Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Peran Psikiatri Dalam Penegakan Hukum Sebagai Visum Et Repertum Herlin Sobari; Maharani Nurdin
Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan Vol 8 No 15 (2022): Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan
Publisher : Peneliti.net

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (120.591 KB) | DOI: 10.5281/zenodo.7049268

Abstract

The process of law enforcement and justice is a scientific effort in the settlement of criminal cases on a person's body, health and life such as cases of murder, assault, sexual crimes, acts that cause death or injury, forensic medicine is very much needed, one of which is visum et reertum. Visum Et Repertu itself is a certificate (doctor). Along with the development of legal science, expert testimony in the field of mental health, including psychiatric visum et repertum. Because in everyday life, we are very aware of the needs starting from the requirements of entry in a work, education, and in this case, in particular to handle criminal cases and as evidence in civil matters (for example contract cancellation, forgiveness, grants, divorce and adoption). For criminal cases to date, the most appropriate preparation of expert statements is a criminal case in which a person suspected of having a mental disorder commits violence or someone who has suffered a mental disorder after experiencing physical or psychological abuse.
Pemahaman dan Sikap Remaja terhadap Kesehatan Reproduksi dan Seksual di Karawang: Kajian Kualitatif dalam Perspektif Sosial dan Humaniora Andra Nurhaliza; Nuke Rouffyanti Abdillah; Herlin Sobari
Jurnal Ilmiah dan Kajian Akademik Vol 3 No 02 (2025): Desember 2025
Publisher : Badan Perencanaan Pembangunan Daerah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengetahuan dan sikap remaja terhadap kesehatan reproduksi dan seksual di Kabupaten Karawang serta mengidentifikasi faktor-faktor sosial, budaya, dan pendidikan yang memengaruhi pemahaman mereka terhadap isu-isu tersebut. Menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan perspektif sosial dan humaniora, penelitian ini menggali bagaimana remaja membangun makna seksualitas dalam konteks sosial yang diwarnai oleh nilai religius, adat Sunda, dan pengaruh modernisasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman remaja mengenai seksualitas tidak hanya dibentuk oleh faktor biologis, tetapi merupakan hasil konstruksi sosial yang lahir dari interaksi antara nilai budaya, norma agama, dan media digital. Konstruksi sosial tersebut menciptakan ambiguitas dan ketegangan nilai antara norma tradisional yang menekankan kesopanan dengan wacana modern yang lebih terbuka terhadap pembahasan seksualitas. Budaya patriarki juga berperan besar dalam membentuk ketimpangan gender, di mana perempuan cenderung dibatasi dalam mengekspresikan pengetahuan dan sikap seksualnya dibanding laki-laki. Selain itu, keluarga dan sekolah masih menunjukkan resistensi terhadap pembahasan seksualitas secara terbuka, sementara media dan teman sebaya menjadi sumber utama informasi, meskipun seringkali tidak akurat. Kondisi ini menyebabkan munculnya disorientasi nilai dan perilaku berisiko di kalangan remaja. Dengan demikian, penelitian ini menegaskan pentingnya pendidikan kesehatan reproduksi yang komprehensif, kontekstual, dan sensitif terhadap nilai sosial-budaya lokal, serta perlunya kolaborasi antara keluarga, sekolah, dan masyarakat dalam membangun konstruksi sosial yang sehat dan inklusif tentang seksualitas remaja