Tri Rahayu
Magister FSRD ITB

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

SEMIOTIC DESIGN Tri Rahayu
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain Vol. 6 No. 2 (2009)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2031.802 KB) | DOI: 10.25105/dim.v6i2.1186

Abstract

AbstractDesign Semiotics.Self-maturing linguistics itself, on the the contextual-communication as case of keywords of the problem becomes such general symptoms towards the ultimate point where everything is a 'language' . On the most significant relation about discourses of design as linguistics phenomenon 'first and foremsot' on the viusal culture framework as formed by contemporary civilizationis felt to position 'design' as a centre of this civilization. Design become an intelegent zone expresses, the complexity needs and exixtential to outside-inside, is moving to the rotation of interiority inner -sublime of human. There, design becomes in nutrition of inner-human, expressing hidden experiences that is a confusion and 'beyond the wods, moreever to sophisticated epistemology, 'semiotics' here becomes a very important part of the expression of reality. This writing is trying to explore the semiotics framework on design. Abstrak.Design Semiotics. "Linguitics" yang mematangkan dirinya pada kontekstual 'komunikasi'  sebagai keywords pesoalannya, menjadi semacam gejala umum yang titik kemen-dasaranan akan segala hal ada pada ranah 'language'. Pada kajian yang teramat penting tentang pewacanaan desain sebagai fenomena bahasa, terutama sekali pada kerangka visual culture sebagai bentukan peradaban kontemporer terasa makin mendaulat design sebagai inti/orbit peradaban ini. Desain menjadi wilayah cerdas yang membahsakan kompleksitas kebutuhan dan kebertubuhan akan tubuh dan jiwa. Pewacanaan design lantas bergeser dari 'eksistensi' ke 'esensi' , dari luaran ke kedalaman, bergerak ke pusaran sublimitas interioritas batin manusia. di sana desain menjadi nutrisi batin manusia, mengungkap pengalaman -pengalaman tersembunyi yang galau dan susah terumuskan, bahkan memasuki wilayah 'labenswelt' ( membahasakan sebelum realitas terbahasakan) Lewat epis-temologinya yang sedemikian rumit, 'semiotics' dalam hal ini menjadi bagian yang teramat penting pada realitas pembahasanannya. Tulisan ini mencoba menelisik kerangka semiotics dalam design 
DESAIN IKLAN SABUN LUX, ERA 1997-2001 Tri Rahayu
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain Vol. 2 No. 2 (2005)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1638.138 KB) | DOI: 10.25105/dim.v2i2.1262

Abstract

Lux sebagai fenomena deain iklan kecantikan dalam keberadaannya, senantiasa mengekspos sosok wanita-wanita cantik sebagai model iklannya bahkan kalau kita mencermati kasus desain iklan Lux baik di media cetak media audio visula (TV) yang beredar di era glonalisasi menyadarkan kita pada seputar permasalahn pada makna /gagasan ideologi dibalik pencitraannya. Mengapa model-model iklan selalu menampilkan seorang bintang selebritis yang lagi naik daun bahkan jika kita telusuri kebanyakan model adalah indo. Image apa yang akan disampiakan pada masyarakat  karena jika berfikir hanya sebatang sabun seharga Rp 2000.00 saja.Ketertarikan saya mengupas desain Lux tidak semata-mata saya tendensius dan fanatif pada Lux, tapi lebih jauh dalam  pemikiran saya menangkap sesuatu di balik semua itu. wacana ini menjadi sangat menarik sebagai kajian ilmiah yang pada gilirannya dapat mengkritik sekaligus menambah pemikiran-pemikiran baru guna penyegaran desain iklan yang renovatif sekaligus sesuai dengan budaya iklannya dan nilai-nilai kebenaran. AbstractAs a phenomenon , the beauty advertisement design in its exixtance always exposes beautiful female figures as the advertising models. We may realize it as such a matter of meaning or ideological idea behind the image projection when we pay close attention ti the advertisement design of Lux in mass and visual media ( television) released in the era of globalization . Why are advertisement models always those of popular celebrities? Even if we trace it, most of them are hybrid ones. What is actually the real image conveyed to the society for thingking it is only a two -thousand rupiah bodysoap