Daerah Istimewa Yogyakarta khususnya di Kabupaten Kulon Progo mempunyai bentuk morfologi yang sangat bervariasi dari topografi datar hingga perbukitan yang memanjang dengan arah barat daya – timur laut (Perbukitan Menoreh) yang tentunya dipengaruhi oleh beberapa geological event yaitu pre-OAF, OAF, dan post-OAF. Bentuk morfologi daerah Kulon Progo dapat menggambarkan adanya kontrol struktur geologi dan perbedaan batuan yang menyusun daerah tersebut. Dalam konteks geologi, daerah Kulon Progo juga dapat mempresentasikan akan banyaknya geosite yang memiliki berbagai keunikan dari aspek geologi. Oleh karena itu, untuk mengetahui potensi dan kelayakan geoheritage daerah Kulon Progo sebagai potensi geowisata, maka dilakukan kajian dan penilaian terhadap setiap geosite yang terdapat di daerah penelitian. Penelitian ini menggunakan beberapa metode yaitu metode akuisisi, analisis, dan sintesis data. Berdasarkan hasil penelitian tersebut menunjukan bahwa nilai kelayakan (feasibility) dan potensi dari beberapa situs geosite Kulon Progo yang berada di Formasi Nanggulan Eosen, Gua Kalilingseng, Gunung Kendil, Gua Sriti, Gua Kiskendo, Air Terjun Kembang Soka dan Sungai Mudal rata-rata memiliki nilai lebih dari 50 %, sehingga dapat dikategorikan layak sebagai objek geoheritage. Maka, dari hasil studi penilaian potensi dan kelayakan terhadap beberapa geosite di daerah penelitian menunjukkan bahwa geoheritage Kulon Progo secara keseluruhan dapat digolongkan layak untuk dijadikan sebagai daerah geowisata.