Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apa saja bentuk pesan moral yang terkandung pada film Layangan Putus serta memahami makna pesan moral tersebut. Penelitian yang menggunakan pendekatan kualitatif yang berjenis kualitatif deskriptif ini menganalisis, menggambarkan, mencatat, serta menginterpretasikan makna dan simbol yang terdapat pada film Layangan Putus terkait pesan moral menggunakan teori analisis semiotika model Roland Barthes. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juli hingga Agustus 2022 yang dapat dilakukan di mana saja seperti, rumah, kantor ataupun perpustakaan, karena objek dari penelitian ini adalah sebuah film yang dapat ditonton di mana saja. Data primer dalam penelitian ini adalah film Layangan Putus, sedangkan data sekunder di dapatkan melalui buku, internet, dan jurnal-jurnal yang relavan dengan penelitian ini. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan mengobservasi secara langsung film layangan putus untuk melihat bagaimana alur cerita, bahasa, dan situasi yang ditampilkan pada film tersebut, serta melakukan studi dokumentasi melalui dokumen video Layangan Putus yang di download melalui aplikasi menonton film iflix. Teknik analisis data dilakukan melalui tiga tataran, yaitu tataran denotatif, tataran konotatif, serta tataran mitos. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat lima pesan moral yang terkandung pada film Layangan Putus. Yang pertama, pernikahan bukan sekedar tentang cinta, tapi sebuah komitmen. Kedua, lepaskan sesuatu yang dicintai jika itu adalah jalan terbaik, dan tidak melanjutkan apa yang salah. Ketiga, orang tua yang baik tidak akan menunjukkan rasa marah kepada pasangan di depan anaknya. Keempat, ibu adalah sosok orang yang selalu ada dalam keadaan suka maupun duka. Kelima, ucapan orang tua adalah do’a.