Paulus Pandu Susilo
Unknown Affiliation

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Evaluasi Perbandingan Penggunaan Batubara dan Minyak Diesel sebagai Bahan Bakar Pembangkit Listrik Paulus Pandu Susilo
Indonesian Mining and Energy Journal Vol. 1 No. 2 (2018): November
Publisher : Program Studi Teknik Pertambangan Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (558.149 KB)

Abstract

Pada umumnya, sektor industri menggunakan PLTU sebagai pembangkit listrik utama. Namun, terdapat beberapa industri yang menggunakan PLTD sebagai pembangkit listrik utama. Berdasarkan pengalaman PT Tifico Fiber Indonesia, pengeluaran biaya operasional PLTU batubara lebih rendah dibanding dengan biaya operasional PLTD. Namun, besaran harga energi (biaya produksi/kWh) dari kedua pembangkit listrik tersebut belum diketahui secara spesifik. PT Tifico Fiber Indonesia memiliki pembangkit listrik pribadi yang dioperasikan sendiri. Terdapat dua jenis pembangkit listrik yang digunakan, yaitu PLTU dan PLTD. PLTU digunakan sebagai pembangkit listrik utama dengan kapasitas 2x15 MW dengan umur hidup 10 tahun, sedangkan PLTD digunakan sebagai pembangkit listrik cadangan dengan kapasitas 5x6,4 MW dengan umur hidup 15 tahun. Produksi listrik aktual yang dihasilkan per jam adalah 23.544,67 kWh. Perhitungan harga energi atau biaya pokok produksi listrik menggunakan dua metode, yaitu metode full costing dan life cycle costing. Harga energi dengan metode full costing untuk PLTU sebesar Rp 731,62/kWh, sedangkan untuk PLTD sebesar Rp 2.803,9/kWh. Harga energi dengan metode life cycle costing untuk PLTU sebesar Rp 570,01/kWh dengan levelized cost Rp 79,22/kWh, sedangkan untuk PLTD sebesar Rp 2.775,03/kWh dengan levelized cost Rp 294,77/kWh. Kebutuhan bahan bakar rata-rata per hari untuk PLTU adalah 0,98 kg/kWh, sedangkan untuk PLTD adalah 0,25 liter/kWh.