Wajar Bimantoro
FSRD USAKTI

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

REKAYASA TEKNOLOGI VISUAL KULTURAL Wajar Bimantoro
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain Vol. 6 No. 1 (2008)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/dim.v6i1.1227

Abstract

AbstractThe ddevelopment of information technology especially TV and cyber recently is growing fast. The use of this technology is becoming very complex. Television becomes the most effective media for agitation while internet is developing as media which is used by all people in the world to have an access to get any information ia a second.Web-sites in the internet serve as window of any kinds of information in web-sites provide any information which anyone can get. Moreever, this information is shown in the monitor with all complete data. since internet was popularly used, pornography in certain websites have easily been obtained . Some interpreuner involving in  in internet business can be very successful because pornography is present in the service AbstrakPerkembangan teknologi informasi terutama Televisi dan cyber, dewasa ini sudah semakin pesat. Penggunaannya pun sudah mencapai suatu taraf yang semakin komplek. televisi merupakan media paling efektif untuk tujuan agitasi dan hegemoni sedangkan internet yang berkembang sebagai media yang digunakan oleh sebagian besar masyarakat di berbagai belahan dunia menjadikan setiap orang memperoleh kesempatan untuk mendapatkan dan mengakses informasi apapun dengan cepat. Situs di internet merupakan jendela dri berbagai informasi, dan keragamannya memungkinkan setiap orang dapat memperoleh informasi yang diinginkan tersaji secara lengkap di layar. Bahkan dengan munculnya internet, situs-situs porno pun semakin mudah di dapat. Sebagian dari pengusaha wiraswasta internet yang paling berhasil adalah mereka yang mengoperasikan situs-situs porno di internet
FETISISME KOMODITI MELALUI PROSES KREATIF 347 Wajar Bimantoro
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain Vol. 4 No. 1 (2006)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1766.333 KB) | DOI: 10.25105/dim.v4i1.1312

Abstract

AbstractComodity Fethishism which is related to creative process of 347 trademark. What is the relationship between them? Are they support each other , or is it just to make it sounds modern, or are they  do not have any relationship  at all? It moves from impish creativity to become imphisness that result cretaon will unlimited values. The form of efforts are also structurized and order , from the founder, owner, designer-who are also functioned as the creative team, to its proffesional employees. IN this case, the writer tries to simply describe how a 347  trademark, that works on selling fashion and accesories of youngsters in Bandung city might become the commodity that has mysterious power ( unique selling point ) among the youngsters ( not only in Bandung city, but also all the way to Jakarta) AbstrakFetisisme KOmoditi yang dihubungkan dengan proses kreatif pada merek dagang 347. Apa hubungan keduanya, apakah saling mendukung atau hanya sekedar istilah agar terlihat beken, atau memang tidak ada hubungannya sama sekali? Tulisan ini mencoba menjabarkan secara sederhana bagaimana suatu merek dagang 347 , yang bergerak dalam bidang penjualan fashion dan asesories anak muda di kota Bandung dapat menjadi komoditi yang mempunyai kekuatan yang misterius ( unique selling point) di kalangan anak muda
SEMIOTIKA BAHASA TUBUH SEBAGAI IDIOM KOMUNIKASI VERBAL PADA IKLAN SAMPUL MAJALAH Wajar Bimantoro
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain Vol. 3 No. 1 (2005)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1885.169 KB) | DOI: 10.25105/dim.v3i1.1497

Abstract

Abstrak Penulisan ini terinspirasi oleh indahnya kemolekan gerakan tubuh seorang wanita . Penggunaan gerak, isyarat tubuh sebagai bahasa komunikasi dapat digolongkan ke dalam pengertian bahasa tubuh ( body language), walau terkadang pengartiannya dapat mengandung makna yang abstrak, namun sering digunakan oleh para desainer untuk menimbulkan suatu image baru. terlepas dari mengerti atau tidaknya si penikmat gambar, tentu saja akan timbul beragam alasan dalam mengintrepretasikannya