Nurul Isnaini
Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

OPTIMISME DAN DUKUNGAN DOSEN TERHADAP GRIT MAHASISWA DI ERA ARTIFICIAL INTELLIGENT, KEMAJUAN ATAU KEMUNDURAN Isnaini, Nurul; Prasetyo, Arif Tri
Hijri Vol 12, No 2 (2023): HIJRI
Publisher : Universitas Islam Negeri Sumatera Utara Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/hijri.v12i2.17947

Abstract

Kemudahan yang dialami mahasiswa dalam berbagai tugas yang dibantu oleh AI tersebut sangat berperan dalam menentukan kemajuan atau malah kemunduran mahasiswa. Bantuan artificial Intelligence (AI) dalam berbagai tugas belajar, terutama dengan kecepatan yang sangat tinggi, dapat memengaruhi kegigihan dan optimisme, selain itu, kemudahan yang diberikan oleh AI dalam belajar dapat mengurangi tingkat daya tahan (GRIT) mahasiswa.Optimisme berperan dalam menunjang mahasiswa dalam berbagai tugas, sikap optimisme tersebut mendukung grit untuk terus memiliki daya juang dalam menyelesaikan tugas dan tanggung jawab dengan tepat waktu. Dukungan dosen juga diperlukan mahasiswa karena dorongan dari lingkungan sekitar dapat menumbuhkan kegigihan mahasiswa. Apakah mahasiswa saat ini mengalami kemajuan atau kemunduran dalam menghadapi era AI ini, dan bagaimana optimisme dan dukungan dosen terhadap GRIT memainkan peran dalam hal tersebut. Adapun kelompok subjek yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah Prodi Ekonomi Syariah Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung yang berjumlah 310 mahasiswa. Dengan kriteria responden pada penelitian ini adalah: 1) Usia 20-24 tahun 2) Mahasiswa aktif dan 3) Mahasiswa Angkatan 2019 4) terbiasa menggunakan artificial intelligence. Metode dalam mengumpulkan data menggunakan 3 skala yaitu grit, optimisme dan dukungan dosen. Peneliti menggunakan skala yang diadaptasi dari penelitian yang dilakukan oleh Fatah (2022) berdasarkan teori grit Duckworth (2007) dan Wahyu (2019) berdasarkan teori optimisme Seligman (2006) dan dukungan sosial berdasarkan alat ukur yang dikemukakan oleh Smet (2018) yang telah diadaptasi dari penelitian Maharani (2022) Dalam penelitian ini teknik analisa data menggunakan SPSS 22.0 for windows dan analisis data menggunakan analisis regresi berganda. Terdapat hubungan yang signifikan antara optimisme dan dukungan dosen dengan grit pada mahasiswa dengan nilai koefisien korelasi R 0.723 dan nilai F 93.676 dengan taraf signifikan 0.001, dengan nilai 0.523 atau sebanyak 52,3% sedangkan 47,7% sisanya dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang mempengaruhi grit pada mahasiswa. Di era artificial intelligence akan menjadi sebuah kemajuan jika mahasiswa memiliki optimisme karena optimisme memiliki peran penting dalam meningkatkan Grit. Penelitian ini menunjukan hasil bahwa optimisme memberikan 22% sumbangan efektif terhadap grit. Sumbangan efektif yang diberikan oleh dukungan dosen sebesar 30% terhadap grit. mengapa penting mahasiswa mendapat dukungan dosen karena hal ini berkaitan dengan masalah etika dan privasi. 
Bisakah Generasi Sandwich Memenuhi Tuntutan Birrul Walidain? Meysa Hanny Muflihun; Nurul Isnaini; Mohammad Nursalim Malay
IQRO: Journal of Islamic Education Vol. 8 No. 1 (2025): APRIL 2025
Publisher : Prodi Pendidikan Agama Islam FTIK IAIN Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24256/iqro.v8i1.6456

