Cokorda Istri Sukrawati, Cokorda Istri
Balai Bahasa Provinsi Bali Jalan Trengguli 1 Nomor 34, Denpasar

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

NILAI EDUKATIF CERITA “BE JELEG TRESNA TELAGA”: MEMPERKUAT PENDIDIKAN KARAKTER BANGSA Sukrawati, Cokorda Istri
Aksara Vol 27, No 2 (2015): Aksara, Edisi Desember 2015
Publisher : Balai Bahasa Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (441.902 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v27i2.187.229-241

Abstract

Penelitian ini membicarakan nilai-nilai edukatif dalam cerita “Be Jeleg Tresna Telaga” sebagai salah satu upaya memperkuat karakter bangsa. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan nilai-nilai edukatif yang terkandung dalam salah satu cerita rakyat Bali, yaitu “Be Jeleg Tresna Telaga”. Kajian nilai-nilai edukatif yang terdapat dalam cerita itu dianalisis dengan teori pragmatik. Pendekatan pragmatik memberikan perhatian utama terhadap peranan pembaca. Selain itu, pendekatan pragmatik  juga mempertimbangkan implikasi pembaca melalui berbagai kompetensinya. Dengan mempertimbangkan indikator karya sastra dan pembaca, maka masalah-masalah yang dapat dipecahkan melalui pendekatan pragmatik, di antaranya berbagai tanggapan masyarakat tertentu terhadap sebuah karya sastra, baik sebagai pembaca eksplisit maupun implisit dan secara sinkronis maupun diakronis. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode perpustakaan karena teks yang diteliti telah didokumentasikan dalam bentuk sebuah buku, yaitu kumpulan buku cerita rakyat Bali karya Suparta, berjudul Satua Bali. Berdasarkan analisis yang telah dilakukan, terdapat empat penerapan nilai edukatif yang diperoleh dalam cerita rakyat tersebut, yaitu cinta tanah air, demokratis, religius, dan tanggung jawab. Nilai-nilai tersebut bersifat universal sehingga dapat digunakan sebagai pedoman dalam mewujudkan generasi muda yang berkarakter kuat sehingga mampu menghadapi berbagai pengaruh dalam kehidupan dalam era globa saat ini.
REFLEKSI BUDAYA BALI DALAM CERPEN TOGOG KARYA NYOMAN MANDA Sukrawati, Cokorda Istri
METASASTRA: Jurnal Penelitian Sastra Vol 8, No 2 (2015)
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26610/metasastra.2015.v8i2.249-260

Abstract

Tulisan ini bertujuan mendeskripsikan aspek budaya Bali yang terkandung dalam salah satu cerpen Bali modern berjudul “Togog” dengan teori antropologi sastra. Teori tersebut merupakan salah satu teori dalam kritik sastra yang menelaah hubungan antara sastra dan budaya. Hal utama yang menjadi fokus pengamatan adalah bagaimana sastra itu digunakan sehari-hari sebagai tindakan bermasyarakat. Metode yang digunakan dalam pengumpulan data dalam penelitian ini adalah metode studi pustaka, mengingat sumber data berupa sumber tertulis, sedangkan analisis data dilakukan dengan metode deskriptif analisis. Untuk melancarkan proses pengumpulan data, metode tersebut dibantu dengan teknik catat, yaitu mencatat temuan data yang akan dijadikan model analisis. Data-data yang diperoleh dianalis dengan metode deskripsi, yaitu memerikan, menggambarkan, menguraikan, dan menjelaskan objek yang dikaji. Hasil yang ingin dicapai dalam penelitian ini, yaitu deskripsi tentang aspek-aspek budaya Bali, yang terefleksi atau tercermin dalam cerpen ”Togog”.Abstract: This paper aimed to describe aspects of Balinese culture that is contained in one of the Balinese modern short story titled "Togog" by using theory of anthropological literature. The theory is one of theory in literature criticism that analyzed the relationship between literature and culture. The main thing that becomes the focus of this study is how literature was used daily as social action. The method used in collecting the data in the study is the method of literature review, since the source of the data is in the form of written sources, while the data analysis was conducted using descriptive analysis.To expedite the process of collecting data, the method assisted with technical note, the recorded and noted data will serve as a model of analysis. The obtained data were analyzed by the descriptive method, which describe, depict, elaborate, and explain the object being studied. The results to be achieved in this study, is the description of aspects of anthropology, such as religion, customs, livelihoods, and traditional arts performing in the short story "Togog".
CERITA TUUNG KUNING: SEBUAH KAJIAN KRITIK FEMINIS Sukrawati, Cokorda Istri
ATAVISME Vol 15, No 1 (2012): ATAVISME, Edisi Juni 2012
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24257/atavisme.v15i1.51.95-102

