Martin Harun
Program Studi Ilmu Teologi, Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Solidaritas Sebagai Norma Dasar Dalam Etika Paulus Martin Harun
DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA Vol. 11 No. 1 (2012): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara
Publisher : STF Driyarkara - Diskursus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (65.948 KB) | DOI: 10.36383/diskursus.v11i1.159

Abstract

Abstract: Solidarity, a modern word and concept, has old roots in the concept of koinonia (fellowship) as it is understood in the New Testament. David G. Horrell even maintains that what we now call solidarity, functions as a meta norm in Paul’s ethics, since phenomena of solidarity are clearly present in the central elements of Paul’s community building. Reference is made to the two basic rituals, Baptism and the Lord’s Supper, which build unity in diversity; to the most frequently used form of address, adelphoi/brothers, which asks for familial treatment of one another; also to the special way in which Paul often tries to restore unity in the middle of conflicts; and especially to his metaphor of the Church as the one body of Christ with many different parts that need and support one another. When speaking about the collections as a sign of the Greek community’s solidarity with the poor community in Jerusalem, Paul refers to Christ’s solidarity as the source of solidarity within and among communities. Keywords: Solidarity, fellowship, David Horrell, Paul, Ethics, baptism, the Lord’s Supper, brothers, Body of Christ, Christ’s solidarity. Abstrak: Solidaritas, sebuah kata dan paham modern, memiliki akar yang lama, antara lain dalam paham koinonia (persekutuan), sebagaimana digunakan dalam Alkitab Perjanjian Baru. David G. Horrell mempertahankan bahwa apa yang sekarang kita sebut solidaritas, merupakan norma dasar (meta norm) dalam etika Paulus, sebab fenomen-fenomen solidaritas tampak dalam unsur-unsur sentral pembinaan jemaatnya, antara lain dalam kedua ritual paling dasar, baptisan dan perjamuan Tuhan, yang membina kesatuan dalam perbedaan. Solidaritas juga muncul dalam sebutan paling frekuen, saudara-saudara (adelphoi), yang menuntut suatu etos kekeluargaan. Solidaritas juga tampak dalam banyak seruan Paulus untuk memulihkan kesatuan apabila ia berhadapan dengan perpecahan, dan teristimewa dalam menggambarkan jemaat sebagai satu tubuh Kristus dengan banyak anggota yang berbeda dan saling membutuhkan serta memberi. Dalam konteks kolekte-kolekte sebagai tanda solidaritas antarjemaat, Paulus secara eksplisit menunjuk kepada solidaritas Kristus dengan kita sebagai dasar terdalam dari solidaritas antarumat. Kata-kata kunci: Solidaritas, persekutuan, David Horrell, Paulus, etika, baptisan, Perjamuan Tuhan, saudara-saudara, Tubuh Kristus, solidaritas Kristus.
Izzeldin Abuelaish, I Shall Not Hate: Kisah Seorang Dokter Palestina Memperjuangkan Perdamaian Tanpa Dendam dan Kebencian, Bandung: Qanita/Mizan, 2011, 370 hlm. Martin Harun
DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA Vol. 11 No. 1 (2012): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara
Publisher : STF Driyarkara - Diskursus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (81.469 KB) | DOI: 10.36383/diskursus.v11i1.164

Abstract

Tragedi perang Palestina–Israel tampak sebagai jalan penderitaan dan kekejian yang tanpa ujung dan tanpa solusi. Di tengah kesuraman seperti itu kisah kehidupan yang diceritakan oleh dokter Abuelaish mengharukan dan membawa harapan. Lahir dalam kamp pengungsi Jabalia di Jalur Gaza pada 1955, tujuh tahun setelah perang 1948 melahirkan negara Israel di tengah tanah Palestina, Abuelaish mengalami kemelaratan sangat ekstrem bersama ayahnya yang kehilangan tanahnya dan ibunya yang berwatak kuat tetapi juga keras serta delapan saudaranya. Sebelas orang ini hidup bertahun-tahun dalam ruang pengungsian sesak dan pengap. Rumah lebih baik yang mereka temukan kemudian, dihancurkan buldoser Israel. Adiknya, Noor, ditangkap dan hilang. Di tengah keadaan gelap seperti itu, sambil terpaksa sebagai anak untuk bekerja keras ikut mencari nafkah, Abuelaish tetap seorang anak yang mau maju dan haus belajar. Semangat itu akhirnya membuka jalan baginya untuk mengambil kuliah kedokteran di Kairo, Mesir. Dengan pengalaman kerja bertahun-tahun di pelbagai rumah sakit di Gaza dan negara timur tengah lainnya dan belajar di London serta Harvard, juga lewat kerja sama dengan spesialis-spesialis Ginekologi Yahudi di Beersheba dan Tel-Aviv, ia berkembang menjadi seorang ginekolog dan spesialis fertilitas perempuan yang disegani. Namun bukan itu saja yang merupakan keistimewaan kisahnya. Dokter ini meyakini dan menemukan jalan bagaimana di tengah permusuhan antara bangsa Israel dan Palestina karya medis dapat membangun jembatan hidup bersama; juga bagaimana para perempuan yang ia layani sebagai ginekolog, merupakan kekuatan damai tatkala laki-laki suka berperang. Karena itu, ia berjuang bagi perempuan dan pemberdayaan mereka lewat pendidikan, termasuk putri-putrinya sendiri. Ia mau repot membawa pasien-pasiennya yang tak bisa ia tolong di rumah sakit serba terbatas di Jalur Gaza, ke pusat-pusat medis di Israel yang dapat dan mau membantu, kendati segala kesusahan untuk mendapat visa dan segala macam penghinaan yang harus ditelan seorang Palestina di setiap penyeberangan perbatasan. ................................... Terima kasih kepada Penerbit Qanita (PT Mizan Pustaka) yang begitu cepat menyediakan kesaksian kemanusiaan, iman, serta moral tinggi ini (aslinya dari tahun 2010) dalam terjemahan Indonesia yang enak dibaca. Semoga menjadi best-reader. Tak dapat tidak, kisah istimewa ini telah dan akan terus menggetarkan hati banyak orang, bahkan dari mereka yang mengambil posisi bertolak belakang dengan Izzeldin Abuelaish dalam konflik Israel-Palestina dan cara untuk menyelesaikannya. (Martin Harun, Program Studi Ilmu Teologi, Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta)
Al Gore, Our Choice: Rencana untuk Memecahkan Krisis Iklim, Terjemahan: Hardono Hadi, Yogyakarta: Kanisius, 2009, 248 hlm. Martin Harun
DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA Vol. 10 No. 2 (2011): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara
Publisher : STF Driyarkara - Diskursus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (163.497 KB)

