Nur Indah Noviyati
Universitas Borneo Tarakan

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pengaruh Status Gizi Terhadap Kejadian Premenstrual Syndrome Di Pesantren Kumi Kota Tarakan Tahun 2021 Nur Indah Noviyati
JURNAL KESEHATAN DELIMA PELAMONIA Vol 6 No 1 (2022): Jurnal Kesehatan Delima Pelamonia
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Institut Ilmu Kesehatan Pelamonia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (271.617 KB) | DOI: 10.37337/jkdp.v6i1.251

Abstract

Masa remaja merupakan masa transisi dari anak-anak menjadi dewasa. Perubahan yang terjadi pada masa ini, jelas sudah terlihat secara fisik maupun psikolgis (Sarlito W, 2010). Pada masa ini, tidak hanya terjadi pertumbuhan menjadi lebih besar, tetapi juga terjadi perekembangan secara reproduksi. Masa remaja merupakan masa dimana pertama kali seseorang mengalamitanda-tanda seksual sekunder hingga terjadi kematangan se cara seksual. Kematangan primer terdiri dari (produksi sel telur/sel sperma), kematangan sekunder seperti tumbuhnya rambut-rambut halus pada bagian kemaluan, dan lain-lain.Pertumbuhan dan perkembangan pada masa remaja dipengaruhi oleh hormone seksual. Salah satu tanda masa remaja adalah terjadinya menstruasi pada remaja putri. Memasuki masa remaja putri beebrapa hormone khususnya hormone estrogen dan progesterone mulai berperan aktif dalam pembentukan tubuh remaja putri contohnya pada bagian payudara, dan pinggu yang mulai melebar. Perkembangan globalisasi yang begitu pesat mengakibatkan pengaruh terhadap gaya hidup, pola makan, dan pengetahuan gizi yang tidak tepat mengakibatkan pola asupan gizi menjadi salah. Padahal seyogyanya remaja membutuhkan gizi yang cukup agar pertumbuhan dan perkembanganya dapat optimal, hal ini dikarenakan pada masa transisi mereka mengalami pertumbuhan yang begitu cepat. Remaja putri memiliki perhatian yang cukup serius terhadap fungsi organ reproduksinya, khususnya pada masa menstruasi yang memerlukan perhatian gizi ekstra. Ketidak seimbanagn hormone progesterone danprogesterone, kelebihan aldosterone, hipoglikemia dan hhyperprolaktinemia merupakan teori-teori penyebab PMS. Salah satu metode yang digunakan dalam mengobati PMS dan PMDD (Premenstrual disorder disease) yaitu dengan menargetkan sumbu hipotalamus-hipofisis ovarium dan menargetkan serotonin, adapun intervensi yang diberikan dengan menghentikan siklus ovarium dan melepaskan hormone gonadotropin (GnRH) atau memberikan estradiol (Yonkers et al., 2008).
PENGARUH SUMBER INFORMASI TERHADAP TINGKAT PENGETAHUAN KESEHATAN REPRODUKSI PADA REMAJA DI WILAYAH PESISIR KALIMANTAN UTARA Nur Indah Noviyati
JURNAL KESEHATAN DELIMA PELAMONIA Vol 7 No 1 (2023): Jurnal Kesehatan Delima Pelamonia
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Institut Ilmu Kesehatan Pelamonia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37337/jkdp.v7i1.347

Abstract

Improving the quality of youth begins with paying attention to reproductive health. Adolescent problems related to reproductive health are child marriages, the number of which increases every year in North Kalimantan. There are several studies showing that there are several factors that can cause differences in knowledge among adolescent students. This study aims to determine the level of knowledge of reproductive health in adolescents in the coastal area of ​​North Kalimantan. This research is a descriptive research, with the research variable being knowledge of adolescent reproductive health in the coastal city of Tarakan (Charity Beach). The population of this study amounted to 100 people. The criteria in this study are; adolescents moving up the middle and high school ladders. In taking the sample is done by using purposive sampling. For young women to know about reproductive health, by providing good information from the school as many as 7 young women (23.3%), then information from parents with a good level of knowledge as many as 6 young women. teenagers (20%), while for information from social media there are only 3 children who have good knowledge (10%). Knowledge about reproductive health in adolescents through parents, schools and social media. When parents, schools and social media are actively involved in providing accurate, supportive and comprehensive information, young women can obtain better knowledge.