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan gambaran birrul walidain pada generasi sandwich di Kota Bandarlampung. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologi dengan lima partisipan yang tinggal bersama orang tua dan anak dalam satu rumah. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur dan observasi, lalu dianalisis menggunakan Nvivo 12 Plus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa generasi sandwich melaksanakan birrul walidain melalui aspek ihsan dan husn, bersyukur, dan ilshaq. Praktiknya mencakup perhatian emosional, dukungan finansial, serta kelekatan emosional. Kebahagiaan orang tua menjadi prioritas utama yang turut menentukan kebahagiaan dan kesejahteraan emosional generasi sandwich dalam kesehariannya.
Is Radha’ah Obligatory? An Interpretive Perspective on Qs. Al-Baqarah Verse 233: Systematic Literature Review Analysis Nidaul Fauziah; Ahmad Isnaeni; Nurul Isnaini
Jurnal test Vol 5 No 1 (2026): March
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58363/alfahmu.v5i1.710

Abstract

This study examines the obligation of radha’ah (breastfeeding) in the exegetical perspective of QS. Al-Baqarah verse 233 using the Systematic Literature Review (SLR) method. The research process consisted of systematic stages of identification, screening, and selection of relevant literature. Article searches were conducted using the Publish or Perish (PoP) application with PCC based keywords: “radha’ah,” “breastfeeding mothers,” and “tafsir of Al-Baqarah 233.” The initial search produced 7,507 articles from Google Scholar, Semantic Scholar, and JSTOR. These articles were screened using PRISMA procedures and analyzed through Rayyan.ai based on inclusion and exclusion criteria, resulting in 13 articles eligible for further analysis. Thematic relationships among the literature were visualized using VOSviewer, which revealed major clusters related to radha’ah, breastfeeding obligations, infant nutrition, and the exegesis of QS. Al-Baqarah 233. The findings indicate that most mufassir interpret the amr form in the verse as an obligatory command for mothers, considering that breast milk is a biological consequence of pregnancy and the primary source of nutrition for infants. Some scholars view it as recommended in certain conditions, yet the literature consistently affirms that radha’ah is a fundamental right of the child and aligns with the maqasid al-shari’ah, particularly hifz al-nafs and hifz al-nasl. This study underscores the verse’s relevance to modern health issues and strengthens the comprehensive understanding of radha’ah in the Islamic perspective.
Judi Slot Mematikan, Bagaimana Hubungan Gambling Related Cognition dan Perceived Social Support Dengan Gambling Behavior Faradea Rahmatun; Nurul Isnaini; Annisa Annisa
Humanitas (Jurnal Psikologi) Vol 9 No 3 (2025)
Publisher : Universitas Kristen Maranatha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28932/humanitas.v9i3.11649

Abstract

Online slot gambling is very hightighted issue today. Online slot gambling is played by many people, even children, and many are caught up in this online slot gambling game. This study aims to test the correlation between gambling-related cognition and perceived social support, which is predicted to correlate with gambling behavior. This study uses a quantitative approach with a correlational method. This study involved 361 online slot gambling players. Data analysis using Structural Equation Model-Partial Least Square (SEM-PLS). The hypothesis test results indicate that gambling-related cognition is positively correlated with gambling behavior, with t = 27.466 (t > 1.96) and p = 0.000 (p < 0.005), supporting the first hypothesis. However, perceived social support does not significantly correlate with gambling behavior, with t = 1.062 (t < 1.96) and p = 0.288 (p > 0.005), leading to the rejection of the second hypothesis. These findings can be a reference for further research with the same theme and can be used as a reference in developing interventions to reduce gambling behavior.
Quiet Quitting dan Kesehatan Mental di tempat kerja: Systematic Literature Review Baiq Elok Mandalika; Nurul Isnaini; Faisal Adnan Reza; Ahmad Zarkasy
GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan, Psikologi, Bimbingan dan Konseling Vol. 16 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/gdn.v16i1.15230

