Antonius Sudiarja
Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Fiona Woollard, Doing & Allowing Harm, New York: Oxford University Press, 2015, 239 hlm. Antonius Sudiarja
DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA Vol. 16 No. 2 (2017): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara
Publisher : STF Driyarkara - Diskursus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (137.346 KB)

Abstract

Sejak Immanuel Kant, moral sering diartikan sebagai kewajiban yang berat. Dalam bukunya Doing & Allowing Harm ini, Fiona Woollard tampaknya ingin menolak pemahaman yang rigor. Ia tidak ingin buruburu menilai orang yang tidak menjalankan kewajiban sebagai teledor atau lalai, sebab dalam situasi konkrit, ada berbagai konteks berbeda, yang dalam etika Kant kurang diperhitungkan. Dalam hal ini Woollard membedakan disposisi antara melakukan (doing) dan membiarkan (allowing) terjadinya pencederaan (harming). Woollard hanya menyatakan bahwa melakukan pencederaan lebih sulit untuk dibenarkan daripada hanya membiarkan terjadinya pencederaan (hlm. 5). Artinya kedua tindakan itu tidak diposisikan secara berlawanan (hitam-putih) dalam suatu kerangka kewajiban moral, melainkan hanya gradual saja, khususnya dalam peristiwa yang mengakibatkan kerugian (harm) yang sering menjadi pertimbangan moral. Moral memang berkaitan dengan soal tindakan atau pun sikap, tetapi tindakan atau sikap ini bisa berarti aktif melakukan, mau pun pasif membiarkan. [] Dalam keseluruhan, Woollard, yang mengolah gagasannya dari Philippa Foot, Jonathan Bennett, Warren Quinn, Frances Kamm dan Jeff McMahan (hlm. 206), tidak bermaksud menghilangkan kewajiban moral dari kehidupan, tetapi mau memperlihatkan bahwa banyak situasi yang harus diperhitungkan untuk sampai pada suatu pemaksaan (imposition) yang dianggap wajar sebagai alasan moral. Perbedaan situasi-situasi ini juga membedakan disposisi setiap orang, sehingga tidak dimungkinkan kewajiban yang kiranya berlaku sama untuk semua. Woollard yakin ajaran melakukan dan membiarkan mencegah pemaksaan/ pembebanan yang tidak adil dan campur tangan pihak lain terhadap otonomi tubuh, tetapi tetap menjaga agar orang tidak membiarkan yang lain dicederai. Hal ini dapat membantu memberi pertimbangan konkrit dalam praktek moral. Hal lain yang menjadi pertimbangan adalah kepentingan khusus dari tubuh kita yang merupakan dakuan kepunyaan yang tak terbantahkan, sehingga setiap prinsip moral atau kode etik yang tidak mengakui tubuhku sebagai kepunyaanku tidak menghormati dan menghancurkan pandanganku mengenai diriku sendiri dan hubunganku dengan yang lain (hlm. 192). Namun tetap menjadi soal juga, apakah dalam hal ini tubuh bukannya lebih dari sekedar kepunyaan; apakah pertimbangan tubuh sebagai bagian dari diriku sebagai pelakusepenuhnya (full-fledged agency) justru tidak mengundang pertimbangan serius sebagai otoritas prima facie agar dalam mengambil keputusan mengenai apa yang terjadi atas tubuhku, juga lebih dari sekedar demi kepentingan dan kinginan-ku? Suatu hal yang masih kontroversial dalam pertimbangan moral. (A. Sudiarja, Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta)
Daniel Boyarin, The Jewish Gospels: The Story of the Jewish Christ, Forwarded by Jack Miles, New York: The New Press, 2012, xxiii + 200 hlm. Antonius Sudiarja
DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA Vol. 11 No. 2 (2012): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara
Publisher : STF Driyarkara - Diskursus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (190.974 KB) | DOI: 10.36383/diskursus.v11i2.148

