Christina Dewi Tri Murwani, Christina Dewi Tri
Program Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Darma Yogyakarta

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

JEJAK PERLAWANAN DALAM NOVEL BUMI MANUSIA DAN DE STILLE KRACHT Murwani, Christina Dewi Tri
ATAVISME Vol 13, No 2 (2010): ATAVISME, Edisi Desember 2010
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (232.918 KB) | DOI: 10.24257/atavisme.v13i2.134.229-242

Abstract

Menerapkan teori poskolonial pada dua karya sastra yang ditulis oleh dua pengarang yang berbeda nasionalitasnya dan ditulis dalam kurun waktu yang berlainan tetapi merepresentasikan kehidupan masa kolonial Hindia Belanda adalah hal yang menarik. Bumi Manusia (BM, 1980) karya Pramoedya Ananta Toer dan De Stille Kracht (DSK, 1900) karya Louis Couperus menghadirkan kehidupan pejabat/pegawai Hindia Belanda, pribumi, dan nonpribumi, antara akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20: BM memandang dan mengritik pendidikan dan hukum kolonial Belanda, sedangkan DSK memandang dan mengritik perilaku pejabat pribumi yang dipenuhi pemikiran mistik dan pelanggaran tugas. Kedua novel yang berakhir dengan kehancuran keluarga tokoh mengungkapkan pendapat bahwa hubungan yang tak setara, penjajahan, sampai kapan pun hanya menghadirkan perlawanan dan kesengsaraan. Abstract: Applying the postcolonial theory towards two novels, which were written by two authors from different nationalities and periods, representing the life of Dutch colonial period, is an interesting work. Bumi Manusia (1980) by Pramoedya Ananta Toer, Indonesian author, and De Stille Kracht (1900) by Louis Couperus, Dutch author, tell about the life of Dutch government officials ( indigenous and non-indigenous ) on the end of the 19th century until the early of the 20th. Bumi Manusia views and criticizes education and the Dutch colonial law; De Stille kracht views and criticizes indigenous government officials with their mystic thought and violation of duty. Both novels, which end with broken families of the main characters, reveal the opinion that the non-equal connection, colonization just brings struggle and suffering forever. Key Words: postcolonialism, representation of colonial periode, mystic and education, laws and violation