Djoko Sutjipto
FSRD USAKTI

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

KAJIAN SEJARAH PERKEMBANGAN SENI RUPA TRADISI DI INDONESIA (MELALUI STUDI KASUS KEBERADAAN UNSUR RAGAM HIAS PADA KERATON SOLO DAN YOGYA SEJAK AWAL ABAD KE 20) Djoko Sutjipto
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain Vol. 6 No. 1 (2008)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1297.406 KB) | DOI: 10.25105/dim.v6i1.1206

Abstract

AbstractThe goal of this articles wants to know all sort of reason that affect vagueness of people's appraisal to Javanese cultural palaces. These analyses start at explanation about educational system, that had been introduced to local people at the begining of the twentieth century by (Dutch) colonial goverment, to have the disposal of literarure approach and field observation. This system of education had produce a new intelectual generatin which have western oriented in teir way of thingking and life, that caused decrease of loyality to tradisional culture, included ornament in palaces interior AbstrakTujuan penulisan ini ingin mengetahui faktor penyebab proses menurunnya apresiasi masyarakat atas seni rupa tradisi ( ragam hias) yang bersumber pada keraton Jawa. bahan kajian yang digunakan berangkat dari fakta sejarah perkembangan pengajaran sistem 'barat' yang diperkenalkan sejak berkuasanya pemerintah kolonial Belanda. Metode penelitian yang digunakan melalui pendekatan analisis deskriptif yang bersumber dari literatur , observasi lapangan dan wawancara. Sebagai hasilnya , sistem pengajaran ini telah melahirkan generasi 'baru' ( kaum terpelajar). Pola pikir, pola sikap , dan pola laku generasi baru ini telah menyebabkan pudarnya kesetiaan dan apresiasi mereka terhadap budaya tradisi umumnya dan seni rupa khususnya.  
ZEN INTERIORS Djoko Sutjipto
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain Vol. 6 No. 2 (2009)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1384.878 KB) | DOI: 10.25105/dim.v6i2.1207

Abstract

 AbstractZen Interiors. Modern design which is inspired b the philosophy of Zen Buddhism, was declared by Bauhaus ( 1920). But since 1970 , modern design had been reduced once and was replaced by postmodern which was pioneered by Charles Jencks. yet in the beginning of 2000, the reality of modern design accompanied by simplicity, emerged once again with a new similar terminology, 'minimalism'. This emerging style of this particular design is relevant to the demands of the modern life, as a therapeutic way to solve or deal with the pressure caused and accumulated by work or travel. AbstrakZen Interior. Desain modern sebagai suatu mazhab yang dideklarasikan pada tahun 1920 oleh lembaga pendidikan desain ' Bauhaus' di Wiemar ( Jerman) ,sejatinya lahir dari pesona falsafah Zen Budhism. sejak dekade tahun 1970-an , penganut desain modern sempat surut, tergeser oleh paham baru , yang dikenal dengan gerakan Postmo (pasca modern) yang dipelopori Charles Jencks. Namun memasuki milenium 2000, hakekat mashab desain 'modern' yang disemangati simplicity, seperti bangkit kembali dengan terminologi lain namun dengan makna serupa , yaitu 'minimlais' . Kebangkitan ini, agaknya sangat relevan dengan tuntutan hidup modern sebagai upaya terapitik menghadapi ketegangan jiwa yang terakumulasi di tempat kerja dan perjalanan  
AMBIVALENSI SIKAP BUDAYA PADA MASYARAKAT DI NEGARA BERKEMBANG: DALAM KONTEKS PENERAPAN 'RAGAMHIAS' TRADISI BUDAYA JAWA PADA ARSITEKTUR MODERN Djoko Sutjipto
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain Vol. 3 No. 2 (2006)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1153.494 KB) | DOI: 10.25105/dim.v3i2.1253

Abstract

AbstractAmbivalency of cultural attitude is an universal symptom, that occured in several nations of development countries, whose faced with difficult choise of two pardgigms. Either keep loyal to the old norms (traditional), or takeover a new ones (modern). This phenomenon usually done in transition period, characterized with changeover of values. A wisdom thoise it's best not "to be or not to be", but take a "win-win solution".KAbstrakAmbivalensi sikap budaya adalah gejala umum yang dialami masyarakat atau bangsa yang sedang berada dipersimpangan dalam memilih 'paradigma'. Tetap setia pada norma 'lama' (tradisi) sebagai warisan leluhur, atau beralih pada norma 'baru' (modern) yang menawarkan paradigma berbeda. Fenomena seperti ini biasa terjadi di negara berkembang, yang sedang mengalami proses pergeseran nilai. Pilihan yang bijak, biasanya bukan "memilih salah satu" tetapi "men- can i sinergi".
REVOLUSI PERADABAN DAN IMPLIKASINYA PADA PERKEMBANGAN DESAIN Djoko Sutjipto
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain Vol. 1 No. 2 (2004)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1196.275 KB) | DOI: 10.25105/dim.v1i2.1302

Abstract

AbstrakRuang adalah kebutuhan hakiki manusia prasejarah yang hidup dari berburu memilih gua-gua sebagai tempat bernaung dan berlindung. Seiring perkembangan akal budi dan kemampuan menjinakkan hewan, terjadilan revolusi pertama dalam peradaban manusia . cara hidup pun berubah dari penggembala, revolusi kedua terjadi lagi dalam peradaban manusia. Hidup mengembala mulai ditinggalkan dan beralih menjadi peladang tetap. Semua perubahan cara hidup ini membawa dampak pada kemampuan membuat barang sebagai sarana penunjang kegiatan. Awal peradaban ini diduga telah berlangsung 15000 tahun yang laluAbstractThe first revolution of human civilization happened when primitive people changed their way of life from hunting wild animals to becoming a sheperd. As their way of living, they had to move from one place to another following the season. The criteria of shelter, therefore, should be flexible and easy to demolish and reinstall.
DESAIN INTERIOR RESTORAN: Restaurant Design : By Susan Cologan, 1987 Djoko Sutjipto
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain Vol. 3 No. 1 (2005)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2001.09 KB) | DOI: 10.25105/dim.v3i1.1494

Abstract

Abstrak Perubahan peran istri menjadi wanita pekerja /karir , membawa implikasi luas. Budaya makan di luar rumah, memicu maraknya usaha restoran yang menu dan cara penyajiannya disesuaikan dengan sasaran segmen pasar. Persaingan kian menjadi upaya menarik pelanggan tidak lagi berfokyus pada kualitas menu semata. Muncul gagasan menciptakan atmosfir ruang yang dapat mendukung rasa nyaman selagi makan malam.