Fitriana Melinda
Bagian/SMF Ilmu Kesehatan Anak Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Wangaya, Kota Denpasar, Bali, Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Laporan kasus: demam rematik akut pada anak Fitriana Melinda; Anak Agung Made Sucipta
Intisari Sains Medis Vol. 12 No. 3 (2021): (Available online: 1 December 2021)
Publisher : DiscoverSys Inc.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (279.608 KB) | DOI: 10.15562/ism.v12i3.1101

Abstract

Background: Acute rheumatic fever is an autoimmune sequelae caused by group A streptococcal infection. Acute rheumatic fever causes a systemic inflammatory response followed by disorders of the brain, heart, skin, and joints. This disease tends to recur and begins with Streptococcus beta-hemolytic group A infection in the respiratory tract.Case description: A boy aged 9 years 7 months with complaints of pain in both legs so that his legs are difficult to move since one day before being admitted to the hospital. The patient also had a fever for about 1 week, cough and sore throat before complaining of joint pain but the patient did not seek treatment. The patient had a history of recurrent sore throat and was rarely treated. Physical examination revealed that both knees were erythematous, warm and there was tenderness and limited leg movement due to pain. On examination of the tonsils found T2-T2 is not hyperemic. Laboratory examination showed positive ASTO. The diagnosis was made as acute rheumatic fever and treated with erythromycin and aspirin.Conclusion: Acute rheumatic fever can be established using the Jones criteria and modified WHO. In patients with typical symptoms or manifestations according to the major and minor criteria, it will be easier to establish the diagnosis.  Latar belakang: Demam rematik akut adalah suatu sekuele autoimun akibat infeksi streptokokus grup A. Kondisi demam rematik akut menyebabkan suatu respon inflamasi sistemik yang diikuti oleh adanya gangguan pada organ otak, jantung, kulit, dan sendi. Penyakit ini cenderung terjadi berulang dan diawali dengan infeksi Streptococcus beta hemolyticus grup A pada saluran napas.Deskripsi kasus: Anak laki-laki berusia 9 tahun 7 bulan dengan keluhan nyeri pada kedua kaki sehingga kaki sulit untuk digerakkan sejak satu hari sebelum masuk RS. Pasien juga mengalami demam sekitar 1 minggu, batuk dan nyeri tenggorok sebelum mengalami keluhan nyeri sendi namun pasien tidak berobat. Pasien memiliki riwayat nyeri tenggorok berulang dan jarang diobati. Pemeriksaan fisik didapatkan kedua lutut eritema, teraba hangat dan terdapat nyeri tekan serta gerakan kaki terbatas karena nyeri. Pada pemeriksaan tonsil didapatkan T2-T2 tidak hiperemis. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan ASTO positif. Diagnosis ditegakkan sebagai demam reumatik akut dan diberikan terapi eritromisin dan aspirin.Simpulan: Demam rematik akut dapat ditegakkan menggunakan kriteria Jones dan modifikasi WHO. Pada pasien dengan gejala khas atau manifestasi sesuai dengan kriteria mayor dan minor akan mempermudah penegakkan diagnosis.
Anak laki-laki usia 4 tahun dengan paraparesis lower motor neuron, gizi kurang, pendek, dan masalah makan di RS tipe B: sebuah laporan kasus Fitriana Melinda; Made Ratna Dewi
Intisari Sains Medis Vol. 12 No. 3 (2021): (Available online: 1 December 2021)
Publisher : DiscoverSys Inc.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (309.018 KB)

Abstract

Background: Paralysis is a symptom of various diseases, disorders, or certain conditions, ranging from mild to severe and can be caused by infectious processes, trauma, malignancies, autoimmune diseases, and other abnormal processes. Eating problems in children is one of the developmental disorders that can occur in healthy infants or children. Eating problems have the potential to cause cognitive and behavioral disorders, and are associated with anxiety disorders and eating disorders in children, adolescents, and young adults. Case description: A 4 years 2 months old male, complained not being able to walk and his legs shrinking since 2 weeks of SMRS. His male cousin has experienced paralysis of the right leg since the 3rd grade of elementary school. There were multiple enlarged right inguinal lymph nodes accompanied by refusal to take meal for the past 3 months. Neurological examination found normal energy in all four extremities but decreased patellar and achilles reflex. Body weight (BW) was 11 kg, body length (BL) 94 cm, BW/BL (-3) - (-2) SD (wasted). Leukocytes 6.4/ul, hemoglobin 11.0 g/dl, hematocrit 33.3%, MCV 69.4 fl, MCH 22.9 pg, MCHC 33.0 g/L, platelets 396.000 /ul, ESR 41 mm / hours, CRP 11 mg/L and CK 1,441 U/L. Radiological examination of lumbosacral photo showed the impression of paraspinal muscle spasm. The patient diagnose with lower motor neuron paraparesis. Conclusion: Handling of patients with eating problems and LMN paraparesis is given non-medical management by meeting fluid needs, nutrition according to patient needs and education about feeding rules to the patient's parents, consultation with psychologists, and medical rehabilitation seek treatment. improvement of eating problems and medical problems in the form of weak legs more optimally.   Latar belakang: Kelumpuhan adalah gejala dari berbagai penyakit, kelainan, atau kondisi tertentu, mulai dari yang ringan sampai berat, yang disebabkan oleh proses infeksi, trauma, keganasan, penyakit autoimun, dan proses abnormal lainnya. Masalah makan pada anak merupakan salah satu gangguan perkembangan yang dapat terjadi pada bayi atau anak sehat. Selain itu, masalah makan berpotensi menyebabkan gangguan kognitif dan perilaku, serta dikaitkan dengan gangguan cemas dan kelainan makan pada anak, remaja, dan dewasa muda. Deskripsi kasus: Anak laki-laki berusia 4 tahun 2 bulan, keluhan tidak bisa berjalan dan kaki mengecil sejak 2 minggu SMRS. Kakak sepupu laki-laki dari ibu pasien mengalami kelumpuhan kaki kanan sejak kelas 3 SD. Ditemukan adanya pembesaran kelenjar getah bening inguinal dekstra multipel disertai tidak mau makan sejak 3 bulan lalu. Pemeriksaan neurologis didapatkan tenaga normal pada keempat ekstremitas namun penurunan refleks fisiologis kniepeesreflex (KPR) dan achillespeesreflex (APR). Status antropometri yaitu BB 11 kg, PB 94 cm, BB/PB (-3)-(-2) SD (wasted). Leukosit 6.4 /ul, hemoglobin 11.0 g/dl, hematokrit 33,3%, MCV 69,4 fl, MCH 22,9 pg, MCHC 33,0 g/L, trombosit 396.000/ul, LED 41 mm/jam, CRP 11 mg/L dan CK 1,441 U/L. Radiologi lumbosakral antero-posterior/lateral didapatkan kesan paraspinal muscle spasm. Pasien didiagnosis paraparesis lower motor neuron (LMN). Simpulan: Penanganan pasien dengan anak dengan masalah makan dan paraparesis LMN diberikan penatalaksanaan non-medikamentosa dengan pemenuhan kebutuhan cairan, nutrisi sesuai kebutuhan pasien dan edukasi mengenai feeding rules kepada orang tua pasien, konsultasi dengan psikolog, serta rehabilitasi medik untuk mengupayakan perbaikan masalah makan dan masalah medis berupa kaki lemas dengan lebih maksimal.