p-Index From 2021 - 2026
0.408
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Jurnal Embrio
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PENGARUH UMUR PEMOTONGAN TERHADAPPANJANG DAUN, LEBAR DAUN DANKANDUNGAN PROTEIN DAUN PADI (ORYZA SATIVA, L.) VARIETAS PB-42 PADA SISTEM MINA PADI Afrijon Afrijon; Ilham Ilham; PN Jefri
Jurnal Embrio Vol 13 No 2 (2021): Jurnal Embrio
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tamansiswa Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (415.613 KB)

Abstract

Hijauan pakan ternak merupakan bahan pakan utama bagi ternak ruminansia yang penting untuk kebutuhan pokok bagi pertumbuhan dan sumber tenaga, juga merupakan komponen yang sangat menunjang bagi produksi dan reproduksi ternak.Kebutuhan hijauan akan semakin meningkat sesuai dengan bertambahnya jumlah populasi ternak yang dimiliki. Kendala utama dalam penyediaan hijauan pakan ternak tidak tersedianya pakan sepanjang tahun, apalagi ketika musim kemarau. Salah satu sumber hijauan untuk pakan ternak ruminansia yang memiliki potensi besar adalah daun padi.Tanaman padi (Oryza sativa L.) adalah tanaman penghasil beras yang merupakan sumber karbohidrat bagi sebagian penduduk dunia. Untuk memperoleh produksi daun padi yang optimal tanpa menurunkan produksi gabah, maka perlu dipertimbangkan umur pemotongannya. Oleh sebab itu, dilakukan penelitian guna menentukan umur pemotongan terbaik Penelitian ini dilakukan dalam bentuk percobaan di lahan sawah di Komplek Lumin Park, Kelurahan Lubuk Minturun Sungai Lareh, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang selama 3 bulan. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 4 perlakuan umur pemotongan dan 4 ulangan. Perlakuan terdiri dari P-1 (pemotongan daun padi pada umur 34 hari setelah tanam), P-2 (pemotongan daun padi pada umur 38 hari setelah tanam), P-3 (pemotongan daun padi pada umur 42 hari setelah tanam) dan P-4 (pemotongan daun padi pada umur 46 hari setelah tanam). Analisis ragam menunjukkan bahwa umur pemotongan berpengaruh sangat nyata terhadap panjang daun (P<0,01), produksi daun padi (P<0,01) dan kandungan protein daun padi (P<0,01) namun berpengaruh nyata terhadap lebar daun (P<0,05). Disimpulkan bahwa bahwa produksi daun yang optimal diperoleh pada perlakuan pemotongan daun umur 46 hari setelah tanam, yang menghasilkan produksi daun sebanyak 2.391,25 gram/plot (5.925,63 Kg/ha) dengan kandungan protein kasar 19,10%.
PENGARUH AMPAS KELAPA (Cocos nucifera L) FERMENTASI DAN JAMU SEBAGAI FEED ADDITIVE TERHADAP PERFORMA AYAM KUB PETELUR P.N Jefri; welni Rahmadani; Rudy Kusuma
Jurnal Embrio Vol 13 No 1 (2021): Jurnal Embrio
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tamansiswa Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (590.366 KB) | DOI: 10.31317/embrio.v13i1.693

Abstract

Penelitian inibertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian Ampas Kelapa (Cocos nucifera L) fermentasidan jamu dengan dosis berbeda terhadap konsumsi ransum, produksi telur, berat telur, dan konversi ransum ayam KUB pada masa produksi. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 15 Agustus sampai 12 September 2020 di RKG Farm di Jln. Koto BaruLikUluGadut Kota Padang. Materi yang digunakan adalah 54 ekor ayam KUB umur23minggu. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial dengan 3 level pemberian Ampas Kelapa (Cocos nucifera L) fermentasi (0%,10%, 20%) dan 3 level pemberian jamu (0%, 1%, 2%) masing-masing perlakuan dengan 2 kali ulangan sehingga keseluruhannya menjadi 9 kombinasi perlakuan dan 18 unit percobaan. Rata-rata konsumsi ransum tertinggi berturut-turut pada faktor A adalah pada a2 (10%) yaitu 2430,208, a1 (0%) yaitu 2415,583 sedangkan konsumsi ransum terendah adalah pada a3 (20%) yaitu 2342,292. Pada faktor B konsumsi ransum tertinggi berturut-turut adalah pada b2 (1%) yaitu 2439,708, b3 (0%) yaitu 2388,167 dan yang terendah adalah pada b1 (2%) yaitu 2360,208. Rata-rata produksi telur tertinggi berturut-turut pada faktor A adalah pada a2 (10%) yaitu 63,889, a1 (kontrol) yaitu 56,944 sedangkan produksi telur terendah adalah pada a3 (20%) yaitu 48,661. Pada faktor B produksi telur tertinggi berturut-turut adalah pada b2 (1%) yaitu 66,667 , b3 (2%) yaitu 56,944 dan yang terendah adalah pada b1 (kontrol) yaitu 45,833. Rata-rata berat telur tertinggi pada faktor A adalah pada a2 (10%) yaitu 42,08, a1 (0%) yaitu 41,38 sedangkan berat telur terkecil adalah pada a3 (20%) yaitu 41,28. Pada faktor B berat telur tertinggi adalah pada b2 (1%) yaitu 44,28, a1 (0%) yaitu 41,14 dan yang terkecil adalah pada b3 (2%) yaitu 39,32. Rata-rata konversi ransum tertinggi pada faktor A adalah pada a3 (20%) yaitu 5,732, a1 (kontrol) yaitu 5,490 sedangkan konversi ransum terendah adalah pada a2 (10%) yaitu 4,425. Pada faktor B konversi ransum tertinggi adalah pada b1 (kontrol) yaitu 6,365, b3 (2%) yaitu 5,287 dan yang terendah adalah pada b2 (1%) yaitu 3,995. Hasil analisis ragam menunjukkanbahwa faktor A berpengaruhsangat nyata (P<0,01) terhadap konsumsi ransum dan produksi telur, namun tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap berat telur dan konversi ransum sedangkan faktor B berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap konsumsi ransum, produksi telur, berat telur dan konversi ransum. Interaksi antara faktor A dan faktor B berpengaruh sangat nyata ( P<0,01) terhadap konsumsi ransum dan berat telur dan tidak berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap produksi telur dan konversi ransum. Kesimpulan penelitian ini adalah Penggunaan Ampas Kelapa fermentasi terbaik terdapat pada perlakuan a2 (10%) dan pemberian jamu adalah pada perlakuan b2 (1%) dengan tingkat produksi tertingi dan konversi ransum terendah.