Abstract

The phenomenon of quiet quitting reflects the restriction of employee engagement as a response to increasing workplace pressures in the globalization and post-pandemic era. This study aims to systematicall analyze the characteristic of key fingdings regarding qiet quitting and its impact in employee mental health in the workplace. The method employed is a Systematic Literature Review (SLR) following PRISMA 2020 guidelines and CASP quality assessment search was conducted across five major databases using Rayyan AI software, resulting in 35 relevant juournals published between 2020 and 2025. The results indicate that quiet quitting is an adaptive strategy to protect mental health from excessive workloads and unsupportive work environments. The most dominant impacts found include high turnover intention, decreased productivity, and increased stress and burnout. In conclusion, quiet quitting serves as a vital indicator of organizational health that requires proactive interventions such as enchanced psychological safety and well- being programs to maintain employee mental health and retention.
The Role of Perfectionism and Fear of Failure in Predicting the Impostor Phenomenon among Fresh Graduates Tria Anggraini; Nurul Isnaini; Citra Wahyuni
Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 14, No 3 (2026): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikoborneo.v14i3.25667

Abstract

Fresh graduate students are in a transition period from the academic world to the working world, a developmental phase often accompanied by increased vulnerability to psychological stress. One form of this stress is the impostor phenomenon, which is the tendency of individuals to doubt their own competence despite having objective evidence of success. This study aims to analyze the influence of perfectionism and fear of failure on the impostor phenomenon in fresh graduate students in Indonesia. This study uses a quantitative approach with a correlational design. Data analysis was conducted using Structural Equation Modeling (SEM). The sampling technique used was non-probability sampling with a purposive sampling method, resulting in 805 participants who met the inclusion criteria and passed the screening process. Data collection was conducted through an online survey using the Clance Impostor Phenomenon Scale (CIPS), the Multidimensional Perfectionism Scale (MPS), and the Indonesian version of the Performance Failure Appraisal Inventory (PFAI). The analysis showed that perfectionism had a positive and significant effect on the impostor phenomenon (β = 0.308; p < 0.01). Fear of failure also proved to have a positive and significant effect (β = 0.471; p < 0.01). Simultaneously, these two variables were able to explain 57.1% of the variance in the impostor phenomenon. These findings indicate that high self-standards and fear of failure play a significant role in the emergence of the impostor phenomenon in fresh graduate students, so that the development of psychological interventions that focus on managing these two factors in the early phase of career transition is needed.Fresh graduate berada pada masa transisi dari dunia akademik menuju dunia kerja, yaitu fase perkembangan yang sering kali disertai dengan meningkatnya kerentanan terhadap tekanan psikologis. Salah satu bentuk tekanan tersebut adalah impostor phenomenon, yaitu kecenderungan individu untuk meragukan kompetensi dirinya meskipun memiliki bukti objektif atas keberhasilannya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh perfectionism dan fear of failure terhadap impostor phenomenon pada fresh graduate di Indonesia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Analisis data dilakukan menggunakan Structural Equation Modeling (SEM). Teknik sampling yang digunakan adalah non-probability sampling dengan metode purposive sampling, sehingga diperoleh 805 partisipan yang memenuhi kriteria inklusi dan lolos proses screening. Pengumpulan data dilakukan melalui survei daring menggunakan Clance Impostor Phenomenon Scale (CIPS), Multidimensional Perfectionism Scale (MPS), dan Performance Failure Appraisal Inventory (PFAI) versi Indonesia. Hasil analisis menunjukkan bahwa perfectionism berpengaruh positif dan signifikan terhadap impostor phenomenon (β = 0,308; p < 0,01). Fear of failure juga terbukti memiliki pengaruh positif dan signifikan (β = 0,471; p < 0,01). Secara simultan, kedua variabel tersebut mampu menjelaskan 57,1% varians impostor phenomenon. Temuan ini menunjukkan bahwa standar diri yang tinggi dan ketakutan terhadap kegagalan berperan penting dalam munculnya impostor phenomenon pada fresh graduate, sehingga diperlukan pengembangan intervensi psikologis yang berfokus pada pengelolaan kedua faktor tersebut pada fase awal transisi karier.