p-Index From 2021 - 2026
0.444
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Jurnal Kewarganegaraan
M. Ikhwan Syahtaria
Universitas Pertahanan Republik Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Ahmad Yani: Kesuksesan Strategi dan Pengabdian untuk Pertahanan Negara Ronald Sianipar; M. S. Boedoyo; M. Ikhwan Syahtaria
Jurnal Kewarganegaraan Vol 6 No 2 (2022): Desember 2022
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (401.844 KB) | DOI: 10.31316/jk.v6i2.3120

Abstract

AbstrakAhmad Yani (1922-1965) dikenal juga dengan Yani, adalah Komandan Tentara Nasional Indonesia yang dibentuk menjadi tentara Hindia Belanda (KNIL) pada tahun 1940 dan bergabung dengan PETA (Pembela Tanah Air) pada tahun 1943. Yani mendaftar di PETA sebagai Juru Bahasa (dalam Bahasa jepang disebut Cuyaku), namun karena memiliki bakat strategi militer dan kepemimpinan, Jepang mengusulkan dia untuk menjadi seorang tentara militer penuh dengan mengikuti Pendidikan militer Heiho di Magelang dan Pendidikan Militer Syodanco di Bogor. Pada tahun 1945, Yani bergabung dengan tentara Republik Indonesia dengan membentuk battalion (battalion 4 Resimen XIV Magelang) untuk melawan penjajahan negara Inggris di Magelang. Karena prestasi yang sangat bagus dengan bakat stategi kepemimpinan yang baik, pada tahun 1948, Ahmad Yani dipromosikan menjadi Letnan Kolonel dan memimpin Brigade Diponegoro membawahi Batalyon Suryosumpeno, Batalyon Daryatmo dan Batalyon Panuju. Puncak karir Yani adalah pada tahun 1963-1965 sebagai Kepala Staf Angkatan Darat dengan pangkat Letnan Jenderal. Pada tahun 1965 terjadi konflik ideologi politik yang menjadikan terjadinya gesekan pada masa pemerintahan Presiden Soekarno antara Istana Presiden dengan Angkatan Darat Indonesia. Ahmad Yani dituduh mencampuri kebijakan Presiden Soekarno. Dimana pada akhirnya Yani ditembak dan dibuang ke dalam sumur air di Lubang Buaya Jakarta. Peristiwa ini dikenal dengan Gerakan 30 September 1965 oleh PKI (G30S/PKI).Kata Kunci: Strategi Militer, PETA, Revolusi, Pertahanan, Kepemimpinan Strategis AbstractAhmad Yani (1922-1965), also known as Yani, was the Commander of the Indonesian National Army which was formed into the Dutch East Indies army (KNIL) in 1940 and joined PETA (Defenders of the Fatherland) in 1943. Yani enrolled in PETA as an Interpreter (in Japanese it is called Cuyaku), but because he had a talent for military strategy and leadership, the Japanese proposed him to become a full-fledged military soldier by attending Heiho military education in Magelang and Syodanco Military Education in Bogor. In 1945, Yani joined the army of the Republic of Indonesia by forming a battalion (battalion 4 regiment XIV Magelang) to resist the British colonization of Magelang. Due to his excellent achievements with good leadership strategy talents, in 1948, Ahmad Yani was promoted to Lieutenant Colonel and led the Diponegoro Brigade in charge of the Suryosumpeno Battalion, Daryatmo Battalion and Panuju Battalion. The highlight of Yani's career was in 1963-1965 as Chief of Army Staff with the rank of Lieutenant General. In 1965 there was a conflict of political ideologies that caused friction during the reign of President Soekarno between the Presidential Palace and the Indonesian Army. Ahmad Yani was accused of interfering in President Sukarno's policies. In the end, Yani was shot and thrown into a water well in Lubang Buaya Jakarta. This event was known as the September 30, 1965 Movement by the PKI (G30S/PKI). Keywords: Military Strategy, PETA, Revolution, Defense, Strategic Leadership
Black Liquor sebagai Sumber Energi Baru Terbarukan dari Industri Pulp dan Kertas Rahmat Hidayat; M. Ikhwan Syahtaria
Jurnal Kewarganegaraan Vol 7 No 1 (2023): Juni 2023
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31316/jk.v7i1.4784

Abstract

Abstrak Kebutuhan energi industri pulp dan kertas mengalami pertumbuhan dengan rata-rata 2,49% per tahun dari 108,5 juta SBM pada tahun 2018 menjadi 135,4 juta SBM pada tahun 2027 sehingga industry pulp kertas dikategorikan sebagai industri dengan pemakaian energi yang lumayan besar. Oleh karena itu diperlukan sebuah metode terbaru dalam penggunaan teknologi pada industry tersebut sehingga dapat menghasilkan efisiensi tinggi yang pada akhirnya mampu mengurangi pemakaian energi. Hingga saat ini lindi hitam (black liquor) dari pabrik pulp kertas di Indonesia masih belum banyak digunakan secara optimal sebagai bahan bakar boiler. Upaya pemanfaatan black liquor dan penggunaan teknologi yang efisien di industri pulp kertas mampu membantu mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil serta dapat mereduksi emisi dari bahan bakar berbasis fosil. Panas pembakaran black liquor mencapai 13,8 MJ/kg pada proses recovery boiler. Dengan metode gasifikasi, energi yang diproduksi akan lebih tinggi karena dapat menghasilkan bahan bakar dan gas sintetis. Black liquor juga dapat menjadi sumber energi berkelanjutan yang diunggulkan, karena dapat dimanfaatkan untuk pembuatan gas hidrogen, biobriket, maupun untuk efisiensi energi pada industri pulp dan kertas. Kata Kunci: Black Liquor, Pulp dan Kertas, Energi Terbarukan Abstract The energy needs of the pulp and paper industry increase by an average of 2.49% per year, from 108.5 million BOE in 2018 to 135.4 million BOE in 2027, so that it is an industry with quite large energy consumption. Therefore, it is necessary to innovate the use of technology with high efficiency so as to reduce energy use. Until now, black liquor from pulp and paper mills in Indonesia has generally not been utilized optimally as boiler fuel. Efforts to utilize black liquor and apply efficient technology in the pulp and paper industry can help reduce dependence on fossil fuels and reduce emissions from fossil fuels. The heat of combustion of black liquor reaches 13.8 MJ/kg in the recovery boiler process. With a gasification system, energy productivity will be higher because it can produce fuel and synthetic gas. Black liquor is also a superior source of sustainable energy because it can be used to produce hydrogen gas, biobriquettes, and improve energy efficiency in the pulp and paper industry. Keywords: Black Liquor, Pulp and Paper, Renewable Energy