Mohammad Taufiqul Hakim
Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Sabdopalon dan Nayagenggong Sebagai VidūṢaka dalam Serat Babad Pati Mohammad Taufiqul Hakim
Jumantara: Jurnal Manuskrip Nusantara Vol 7, No 1 (2016): Juni
Publisher : Perpustakaan Nasional RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (362.982 KB) | DOI: 10.37014/jumantara.v7i1.280

Abstract

Penelitian ini mendudukkan Serat Babad Pati (selanjutnya disingkat SBP) sebagai teks sastra. Babad, atau sastra babad, diartikan sebagai buku yang membicarakan sejarah suatu daerah dan golongan masyarakat menurut anggapan waktu itu. Melalui gagasan Edward Said, yakni hermeneutika filologi, didapati pemahaman bahwa Sabdopalon dan Nayagenggong berperan sebagai pamong Raden Kembangjaya yang mempunyai sifat jenaka (vidūṣaka). Mereka senantiasa bergurau kala mendampingi sang majikan. Lebih dari itu, Nayagenggong yang juga berperan sebagai ayah Sabdopalon, berkedudukan sebagai yajamāna. Dalam tataran ritual, yajamāna ialah seorang pengatur perang. Sementara, tokoh yang berperan sebagai yajña, atau ‘yang diatur’ di dalam peperangan ialah Raden Kembangjaya, pendiri Kadipaten Pesantenan, cikal bakal Kadipaten Pati. Nayagenggong berjasa atas kemenangan Negeri Carangsoka atas Paranggaruda. Pertapa tua ini menyuruh Raden Sukmayana, Raja Negeri Carangsoka untuk menyerahkan keris Kyai Rambut Pinutung kepada Kembangjaya. Dengan begitu, pemimpin Paranggaruda, Adipati Yujopati dapat dikalahkan dan terciptalah perdamaian dunia.