Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

POLA HUBUNGAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KOMPETENSI PETANI DAN ADOPSI TEKNOLOGI PADA DIKLAT TEMATIK DI KABUPATEN MADIUN Nunung Nurhadi
JURNAL PENYULUHAN PEMBANGUNAN Vol 1 No 2 (2019): Jurnal Penyuluhan Pembangunan
Publisher : Politeknik Pembangunan Pertanian Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pelatihan tematik adalah pembelajaran yang berorientasi pada pemecahan masalah dan teknologi yang spesifik yang pelaksanaannya dilakukan secara berjenjang. Karena tergolong model baru dalam pelatihan pertanian sehingga perlu diteliti lebih jauh tentang faktor-faktor yang berpengaruh dalam peningkatan kompetensi petani dan adopsi teknologinya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk 1. Mendiskripsikan kompetensi petani dan adopsi teknologi; 2. Menganalisis pengaruh faktor karakteristik petani, kompetensi penyuluh dan sifat inovasi (materi tematik) terhadap kompetensi petani; 3. Menganalisis pengaruh faktor karakteristik petani, kompetensi penyuluh dan sifat teknologi terhadap adopsi teknologi; 4. Menganalisis pengaruh faktor kompetensi petani terhadap adopsi teknologi. Penelitian ini merupakan penelitian explanatory mengenai hubungan kausal (sebab akibat) dari variable-variabel yang diamati dan diteliti dengan menggunakan Structural Equation Model-Part Least Square (SEM-PLS). Penelitian merupakan studi kasus di Kabupaten Madiun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik petani, kompetensi fasilitator berpengaruh signifikan secara langsung terhadap kompetensi petani, sedangkan sifat teknologi berpengaruh tidak signifikan terhadap kompetensi petani. Karakteristik petani, kompetensi fasilitator dan kompetensi petani berpengaruh signifikan secara langsung terhadap adopsi teknologi, sedangkan sifat teknologi berpengaruh tidak signifikan terhadap adopsi teknologi. Secara tidak langsung karakteristik petani berpengaruh signifikan terhadap adopsi inovasi, sedangkan secara tidak langsung kompetensi fasilitator dan sifat teknologi berpengaruh tidak signifikan.
Blended Learning dan Aplikasinya di Era New Normal Pandemi Covid 19 Nunung Nurhadi
Agriekstensia : Jurnal Penelitian Terapan Bidang Pertanian Vol. 19 No. 2 (2020): AGRIEKSTENSIA: Jurnal Penelitian Terapan Bidang Pertanian
Publisher : Politeknik Pembangunan Pertanian Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (329.274 KB) | DOI: 10.34145/agriekstensia.v19i2.936

Abstract

ABSTRAK Saat ini indonesia sedang memasuki era “New Normal” dari pandemi Covid-19, dimana protokol kesehatan harus diimplementasikan pada setiap kegiatan termasuk kegiatan pelatihan. Blended learning merupakan salah satu model pelatihan yang didalamnya memadukan antara pembelajaran online dan pembelajaran offline yang dapat mengurangi kegiatan pengumpulan massa sebagai salah satu protokol kesehatan menghindari Covid-19. Blended learning tetap berorientasi pencapaian tujuan pelatihan yaitu peningkatan pengetahuan, keterampilan dan sikap. Pembelajaran online dapat meningkatkan wawasan dan pengetahuan, dan pembelajaran offline dapat meningkatkan keterampilan, khususnya pada materi spesifik yang keterampilan tidak otomatis didapatkan dari peningkatan pengetahuan. Kombinasi prosentase online dan offline atau tatap muka dapat disesuaikan dengan kebutuhan pelatihan. Blended learning dapat membuat biaya lebih efektif, hemat waktu, objek dapat digunakan kembali untuk dipelajari ulang dan fleksibel bagi peserta didik. Beberapa hal yang perlu dipersiapkan sebelum menjalankan blended learning diantaranya: penyediaan tenaga fasilitator yang memahami teknologi informasi dan komunikasi, penyediaan Learning Management Sistem (LMS), penyediaan fasilitas internet, perpustakaan digital, modifikasi bahan tayang sehingga lebih mudah dipahami dan membuat enjoy peserta didik dan mengantisipasi hal hal yang menghambat seperti peserta didik yang frustasi karena waktunya habis untuk mempelajari sistem. Kata kunci : Blended Learning, Online, Offline, Tatap Muka, New Normal ABSTRACT Currently, Indonesia is entering the "New Normal" era of the Covid-19 pandemic, where health protocols must be implemented in every activity including training activities. Blended learning is a training model that combines online learning and offline learning that can reduce mass gathering activities as one of the health protocols to avoiding Covid-19. Blended learning remains oriented towards achieving the training objectives of increasing knowledge, skills and attitudes. Online learning can increase insight and knowledge, and offline learning can improve skills, especially on specific material for which skills are not automatically acquired from increased knowledge.The combination of online and offline or face-to-face percentages can be adjusted to the training needs. Blended learning can make it more cost effective, save time, objects can be reused for re-study and flexible for participants.Some things that need to be prepared before running blended learning include: the provision of facilitators who understand information and communication technology, Learning Management Systems (LMS), internet facilities, digital libraries, modification of broadcast material that easier to understand and makes participants enjoy and anticipate inhibiting things such as frustrated participants because time is running out to learn the system. Keyword : Blended Learning, Online, Offline, Face to face, New Normal