Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang utama. Hal ini karena angka kematian yang signifikan terkait dengan Infeksi Saluran Pernafasan Akut, terutama pada bayi dan balita. Diharapkan setiap anak akan mengalami 3-6 episode Infeksi Saluran Pernafasan Akut. Infeksi Saluran Pernafasan Akut menyumbang 40-60% dari semua kunjungan ke Puskesmas setiap tahun. Proporsi kematian akibat ISPA mendekati 20-30% pneumonia pada semua kematian balita. Menurut data Dinas Kesehatan Provinsi Papua, lima kabupaten dengan tingkat Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) tertinggi adalah Kabupaten Lanny Jaya (88,9%), Kabupaten Tolikara (69,5%), Kabupaten Jayapura (17,9%), Kabupaten Merauke ( 17,6%), dan Kabupaten Mappi (13,3%). Melihat tingginya prevalensi Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) di Kabupaten Tolikara yang menempati urutan kedua sebesar 69,5 persen, setelah Kabupaten Lanny Jaya yang menempati urutan pertama sebesar 88,9 persen. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Puskesmas Karubaga Kabupaten Tolikara. Penelitian ini dilaksanakan di Wilayah Kerja Puskesmas Karubaga Kabupaten Tolikara pada bulan Juni – Agustus 2021. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh balita yang berkunjung ke Puskesmas Karubaga Kabupaten Tolikara pada tahun 2021. Sampel sebanyak 66 balita dipilih secara purposive sampling . Analisis data menggunakan statistik chi-square dengan taraf signifikansi 5%. Hasil penelitian menemukan bahwa kelima faktor yang diteliti adalah status imunisasi (p-value = 0,608 > 0,05), riwayat pemberian ASI eksklusif (p-value = 0,059 > 0,05), status gizi balita (p-value = 0,271 > 0,05), kebiasaan merokok pada keluarga balita (p-value = 0,775 > 0,05), dan penggunaan obat nyamuk bakar (p-value = 1.000 > 0,05) semuanya tidak berhubungan bermakna dengan Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) di Puskesmas Karubaga Kabupaten Tolikara.