This Author published in this journals
All Journal Al-Dhikra
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

MOHAMMED ARKOUN’S THOUGHT ON METHODOLOGY OF INTERPRETING THE QUR’AN Syaiful Arief
al Dhikra | Jurnal Studi Qur'an dan Hadis Vol. 2 No. 2 (2020): al-Dhikra: Jurnal Studi Quran dan Hadis
Publisher : Ushuluddin Faculty, PTIQ Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (397.689 KB) | DOI: 10.57217/aldhikra.v2i2.782

Abstract

Artikel ini mengeksplorasi pemikiran Arkoun tentang Al-Qur'an dan Metodologi Tafsirnya. Dalam pandangan Arkoun, wahyu sebagai sumber petunjuk bagi umat manusia harus diperlakukan tidakhanya sebagai sesuatu yang sakral, tetapi juga harus diperhatikan bahwa ia muncul untuk kemaslahatan umat manusia. Wahyu yang diwujudkan menjadi mu???f, bagi Arkoun, harus dikajidengan pendekatan modern dengan menggunakan ilmu-ilmu multidisiplin. Sehingga, kita dapat mengungkap substansi pesan wahyu secara maksimal. Namun yang terpenting adalah pengungkapan makna wahyu tidak boleh diikuti atau dibingkai oleh kepentingan ideologis dan politik atau kepentingan profan lainnya, yang akan mereduksi wahyu menjadi semacam pembenaran atau legitimasi. Apa yang dikemukakan Arkoun dalam metodologi interpretasinya meliputi pendekatan sebagai berikut: pertama, Interpretasi Linguistik-Semiotik dan Sastra. Dengan pendekatan- pendekatan tersebut, ia ingin mendalami makna Al-Qur'an dengan menjelaskan setiap kata dan susunan sintaksis Al-Qur'an. Al-Qur'an terdiri dari tanda dan simbol yang dapat dianalisis secara semiotik untuk mencapai makna yang terdalam, dan jauh dari sudut pandang ideologis. Kedua, Interpretasi Historis-Antropologis. Pendekatan ini memperkenalkan Quran sebagai bagian dari sejarah kehidupan. Kemudian, untuk memahami Al-Qur'an dengan baik, penafsir harus memahami bahwa Al-Qur'an memuat banyak cerita di balik proses turunnya. Arkoun menyadari bahwa metode ini jelas untuk menantang semua interpretasi sakralisasi dan transendentalisasi yang dihasilkan oleh penalaran teologis tradisional. Ketiga, Tafsir Teologis-Religius. Ini digunakan sebagai alternatif terakhir untuk membaca Al-Qur'an. Arkoun menunjukkan dua karakteristik penting dari pendekatan ini. Pertama, semua jenis bacaan yang berorientasi pada keyakinan berada di bawah "kandang dogmatis". Kedua, karya-karya tafsir monumental awal berkontribusi pada perkembangan historis "tradisi yang hidup".