T. A Deshi Ramadhani
Program Studi Ilmu Teologi, Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Scott B. Noegel and Gary A. Rendsburg, Solomon’s Vineyard: Literary and Linguistic Studies in the Song of Songs, Ancient Israel and Its Literature, Atlanta, GA: Society of Biblical Literature, 2009, 267 + xvi hlm. T. A Deshi Ramadhani
DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA Vol. 10 No. 2 (2011): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara
Publisher : STF Driyarkara - Diskursus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (165.901 KB)

Abstract

Beberapa tahun yang lalu ada seorang perempuan berpindah dari Katolik ke Islam. Segera ia laku keras sebagai pemberi kotbah. Dari sekian banyak kritik tajam yang dilancarkannya, ia menyebut secara khusus Kitab Kidung Agung. Ia secara tegas mengajak para pendengarnya untuk tidak percaya akan kesucian dan kebenaran wahyu ilahi dalam Kitab Suci Kristiani, karena di dalamnya termuat tulisan-tulisan yang sangat sensual, erotis, bahkan bernuansa pornografi. Tidak mungkin Sang Mahasuci mewahyukan hal-hal semacam itu. Sementara itu, di kalangan Yudaisme—yang juga memiliki Kitab Kidung Agung dalam kanon Kitab Suci mereka hingga hari ini—ada posisi yang tegas untuk membela kesucian kitab tersebut. Rabi Akiba dalam Mishnah Yadayim 3:5 bahkan mengatakan demikian: “Tidak ada seorang pun di Israel yang boleh mempersoalkan status Kidung Agung... karena seluruh dunia ini seolah tidak ada artinya pada hari ketika Kidung Agung dianugerahkan kepada Israel; karena seluruh tulisan adalah kudus, tetapi Kidung Agung adalah yang paling kudus dari antara yang kudus itu.” ......................................................... Tentu di sini selalu ada yang bisa diperdebatkan. Apakah memang benar bahwa bahasa puisi yang sangat eksplisit menunjuk pada hal-hal seputar organ kelamin dan aktivitas seksual adalah sebuah kendaraan yang efektif untuk melancarkan protes politik melawan penguasa lalim? Jika benar demikian, mungkinkah itu ditampilkan juga dalam terjemahan baru bahasa Indonesia? Apakah terjemahan menjadi “Vaginamu seperti sebuah mangkuk yang dalam, yang jangan sampai kekurangan cairan kenikmatan. Vaginamu lebat ditumbuhi dan dikelilingi rambut” masih bisa dibaca sebagai sebuah tulisan suci? Mungkin, di sinilah justru letaknya bukti bahwa kitab ini adalah yang paling suci dari segala pe- wahyuan ilahi. Jika ini menggoncang, mungkin ini juga bukti ketidakmampuan pembaca modern zaman ini untuk masuk ke wilayah kesucian pada tingkat itu. (T. A. Deshi Ramadhani, Program Studi Ilmu Teologi, Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta).
Andreas J. Köstenberger and Michael J. Kruger, The Heresy of Orthodoxy: How Contemporary Culture’s Fascination with Diversity Has Reshaped Our Understanding of Early Christianity, Wheaton, IL: Crossway, 2010, 250 hlm. T. A Deshi Ramadhani
DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA Vol. 10 No. 1 (2011): Diskursus - Jurnal Filsafat dan Teologi STF Driyarkara
Publisher : STF Driyarkara - Diskursus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (246.494 KB)

Abstract

Gema kegaduhan sejak munculnya Novel The Da Vinci Code ternyata belum sirna. Perhatian banyak orang pada sejarah Kekristenan awal tiba-tiba melesat naik. Dalam gelombang perhatian baru semacam ini pertanyaan-pertanyaan tajam kembali diarahkan pada sejarah terbentuknya Kitab Suci Kristiani, khususnya bagian Perjanjian Baru. Persoalan seputar kredibilitas pewahyuan Yang Ilahi dalam bentuk tertulis kembali dipertanyakan. Di kalangan akademisi bidang tafsir Kitab Suci nama Dan Brown dan The Da Vinci Code-nya tidak lagi menjadi bahan perbincangan berarti. Meskipun demikian, persoalan serupa sekarang dikibarkan secara lebih luas oleh seseorang yang bernama Bart D. Ehrman, yang dengan Misquoting Jesus-nya berhasil memperkenalkan kepada khalayak ramai banyak problematika seputar telaah naskah-naskah kuno Kitab Suci Perjanjian Baru. [Catatan: Buku tersebut telah menjadi salah satu dari New York Times Bestseller, dan sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia]. ............................................................... Secara tegas dikatakan demikian dalam bagian akhir buku ini: Indeed, it is contemporary culture’s fascination with diversity that has largely driven the way in which our understanding of Jesus and early Christianity has been reshaped. If it can be shown that early Christianity was not as unified as commonly supposed, and if it can be suggested that the eventual rise of Christian orthodoxy was in fact the result of a conspiracy or of a power grab by the ruling political, cultural, or ecclesiastical elite, this contributes to undermining the notion of religious truth itself and paves the way for the celebration of diversity as the only “truth” that is left. And thus the tables are turned—diversity becomes the last remaining orthodoxy, and orthodoxy becomes heresy, because it violates the new orthodoxy: the gospel of diversity (hlm. 234). Dalam konteks di Indonesia, di mana usaha untuk saling memahami antarpemeluk agama yang berbeda sering berwujud usaha untuk membuktikan kesalahan dan keburukan pihak lain, serta kebenaran dan kebaikan agama sendiri, buku Misquoting Jesus yang ditulis Ehrman tentu telah menjadi makanan empuk. Publik di Indonesia perlu melihat sisi lain dalam perdebatan ini. Buku The Heresy of Orthodoxy memberi jalan untuk menyeimbangkan gagasan publik. Jika buku ini diterjemahkan, dan jika buku ini ternyata tidak menarik pembaca, mungkin tesis dasar buku ini dengan sendirinya telah terbukti: publik benar-benar telah terobsesi oleh gagasan tentang “keragaman,” sehingga tidak selalu siap menerima kenyataan bahwa “keragaman” tersebut secara historis sulit dibuktikan. (Deshi Ramadhani, Program Studi Ilmu Teologi, Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta).