Nagari Binjai Tapan kerap dilanda bencana banjir, terhitung selama Tahun 2021 hingga tahun 2022 banjir di Nagari Binjai Tapan sudah terjadi lebih dari belasan kali. Pada tahun 2021, Nagari Binjai Tapan mengalami banjir dahsyat yang mengakibatkan kerugian sebesar Rp. 3.850.000.000.- (terdiri dari pemukiman masyarakat, lahan pertanian/perkebunan/peternakan serta infrastruktur dan faslitas umum). Sehingga artikel ini bertujuan menelaah dan mendeskripsikan kendala yang dihadapi oleh Pemerintah Nagari Binjai Tapan dalam memitigasi bencana banjir. Untuk menjawab tujuan tersebut, metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif. Teknik pengambilan informan yang peneliti ambil gunakan merupakan purposive sampling, informan terdiri dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Pesisir Selatan, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Pesisir Selatan, Wali Nagari Binjai Kecamatan Ranah Ampek Hulu Tapan, Kepala Seksi Kesejahteraan dan Pelayanan Nagari Binjai Tapan, Badan Permusyawaratan Nagari Binjai Tapan dan Masyarakat Nagari Binjai (yang terdampak bencana banjir). Pengumpulan data peneliti lakukan dengan cara observasi, studi dokumen (regulasi, artikel/temuan penelitian, dan buku relevan) serta wawancara. Adapun temuan penelitian menunjukkan bahwa terdapat enam poin yang menjadi kendala dalam mitigasi bencana banjir di Nagari Binjai Tapan, yaitu anggaran yang terbatas, minimnya alat mitigasi kebencanaan, sarana evakuasi kurang memadai, sulitnya izin dari masyarakat untuk membangun rever wall di lahannya, kurangnya SDM melakukan mitigasi dan material bahan pembangunan rever wall yang minim. Sehingga langkah utama untuk mitigasi bencana banjir Nagari Binjai Tapan, maka enam kendala tersebut harus segera dipenuhi.