Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Perbedaan rerata volume ekspirasi paksa satu detik pada perokok dan bukan perokok mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Tarumanagara Cathlin Soeyanto; Zita Atzmardina
Tarumanagara Medical Journal Vol. 2 No. 2 (2020): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v3i1.9721

Abstract

Rokok merupakan salah satu produk tembakau ataupun sintetisnya yang dimaksudkan untuk dibakar, dihisap ataupun dihirup asapnya. Tembakau membunuh lebih dari 7 juta manusia setiap tahunnya. Menurut World Health Organization (WHO) pada tahun 2015, prevalensi penduduk perokok dewasa setiap hari di Indonesia sebesar 34% yang menempati urutan pertama se-Asia Tenggara. Menurut RISKESDAS, proporsi penduduk umur ?15 tahun yang merokok dari tahun 2007 – 2013 meningkat sebesar 2,1%. Volume ekspirasi paksa dalam 1 detik (VEP1) merupakan tolak ukur yang dapat digunakan untuk menilai beratnya PPOK dan memantau perjalanan PPOK, dimana salah satu faktor penyebab yang paling utama untuk terjadinya PPOK adalah merokok. Oleh karena itu, studi ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan rerata VEP1 pada perokok dan bukan perokok. Penelitian ini bersifat analitik observasional dengan desain cross-sectional, pengambilan sampel dilakukan secara consecutive sampling. Subyek studi masing – masing 42 responden perokok dan bukan perokok. Pengumpulan data menggunakan kuisioner dan untuk menilai VEP1 digunakan spirometer. Hasil studi didapatkan VEP1 pada perokok rata – rata sebesar 82,11% dan VEP1 pada bukan perokok rata – rata sebesar 85,11%. Hasil analisis uji-t independen menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan signifikan antara VEP1 pada perokok dan bukan perokok (p=0,394) dan mean difference -3. Kesimpulan dari penelitian ini adalah VEP1 pada perokok lebih rendah daripada yang bukan perokok, namun secara statistik tidak didapatkan hubungan antara merokok dengan menurunnya VEP1.
Hubungan pengetahuan dan sikap terhadap perilaku pemberian ASI eksklusif oleh ibu bekerja di Desa Cadas Puskesmas Telagasari Karawang Rika Sukma Pratiwi; Zita Atzmardina
Tarumanagara Medical Journal Vol. 2 No. 2 (2020): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v3i1.9748

Abstract

ASI (air susu ibu) eksklusif adalah ASI yang diberikan kepada bayi sejak dilahirkan selama 6 bulan tanpa menambahkan dan atau mengganti dengan makanan atau minuman lain (kecuali obat, vitamin, dan mineral). ASI dapat mengurangi resiko kematian pada bayi. Di kabupaten Karawang capaian ASI eksklusif masih rendah termasuk di Puskesmas Telagasari 72,31% dari target 80%. Banyaknya ibu bekerja di Kabupaten Karawang menjadi kendala terhadap kelangsungan pemberian ASI eksklusif. Studi ini dilakukan untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap terhadap perilaku pemberian ASI eksklusif oleh ibu bekerja di Desa Cadas Puskesmas Telagasari Karawang. Studi menggunakan metode analitik cross-sectional dengan jumlah responden sebanyak 130 responden yang diambil dengan teknik purposive sampling. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner. Hasil studi menunjukan bahwa dari 130 responden didapatkan sebanyak 67(51,5%) responden memberikan ASI eksklusif, 87 (66,9%) responden berpengetahuan baik dan 67 (51,5%) responden bersikap baik. Pada analisis Chi-Squre didapatkan nilai p <0,004 yang menunjukkan adanya hubungan bermakna antara pengetahuan dengan perilaku pemberian ASI eksklusif dengan nilai PR 1,87. Sedangkan pada sikap diperoleh nilai p <0,036 yang menunjukkan adanya hubungan bermakna antara sikap dengan perilaku pemberian ASI eksklusif oleh ibu yang bekerja dengan nilai PR 1,48. Pada uji tersebut didapatkan pula hubungan yang bermakna antara pengetahuan dengan sikap pemberian ASI eksklusif, dengan nilai p <0,035 dan PR 1,59.
Pengetahuan, sikap dan perilaku pelajar SMAN 4 Sukabumi terkait pencegahan penyakit akibat Tinea versikolor Zita Atzmardina; Cindy Paramitha Sunardi
Tarumanagara Medical Journal Vol. 4 No. 2 (2022): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v4i2.20819

