E. Pranawa Dhatu Martasudjita
Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Hubungan Ekaristi Dengan Hidup Sehari-Hari Dalam Teologi Sakramental Karl Rahner E. Pranawa Dhatu Martasudjita
DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA Vol. 12 No. 2 (2013): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara
Publisher : STF Driyarkara - Diskursus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (390.369 KB) | DOI: 10.36383/diskursus.v12i2.108

Abstract

Abstrak: Diskusi mengenai hubungan Ekaristi dengan hidup sehari- hari masih terus berlangsung hingga hari ini, baik di kalangan para teolog maupun umat beriman pada umumnya. Kiasan yang sering di gunakan di Indonesia untuk melukiskan hubungan tersebut adalah al tar dan pasar. Yang menjadi bahan diskusi ialah masih adanya pan- dangan dikotomis yang memisahkan keduanya. Tulisan ini ingin mem- beri sumbangan kepada diskusi tentang tema tersebut dari pemikiran teologis Karl Rahner (1904–1984). Rahner menunjukkan bahwa pemahaman tentang rahmat sebagai pemberian diri Allah yang senantiasa di- berikan dan dianugerahkan kepada umat manusia dan sejarahnya tidak memperkenankan pemisahan dikotomis semacam itu. Penulis mendekati permasalahan tersebut dengan pertama-tama menggali pemikiran sakramental Rahner, kemudian memperdalamnya dalam teologi Ekaristi. Dari alur pemikiran ini dibahas teologi Rahner yang senantiasa berciri pastoral, yaitu menghubungkan makna Ekaristi dengan kehidupan sehari- hari. Bagi Rahner, Ekaristi adalah sakramen sehari-hari. Dalam pengertian ini, kehidupan sehari-hari orang Kristiani mestinya merupakan perpanjangan dari hidup sehari-hari Kristus sendiri yang dirayakan dan diterima dalam Ekaristi. Kata-kata Kunci: Ekaristi, hidup sehari-hari, teologi sakramental, altar dan pasar, sakramen sehari-hari. Abstract: Theologians, as well as Christians in general continue dis- cussing more deeply correlation between Eucharistic celebration and one’s daily life. Yet, many are still employing a dichotomous approach between altar and marketplace. This article is intended to contribute to the discussion, especially by presenting important theological insights of Karl Rahner (1904-1984) who would not allow such a dichotomy. Rahner presents a creative theology of grace primarily as God’s Self-gift, continuously offered to every single human being throughout our his- tory. We will begin with the presentation of Rahner’s sacramental theology, followed by the theology of the Eucharist. Rahner’s theological thought, it is argued, remains pastoral in character, that relates meaning of the Eucharist to day-to-day Christian living and practices. For Rahner, the Eucharist is a sacrament of the everyday. In this sense, the Christian’s daily life should be the extension of the daily life of Christ celebrated and received in the Eucharist. Keywords: Eucharist,dailylife,sacramentaltheology,altarandmarketplace, sacrament of the everyday.
Tinjauan Pastoral Liturgis Atas Hidup Dari Misteri Ekaristi E. Pranawa Dhatu Martasudjita
DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA Vol. 11 No. 1 (2012): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara
Publisher : STF Driyarkara - Diskursus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (58.738 KB)

Abstract

Abstract: The Magisterium of the Church has repeatedly affirmed the centrality of Eucharistic celebration in the life of the Church. The Second Vatican Council speaks of the Eucharist as “the source and summit of the Christian life” (Lumen Gentium 11). However, to live authentically what we believe is another thing. How do we live deeply the mystery of the Eucharist? This article will make use of a pastoral-liturgical approach to discover and explain the major reasons behind the difficulty in living this mystery more deeply. Two of the latest important documents on the Eucharist will be examined. They are Ecclesia de Eucharistia and Sacramentum Caritatis. The three determining factors in Eucharistic celebration are the Eucharistic text (Sacramentary), the liturgical servers, and one’s internal disposition enriched by a sense of awe which is developed in the context of prayer and devotion. In the relation to thesense of awe, the liturgical servers, including the presider, and all the faithful, need to understand the ars celebrandi. Keywords: Eucharistic mystery, living the eucharist, sense of awe, ars celebrandi, eucharistic devotian, devotion and prayer. Abstrak: Sentralitas perayaan Ekaristi dalam hidup umat beriman Katolik ditegaskan berulangkali dalam Magisterium Gereja. Misalnya saja Konsili Vatikan II menyatakan bahwa Ekaristi merupakan sumber dan puncak hidup seluruh umat kristiani (LG 11). Akan tetapi dalam praksis, tidaklah mudah menghayati keyakinan Gereja ini. Masalah pokok umat ialah bagaimana menghidupi keagungan misteri Ekaristi itu. Melalui pendekatan pastoral liturgis, karya tulis ini mencari faktor penyebab kesulitan umat Katolik dewasa ini dalam menghayati misteri Ekaristi itu. Selanjutnya, ditunjukkan keagungan misteri Ekaristi sebagaimana dinyatakan dalam ajaran Magisterium Gereja. Dalam tulisan ini dipilih dua dokumen Gereja mutakhir mengenai Ekaristi, yaitu Ecclesia de Eucharistia dan Sacramentum Caritatis. Penulis berpendapat bahwa untuk menghayati keagungan misteri Ekaristi itu perlu diperhatikan adanya tiga faktor dalam rangka pastoral liturgi Gereja, yaitu teks atau tata perayaannya, para petugas liturgi, dan disposisi batin umat. Untuk membangun disposisi batin umat yang baik diperlukan pengalaman keterpesonaan (sense of awe) melalui praktik hidup doa dan devosi yang teratur. Dalam rangka pengalaman keterpesonaan pula penulis mengusulkan dikembangkannya ars celebrandi bagi semua petugas liturgi dan seluruh umat beriman. Kata-kata kunci: Misteri Ekaristi, penghayatan Ekaristi, pengalaman keterpesonaan, ars celebrandi, devosi Ekaristi, devosi dan doa.