Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Relationship Between Stress Level And Sleep Quality With Dysmenorrhea Incidence: Literature Review N Nurhayani; Wilda Anggriani
Prosiding University Research Colloquium Proceeding of The 14th University Research Colloquium 2021: Bidang Kesehatan
Publisher : Konsorsium Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Perguruan Tinggi Muhammadiyah 'Aisyiyah (PTMA) Koordinator Wilayah Jawa Tengah - DIY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (166.33 KB)

Abstract

Latar belakang : Dismenore merupakan masalah ginekologis yang paling umum dialami wanita baik remaja maupun dewasa. Dismenore menjadi suatu kondisi yang merugikan bagi banyak wanita dan memiliki dampak besar pada kualitas hidup terkait kesehatan. Akibatnya, dismenore juga memegang tanggung jawab atas kerugian ekonomi yang cukup besar karena biaya obat, perawatan medis, dan penurunan produktivitas. Data dari World Health Organization (WHO) dalam penelitian Sulistyorini (2017) didapatkan kejadian sebesar 1.769.425 jiwa (90%) wanita yang mengalami dismenore. Rata-rata di negara Eropa dismenore terjadi pada 45-97% wanita. Dengan prevalensi terendah di Bulgaria (8,8%) dan tertinggi mencapai 94% di negara Finlandia.Nyeri haid terjadi pada lebih dari setengah wanita usia reproduksi dengan prevalensi yang beragam. Prevalensi dismenore primer di Indonesia cukup tinggi yaitu 60-75% pada perempuan muda. Prevalensi dismenore di Indonesia 64,25% yang terdiri dari 54,89% dismenore primer dan 9,36% dismenore sekunder. Banyak faktor yang memengaruhi kejadian dismenore pada remaja. Faktor yang berpengaruh dari dismenore sendiri adalah faktor psikis seperti stres, kondisi tubuh yang menurun, kurang darah, faktor genetik dan ketidakseimbangan kimiawi, serta adanya hubungan yang bermakna antara tingkat stres dan kejadian disminore, dan sebagian besar mahasiswi mengalami stres ringan dan mengalami disminorea. Tujuan : Penelitian ini adalah menganalisis adanya hubungan antara tingkat stres dan kualitas tidur dengan dismenore. Metode : Metode penelitian ini adalah systematic review dari penelitian experimental menggunakan metode PRISMA dengan analisis data menggunakan meta-sintesis. Hasil : Didapatkan proses awal memberikan hasil (n=275) dari database Pubmed, Science Direct, dan Google Scholar. Setelah proses penghapusan artikel didapatkan (n=180). Dari 180 artikel tersebut dilakukan screening dari membaca judul (n=40), abstrak (n=38), lalu screening full text didapatkan (n=10) yang selanjutnya dilakukan review. Dari hasil review dapat. Simpulan : Adanya hubungan yang bermakna antara tingkat stres dan kualitas tidur dengan kejadian dismenore.
Anak 2 Tahun dengan Kejang Demam Kompleks, Febris Hari Pertama dengan Disentri Amuba Wilda Anggriani; Muhammad Iqbal Susanto Akramullah; Eva Musdalifah
Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta 2023: Proceeding Book Call for Papers Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (Gaster
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kejang demam (Febrile Seizure) adalah salah satu masalah umum pada anak-anak. Kejang demam biasanya terjadi antara usia 6-60 bulan dengan suhu 380C dan lebih. Kejang demam terbagi menjadi 2 klasifikasi, yaitu kejang demam sederhana (Simple Febrile Seizure) dan kejang demam komplek (Complex Febrile Seizure). Kejang demam kompleks adalah kejang demam yang lama kejangnya lebih dari 15 menit, dan berulang dalam 24 jam. Disentri adalah penyakit diare akibat infeksi Entamoeba Hystolytica merupakan penyakit yang tersebar diseluruh dunia dengan terpusat dinegara berkembang dengan tingkat sanitasi yang rendah. Kami melaporkan kasus anak usia 2 tahun dengan berat badan 12 kg, datang ke IGD dengan keluhan kejang SMRS. Pasien mengalami kejang disertai demam 1 kali dengan durasi ±7 menit dan setelah masuk bangsal demam 1 kali durasi ±5 berulang selama 24 jam, kejang seluruh tubuh. BAB cair berwarna hijau dan kuning, terdapat ampas dan tidak ada lendir sejak 2 hari sebelum masuk rumah sakit sebanyak 2 kali. Batuk (+) Pilek (+). Pemeriksaan Feses Rutin menunjukan warna hijau, konsistensi lunak dan Amuba positif. Pada Hari rawat kedua dilakukan pemeriksaan fisik didapatkan stomatitis pada bibir Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang tersebut, diagnosis pasien adalah kejang demam kompleks, febris H-1 dengan disentri amuba, stomatitis.