Abstract

Perbedaan gender sesungguhnya tidak menjadi masalah sepanjang tidak melahirkan ketidakadilan gender. Ketidakadilan gender termanifestasikan dalam berbagai bentuk, seperti marginalisasi, subordinasi, pembentukan stereotipe melalui pelabelan negatif, kekerasan, beban kerja lebih panjang dan lebih banyak, serta sosialisasi ideologi nilai peran gender yang umumnya ditanggung dan dibebankan pada wanita. Semua hal itu digunakan untuk mewahanai kritik sastra feminis, khususnya mengenai citra wanita dalam cerita Tuung Kuning. Citra wanita yang dimaksud adalah semua gambaran atau lukisan mental spiritual dan tingkah laku keseharian wanita. Wanita dalam karya­karya sastra Bali dilukiskan dalam berbagai citra yang pada dasarnya menunjukkan inferioritas wanita. Dalam kajian cerita Tuung Kuning, citra wanita yang paling menonjol adalah ?wanita sebagai korban kesewenangan laki­laki?. Abstract: The gender difference is not really a problem as long as they do not deliver gender inequality. Gender inequality is manifested in various forms, such as marginalization, stereotyping through the formation of negative labeling, violence, longer and more numerous work load, and dissemination of the ideology of gender roles generally incurred and charged to women. All of those are used to drive feminist literary criticism, particularly on women image in the story of Tuung Kuning. The women image in this story is all kinds of an idea or mental illustration of the spiritual and daily behavior of women. Women in Balinese literature are illustrated in various images which essentially demonstrates women inferiorism. In the study of the Tuung Kuning story, the most prominent image of women is ?women as victims of male tyranny?. Key Words: gender, marginalization, violence, and women
PENGARUH GLOBALISASI TERHADAP PERKEMBANGAN KESUSASTRAAN BALI Sukrawati, Cokorda Istri
ATAVISME Vol 18, No 2 (2015): ATAVISME, Edisi Desember 2015
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24257/atavisme.v18i2.118.233-245

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan pengaruh globalisasi terhadap budaya dan perkembangan sastra Bali dengan landasan teori globalisasi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode pustaka melalui langkah-­langkah, di antaranya observasi, menyimak, dan mencatat pada kartu data. Analisis data dilakukan dengan metode deskriptif kualitatif. Penelitian ini menghasilkan temuan bahwa budaya Bali sejak lama sudah bersentuhan dengan globalisasi. Potensi budaya dan kearifan lokal yang dimiliki masyarakat Bali dapat bersinergi dengan pengaruh globalisasi itu. Dalam bidang sastra khususnya, pengaruh globalisasi menunjukkan sesuatu yang positif. Semua itu dapat dibuktikan dengan semakin tingginya tingkat kreativitas dalam penciptaan karya sastra Bali, baik dalam bentuk tradisional maupun modern. Abstract: The paper aims to describe the effect of globalization toward the Balinese culture and literary development with the basic theory of globalization. The method used in this research is the literary method through some steps, including observes, observe, and noted on data cards. Data analysis uses qualitative of the descriptive method. Based on the result of the research it is found that Balinese culture has long been touched with globalization. The potency of culture and local genius of Balinese community can synergize with the effects of globalization. In the field of literature particularly, the effects of globalization mostly show something positive. All can be proved by the increasing creativity in creating literary works, both in traditional and modern forms. Key Words: globalization; influence; culture; Balinese literature; creativity
MASALAH SOSIAL DALAM GEGURITAN JAPATUAN: Sebuah Kajian Sosiologi Sastra (Social Problem in Geguritan Japatuan (a Traditional Balinese Poetry), a Study of Sociology of Literature) Sukrawati, Cokorda Istri
Salingka Vol 11, No 02 (2014): SALINGKA, EDISI DESEMBER 2014
Publisher : Balai Bahasa Sumatra Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/salingka.v11i02.22

Abstract

This writing aims at describing the social problem occurring in one of the Balinese Traditional works entitled “Geguritan Japatuan”by sociology of literature approach. Data source was taken purposively, that is geguritan (traditional poetry) which consists of social  problem. The method used in collecting data was literature review since the data was written data. Then the data was analyzed by using descriptive method that analyzed Geguritan Japatuan. Based on the analysis, the most social problem in the “Geguritan  Japatuan” is the problem related with the custom, leteh and cuntaka. The infraction of the custom in term of leteh and cuntaka was finally solved by consensus.  The custom in Balinese society is mostly Bali Hindu.