frase qaulan sadida, qaulan ma’rufa, qaulan baligha, qaulan maysura, qaulan layyina dan qaulan karima sebagai landasan etika komunikasi dalam berdakwah. Dakwah merupakan suatu kegiatan yang tidak bisa dipisahkan lagi bagi setiap muslim, tapi yang menjadi permasalahannya tidak setiap muslim mengetahui cara atau metode berdakwah agar apa yang disampaikannya menyentuh hati sang pendengar dan sesuai dengan karakteristik atau social culture. Dan untuk mewujudkan hal itu maka perlu mengetahui etika komunikasi yang terdapat dalam Al-Qur’an untuk menjadi landasan berdakwah. Penelitian ini bertujuan untuk menggali mengeni makna dari frase qaulan sadida, qaulan ma’rufa, qaulan baligha, qaulan maysura, qaulan layyina dan qaulan karima sebagai etika komunikasi untuk berdakwah, Sehingga bisa menjadi metode atau cara berdakwah. Mencari makna dari frase qaulan sadida, qaulan ma’rufa, qaulan baligha, qaulan maysura, qaulan layyina dan qaulan karima penelitian ini ditunjang dengan memakai teori semantik yang didalamnya terdapat 3 unsur yaitu koseptual,komponensial serta oprasional yang terdapat signifie and signifiant selain dari itu mengambil penafsiran dari para ulama. Penelitian ini memakai deskipsi kualitatif yang lebih terkhusus yaitu library research dengan mencari sumber dan referensi yang berkaitan serta kitab-kitab tafsier. Dalam penelitian ini ditemukan bahwa makna frase qaulan sadida, qaulan ma’rufa, qaulan baligha, qaulan maysura, qaulan layyina dan qaulan karima mempunyai karakteristiknya masing-masing sehingga bagi orang yang berdakwah bisa menyesuaikan antara karakteristik komunikan atau mad’u dengan 6 qaulan tersebut dan pada akhirnya pesan yang diberikan akan tersampikan secara baik sehingga akan terbangun relevansi pemahaman dan keharmonisan antara keduanya, sehingga pesan dari dakwah bisa sesuai dengan karakteristik serta social cultural yang pada akhirnya dakwah bisa berhasil.