Abstract

Masalah lingkungan hidup yang luas dan kompleks makin hari makin difokuskan pada krisis iklim sebab banyak sisi masalah itu akhirnya berujung ke situ. Krisis iklim perlu dipandang sebagai masalah hidup atau mati. Maka sangat berarti bahwa Al Gore, seorang Kristen Baptis, mengawali bukunya dengan mengutip tawaran Musa, “Kepadamu kuperhadapkan kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu” (Ul 30:19). Lewat bukunya, Our Choice, Al Gore berusaha meyakinkan sidang pembaca yang luas tentang pilihannya sendiri yang sudah mantap. Dalam pendahuluan (hlm. 10-29) Gore membunyikan lonceng bahaya yang sedang mengancam bumi, bukan untuk melumpuhkan pembaca dalam ketakutan, tetapi untuk memperlihatkan bahwa situasi ini merupakan kesempatan unik bagi umat manusia, lintas bangsa dan lintas bidang, untuk secara global memecahkan sejumlah masalah yang memang dápat dipecahkan. Nadanya adalah optimis, kendati ia me- nyadari bahwa kebanyakan orang masih harus disadarkan dan di- gerakkan, dan—lebih buruk—tetap ada skeptisi yang meremehkan krisis ini. Dalam bab 1, “Yang Naik Harus Turun,” Gore menjelaskan bagai- mana pemanasan bumi disebabkan oleh aneka macam polutan (pelbagai macam karbon, juga metana, dan nitrus oksida) yang kita sendiri naikkan ke atmosfir dengan menggunakan sumber-sumber energi yang mudarat dalam industri, transportasi, pertanian, dan seterusnya. Maka dalam bab 2-8 dibicarakan pelbagai sumber energi. Energi sekarang kebanyakan masih berkaitan dengan bahan bakar fosil (batu bara, minyak, gas alam) yang merupakan sebab utama polusi udara dan atmosfir. Juga kebanyak- an pembangkit listrik masih menggunakan batu bara. Sebagian emisi karbonnya sesungguhnya secara teknologi dapat ditangani dengan menyimpannya di bawah tanah tetapi selama ini teknologi yang sudah tersedia tidak diterapkan oleh perusahaan manapun. Alternatif-alter- natifnya, diuraikan dalam beberapa bab berikutnya. Cahaya matahari dapat menghasilkan listrik, baik secara langsung (fotovoltaik) maupun tidak langsung dengan memanaskan air yang uapnya dapat meng- gerakkan generator listrik. Begitu juga sumber daya panas bumi dapat menghasilkan uap yang dibutuhkan untuk menggerakkan turbin-turbin pembangkit listrik. Turbin-turbin itu dapat juga digerakkan oleh sumber daya angin melalui kincir angin. Ketiganya secara teknis sudah sangat mungkin tetapi belum cukup menerima investasi dari dunia usaha atau pun pemerintah. Sebaliknya, energi biomassa sudah lebih banyak di- kembangkan, juga dengan maksud untuk mengurangi CO2 tetapi biofuel dari biomassa, khususnya kalau dari tanaman pangan, kini banyak dipermasalahkan dan akan perlu diatur dengan lebih ketat. Begitu juga tenaga nuklir yang setelah Perang Dunia II menjadi andalan baru untuk kebutuhan listrik, kini sarat dengan berbagai macam problem (mahalnya konstruksi, risiko bencana, kesulitan menyimpan limbahnya, ketakutan akan proliferasi senjata nuklir) sehingga perkembangannya kini makin macet.