Latipun Latipun
Fakultas Psikologi, Universitas Muhammadiyah Malang

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Memotret Peran Keberfungsian Keluarga Terhadap Regulasi Emosi Remaja yang Diasuh Oleh Ibu Tunggal Wanda Erza Widyaswara; Latipun Latipun; Nandy Agustin Syakarofath
Gadjah Mada Journal of Psychology (GamaJoP) Vol 8, No 2 (2022)
Publisher : Faculty of Psychology, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (328.915 KB) | DOI: 10.22146/gamajop.68791

Abstract

Memasuki usia remaja, kemampuan regulasi emosi sangat dibutuhkan dalam menghadapi berbagai stresor yang muncul. Kemampuan meregulasi emosi tersebut menurut berbagai studi sangat bergantung kepada kondisi keluarga dimana remaja tersebut tumbuh dan berkembang. Penelitian ini bertujuan untuk menguji kemampuan keberfungsian keluarga dalam memprediksi regulasi emosi remaja yang dibesarkan oleh ibu tunggal. Terdapat 116 responden (49 laki-laki dan 67 perempuan) yang diperoleh melalui teknik purposive sampling. Pengambilan data menggunakan skala The McMaster Family Assessment Device (FAD) untuk mengukur keberfungsian keluarga dan skala Emotion Regulation Questionnaire (ERQ) untuk mengukur regulasi emosi remaja. Berdasarkan analisis regresi linear berganda diperoleh hasil bahwa aspek keberfungsian keluarga secara signifikan berperan terhadap regulasi emosi pada remaja yang dibesarkan oleh ibu tunggal (p < 0,05 dan R² = 0.12). Berdasarkan analisis regresi linear berganda pada masing-masing aspek FAD, roles (p = 0,04) dan behavior control (p = 0,02) merupakan aspek yang paling signifikan dibandingkan dengan aspek lainnya pada regulasi remaja yang diasuh oleh ibu tunggal. Artinya adanya peran dan kontrol perilaku dari ibu dapat membantu remaja untuk belajar mengelola emosi mereka dengan lebih baik.
DUKUNGAN SOSIAL AWAL BERBASIS TRAUMA-INFORMED: PENGUATAN KAPASITAS KOMUNITAS PROFESIONAL LINTAS SEKTOR BAGI PEREMPUAN PENYINTAS KEKERASAN SEKSUAL Purwo Erina Wahyuriko; Latipun Latipun; Diyah Karmiyati
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 10, No 3 (2026): Juni
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v10i3.38755

Abstract

Abstrak: Kekerasan seksual terhadap perempuan berdampak serius pada kesehatan mental dan membatasi akses penyintas terhadap dukungan sosial yang aman. Komunitas profesional lintas sektor, seperti petugas Dinas Sosial, Dinas Perempuan dan Anak, serta layanan rehabilitasi sosial, memiliki peran penting sebagai penyedia dukungan sosial awal. Namun, kapasitas mereka dalam merespons pengungkapan kekerasan seksual masih perlu diperkuat. Artikel ini bertujuan mengevaluasi program penguatan kapasitas komunitas profesional lintas sektor dalam menyediakan dukungan sosial awal yang aman dan responsif bagi perempuan penyintas kekerasan seksual. Kegiatan dilaksanakan melalui pelatihan partisipatif yang melibatkan 24 peserta. Evaluasi dilakukan menggunakan pengukuran awal dan akhir terhadap aspek sikap dan self-efficacy melalui 20 item kuesioner. Hasil menunjukkan peningkatan pada sikap non-stigmatis (mean 3,31 menjadi 4,04) dan self-efficacy (mean 3,61 menjadi 4,35). Program ini berkontribusi dalam meningkatkan kesiapan peserta memberikan respons empatik serta memperkuat praktik dukungan sosial berbasis trauma-informed melalui pelatihan dan penyusunan buku saku.Abstract: Sexual violence against women has a serious impact on mental health and limits survivors’ access to safe social support. Cross-sectoral professional communities, such as staff from the Social Services Agency, the Women and Children’s Agency, and social rehabilitation services, play a crucial role as providers of initial social support. However, their capacity to respond to disclosures of sexual violence still needs to be strengthened. This article aims to evaluate a capacity-building program for cross-sectoral professional communities in providing safe and responsive initial social support for women survivors of sexual violence. The activity was conducted through participatory training involving 24 participants. The evaluation was carried out using pre- and post-measurements of attitudes and self-efficacy through a 20-item questionnaire. The results showed an increase in non-stigmatizing attitudes (mean 3.31 to 4.04) and self-efficacy (mean 3.61 to 4.35). This program contributed to enhancing participants’ readiness to provide empathetic responses and strengthened trauma-informed social support practices through training and the development of a pocket guide.