Abstract

Tinea versikolor atau yang lazim dikenal dengan penyakit panu merupakan penyakit yang diakibatkan oleh infeksi jamur. Infeksi jamur merupakan penyebab utama ke empat dari penyakit kulit di seluruh dunia. Pengetahuan yang baik mengenai kebersihan diri diperlukan untuk mengurangi terjadinya Tinea versikolor. Studi ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan, sikap dan perilaku pelajar di SMAN 4 Sukabumi. Metode yang digunakan ialah analitik observasional dengan desain cross sectional. Alat ukur yang digunakan dengan menggunakan kuesioner yang sudah divalidasi. Uji statistik menggunakan uji Fisher exact. Hasil yang didapatkan pada 194 responden menunjukkan ada hubungan bermakna (P<0,05) antara pengetahuan, sikap dan perilaku responden. Tingkat pengetahuan dan sikap terhadap perilaku pencegahan Tinea versikolor masing-masing menunjukkan p-value 0,002 dan 0,008 secara berurutan; hubungan tingkat pengetahuan terhadap sikap pencegahan Tinea versikolor menunjukan p-value 0,001.Tingkat pengetahuan, sikap, dan perilaku responden juga tergolong baik (90,7%; 86,1%; 96.4%). Hasil studi ini dapat disimpulkan adanya hubungan yang bermakna antara tingkat pengetahuan, sikap dan perilaku pencegahan Tinea versikolor pada pelajar di SMAN 4 Kota Sukabumi.
Hubungan Antara Konsumsi Garam Berlebih dengan Hipertensi Tidak Terkendali Pada Pasien Hipertensi Berusia Minimal 20 Tahun Zita Atzmardina; Agnestina Agnestina; Ajeng Probowati
Ebers Papyrus Vol. 18 No. 2 (2012): EBERS PAPYRUS
Publisher : Medical Faculty Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hipertensi termasuk  sepuluh  penyakit  terbanyak  di  Puskesmas Kelurahan Srengseng, Jakarta  Barat.  Pada tahun   2008,  kejadiannya  meningkat  lebih  dari  dua  kali  lipat. Berdasarkan survei awal, penderita hipertensi tidak terkendali sering mengonsumsi makanan dengan  kadar  garam  tinggi.  Karenanya, ingin  diketahui apakah ada  hubungan antara konsumsi garam berlebih dengan hipertensi tidak  terkendali.  Penelitian bersifat analitik cross-sectional ini dilakukan terhadap 68 penderita hipertensi berusia minimal 20 tahun yang datang ke Balai Pengobatan (BP) umum. Pengumpulan data menggunakan metode non random purposive sampling, wawancara dari kuesioner 24 hour dietary recall, dan pengukuran tekanan darah. Data yang di peroleh berasal dari uji statistik Chi square yang signifikan dan perhitungan risiko dengan   Prevalence Ratio (PR). Dari 35 responden yang mengonsumsi garam berlebih terdapat 29 orang (82,86%) yang menderita hipertensi tidak terkendali, sedangkan dari 33 responden yang mengonsumsi garam secara moderat (tidak berlebih) hanya 16 orang (48,48%). Dari penelitian ini ditemukan adanya hubungan yang bermakna antara konsumsi garam berlebih dengan hipertensi tidak terkendali pada pasien berusia minimal 20 tahun di Puskesmas Kelurahan Srengseng, (X 2=8,97; 0.0025<p<0.005). Responden yang mengonsumsi garam berlebih mempunyai risiko  1,71 kali  lebih  besar (PR=1,71) menderita hipertensi tidak terkendali dibandingkan dengan responden yang mengonsumsi garam secara moderat.