Abstract

Sudah sejak awal abad pertama Kristianisme memisahkan diri dari tradisi Yudaisme dan menjadi agama baru sama sekali, meskipun Yesus yang menjadi pokok iman mereka adalah seorang Yahudi. Agama Kristen diajarkan oleh Yesus dengan melepaskan diri dari tradisi Yahudi yang ortodoks, demikianlah anggapan umum hingga sekarang. Maka baik bagi orang Kristen maupun orang Yahudi, seluruh ajaran Kristiani tidak bisa dikembalikan pada akar tradisi Yahudi. Keduanya saling membedakan diri satu sama lain. Yesus mengajarkan “cinta kasih” dan para murid-Nya mempertentangkan ajaran ini dengan ajaran Taurat yang sangat menekankan hukum. Sementara itu jemaat Yahudi menuduh orang Kristen (Yahudi) murtad dari tradisi mereka. Kesan mengenai pertentangan yang sangat keras antara Kristianisme dan Yudaisme di masa lalu ini antara lain juga yang menjadi sebab dari dan memicu—atau setidaknya diduga demikian—munculnya gerakan antisemitisme di Eropa hingga abad keduapuluh. Akan tetapi apakah Kristianisme dan Yudaisme patut dipertentangkan satu sama lain? Dalam buku kecil ini, Daniel Boyarin—seorang rabi Yahudi yang ortodoks serta Profesor Retorika dan Budaya Talmud, Universitas California, Berkeley—mengajukan pandangan bahwa Yesus adalah seorang yang setia pada tradisi Yahudi. Ini berarti ajaran-ajaran yang disampaikan-Nya, setidaknya yang asli, tidaklah menyimpang dari Taurat dan Kitab para Nabi. Jikalau dalam Kristianisme terdapat ajaran yang menyimpang dari sumber Yahudi, maka kiranya karena hal itu ditambahkan atau ditafsirkan secara lain oleh para murid Yesus di kemudian hari, tetapi bukan dari Yesus sendiri. Dari lain pihak, menurut Boyarin, apa yang diajarkan oleh Yesus dapat dilacak kembali dari sumber aslinya dalam Kitab Suci Yahudi. Ajaran Yesus sungguh merupakan bagian dari Yudaisme sendiri. Boyarin mencoba merunut ajaran Yesus yang asli dari sumber-sumber Yudaisme dan mempertemukan tradisi Kristen yang paling awal ini dengan tradisi asli Yahudi. ........... Dalam bab 4 Boyarin membicarakan penderitaan Kristus. Pokok ini sering dikaitkan dengan Yesaya 53 tentang hamba yang setia. Tetapi sekali lagi di sini, kontroversi yang terjadi adalah bahwa sebagian penafsir menempatkan bangsa Yahudi sebagai hamba itu, dan bukan individu, sebagaimana tafsir Kristiani yang menempatkan Yesus dalam posisi tersebut. Alasannya, menurut kebanyakan tafsir Yahudi, “Mesias” tidak menderita. Penderitaan dianggap sebagai aib. Mengutip Joseph Klausner (“The Jewish and Christian Messiah,” dalam The Messianic Idea in Israel, from Its Beginning to the Completion of the Mishnah, trans. W.F. Stinespring, New York: Macmillan, 1955) topik penderitaan Messias dalam Kristianisme diangkat setelah Yesus mengalaminya, jadi semacam apologi (hlm. 130). Kalau demikian, mengapa Allah membiarkan “hamba pilihan”-Nya menderita? Klausner menjawab, demi atau untuk penebusan manusia, sebagaimana diramalkan Yesaya 53. Di sini Klausner mengubah pan-dangan Yahudi, penderitaan itu bukan ramalan tentang pengejaran bangsa Yahudi, melainkan tentang penderitaan Yesus (hlm. 131-132). Menurut Boyarin, tampaknya Midrash dan tradisi ortodoks rabi Yahudi memberi ruang juga pada penderitaan Mesias, karena kedekatan teks Markus 8:38 (“… barangsiapa malu karena Aku dan perkataan-Ku…”), yang menggunakan gaya Middrash untuk mengembangkan gagasan itu untuk Yesus menyangkut penderitaan-Nya, sementara penderitaan dan kematian Mesias juga merupakan bagian dari ajaran umum ortodoksi rabinik (hlm. 134). Tidak semua tafsir Boyarin dapat diangkat dalam resensi pendek ini, tetapi secara umum jalan pikirannya mudah dipahami, juga oleh mereka yang tidak ahli dalam Kitab Suci. Secara ringkas, dalam buku ini Profesor Boyarin mendalami akar Yudaisme dalam Kristianisme awal dan menemukan bahwa ajaran Yesus sama sekali tidak menyimpang dari tradisi Yahudi dan bahwa konsep inkarnasi dan Trinitas pun sudah ada benihnya dalam sumber Yahudi. Maka sebenarnya, tidak ada pemutusan (break) antara ajaran Yesus yang awal dengan Yudaisme sebab kedatangan Messias yang diajarkan Yesus merupakan bagian utuh dari kepercayaan Yahudi, sebagaimana terdapat dalam sumber mereka. (A. Sudiarja, Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta)