Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search

Upaya Orang tua dalam Pengasuhan mencegah dan menghadapi anak yang Kecanduan Gadget Zulfahmi Zulfahmi; Dian Putriana; Alfiza Fakhriya Haq
Jurnal Ilmu Sosial Humaniora Indonesia Vol 2 No 1 (2022): JISHI - Juni 2022
Publisher : CV Infinite Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (302.924 KB) | DOI: 10.52436/1.jishi.35

Abstract

Gadget ialah suatu perangkat elektronik kecil yang mempunyai sebuah fungsi khusus. Dari waktu ke waktu perusahaan gadget selalu mendapatkan inovasi baru untuk menambah fitur maupun teknologi terbaru dari gadget mereka yang dapat membuat hidup manusia modern menjadi lebih nyaman dan praktis. Teknologi sendiri kerap kali mempengaruhi perkembangan dan perilaku seseorang, terlebih lagi pada anak-anak. Karena perangkat teknologi dapat menjadi sebuah sarana untuk mereka belajar dengan efektif. Penulisan ini bertujuan untuk dapat mengetahui peran dan upaya orang tua dalam mencegah dan menghadapi anak yang kecanduan gadget. Telaah literatur yang relevan digunakan dengan metode descriptive review. Artikel yang dijadikan sebagai sumber acuan berasal dari data based pada google scholar. Kata kunci yang digunakan adalah parents’ effort, children, gadget addiction dengan menggunakan Boolean “OR” dan “AND”. Kriteria artikel yang digunakan adalah yang berasal dari Bahasa inggris dan Bahasa Indonesia, selain itu juga kriterianya adalah artikel yang dipublikasikan 10 tahun terakhir (2012-2022). Hasil studi literatur menemukan 996 artikel, kemudian penulis melakukan pemilihan artikel dengan jumlah 10 dari yang berbahasa inggris 4 artikel dan 6 berbahasa Indonesia karena sesuai dengan kriteria inklusi. Berdasarkan hasil telaah diketahui bahwa kontrol orang tua sangatlah penting, mengaplikasikan pola komunikasi yang tepat membuat anak memahami konsekuensi logis mengenai dampak negative dari gadget. Dari berbagai sumber menyebutkan pola asuh authoritative adalah yang dapat diaplikasikan pada anak usia dini yang sudah memiliki kecendrungan kecanduan gadget. Orang tua juga bisa melakukan berbagai aktitas lain seperti bermain permainan tradisional sehingga anak akan terhindar dari kecanduan gadget.
Improving the Psychological Well-Being of Post-Pandemic Students through Optimistic Thinking Training Dewi Kamaratih; Gilang Mukti Rukmana; Alfiza Fakhriya Haq
Indonesian Journal of Cultural and Community Development Vol 14 No 2 (2023): June
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sidoarjo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21070/ijccd.v14i2.915

Abstract

One of the changes that have occurred in the field of education after the COVID-19 pandemic is the drastic change in the learning model, where teaching and learning activities are carried out online. This requires students to adapt quickly. This adjustment has an impact on students' psychological well-being as they deal with the changes that occur. The psychological well-being of post-pandemic students is in the low and medium categories, so an effort is needed to improve this condition. The optimistic thinking training aims to help students improve their psychological wellbeing after the pandemic. The stages in this program are providing optimistic thinking interventions using the ABCDE (Adversity, Belief, Consequences, Disposition, and Energization) method. The result of this training is an increase in psychological well-being among students who take part in the training program. Having psychological well-being can help students master and adapt to the environment effectively, establish positive relationships with others, and develop their potential from time to time. Highlights: Rapid Adaptation: Students faced a rapid shift to online learning during the pandemic, requiring quick adaptation to a new learning model. Optimistic Thinking Training: Implementing the ABCDE method, optimistic thinking training aims to improve the psychological well-being of post-pandemic students. Benefits of Psychological Well-Being: Improved psychological well-being helps students effectively navigate their environment, establish positive relationships, and maximize their potential. Keywords: online learning, psychological well-being, optimistic thinking training, post-pandemic students, adaptation.
PENGARUH PERBANDINGAN SOSIAL TERHADAP DAYA JUANG MAHASISWA DALAM MERAIH PRESTASI AKADEMIK Haq, Alfiza Fakhriya; Riyanti, Nur; Zariana, Aminatu; A’yuni, Nafilah Qurrata; Yuniar, Alaisha; Lestari, Desy Ayu; Masitoh, Dewi
MOTIVA: JURNAL PSIKOLOGI Vol 7, No 1 (2024)
Publisher : LPPM Universitas 17 Agustus 1945 Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31293/mv.v7i1.7839

Abstract

Keberhasilan mahasiswa dalam bidang akademik selama masa perkuliahan diukur dengan adanya prestasi yang dihasilkan dalam bidang akademik dan indeks prestasi komulatif (IPK). Dalam mencapai keberhasilan prestasi akademik mahasiswa tidak jarang melakukan perbandingan sosial dengan teman sebaya dalam menentukan standar pencapaian dimana hal tersebut memerlukan daya juang. Penelitian ini berjenis kuantitatif dengan tujuan untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh perbandingan sosial terhadap daya juang mahasiswa dalam meraih prestasi akademik. Pengambilan sampel dipilih menggunakan teknik pusposive sampling dan mendapatkan sebanyak 164 orang mahasiswa UMKT. Skala untuk mengukur variabel perbandingan sosial yaitu Iowa Netherlands Comparison Orientation Scale (INCOM) yang diadaptasi dari Gibbons and Bunks (1999) dan skala daya juang yang disusun oleh Herawaty dan Wulan (2013). Berdasarkan hasil analisis data menunjukkan nilai signifikansi 0,000 (p < 0,05) dengan sumbangsih variabel perbandingan sosial terhadap variabel daya juang sebesar 13,6%. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hasil tersebut menunjukkan adanya pengaruh yang sangat signifikan dari perbandingan sosial terhadap daya juang mahasiswa dalam meraih prestasi akademik.
Peningkatan Peran Orang Tua terhadap Kemandirian Anak Berkebutuhan Khusus Hudiyah Bil Haq, Aniq; Isqomah, Isqomah; Fakhriya Haq, Alfiza
Jurnal SOLMA Vol. 12 No. 3 (2023)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Prof. DR. Hamka (UHAMKA Press)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22236/solma.v12i3.10765

Abstract

Background: Parents and teachers certainly expect children with special needs to have independence in carrying out daily life. To increase independence, special programs are needed that aim to prepare children to become individuals who are ready to be part of society. Knowledge of parents and teachers about stimulation to build independence of children with special needs is still minimal, based on this background, a psychoeducation is made related to increasing the role of parents in the independence of children with special needs so that it is hoped that new knowledge about independence can help parents in nurturing, educating, and accompanying children with special needs to become independent children. Method: This activity was attended by 28 parents of students at SLB Untung Tuah. Psychoeducation was carried out with a lecture method that lasted for 90 minutes with a discussion about training the independence of children with special needs. Results: After psychoeducation, it is known that knowledge from parents is increasing about increasing children's independence, this is known through program evaluation. Conclusion: There is an increase in parental knowledge that is the target of activities regarding training the independence of children with special needs.
Keterkaitan antara Inner Child dan Kematangan Emosi pada Individu di Masa Emerging Adulthood Gina Astuti; Alfiza Fakhriya Haq
Proyeksi Vol 20, No 2 (2025): Oktober 2025
Publisher : Faculty of Psychology Universitas Islam Sultan Agung Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30659/jp.20.2.155-167

Abstract

Inner Child merupakan permasalahan yang terjadi saat individu masih kecil yang dapat berdampak secara psikologis saat individu berada pada masa emerging adulthood. Permasalahan tersebut bisa berupa luka atau ingatan yang masih berbekas hingga individu berada pada masa sekarang yang bisa menyebabkan kondisi emosional belum sepenuhnya matang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara inner child dan kematangan emosi pada individu emerging adulthood. Metode penelitian yang digunakan ialah kuantitatif korelasional. Sampel pada penelitian ini berjumlah 349 subjek yang memiliki permasalahan/luka masa kecil yang belum terselesaikan. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini ialah Inner Child Scale (ICS) dan Emotional Maturity Scale (EMS). Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan signifikan antara inner child dengan kematangan emosi pada individu emerging adulthood ( r = 0,007 ; p < 0,05 ), yang mengindikasikan bahwa semakin besar luka inner child maka semakin rendah pula kematangan emosi yang dimiliki individu emerging adulthood. Penelitian ini menemukan bahwa luka masa kecil dapat berpengaruh atau menjadi salah satu penyebab tingkat kematangan emosi seseorang.
Peran Rasa Syukur dalam Pengendalian Kecemasan dan Stress pada Mahasiswa Haq, Aniq Hudiyah Bil; Hamka, Hamka; Haq, Alfiza Fakhriya; Nulipata, Muslimin; Ramdani , Aulia; Damayanti, Desita Dyah; Suen, Mein-Woei
Jurnal Studi Islam dan Kemuhammadiyahan (JASIKA) Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/jasika.v5i2.85

Abstract

Anxiety and stress can have a psychological effect on the student learning process. Students need to reduce anxiety and stress with positive emotions such as gratitude. The purpose of this research is to determine the effect of gratitude on anxiety and stress in students. Quantitative methods were used in this research by taking samples through r simple random sampling. The sample in this study was students in the city of Samarinda, with data collected using the gratitude questionnaire (GQ-6) and Depression, Anxiety and stress Scale (DASS-21). This research uses multiple linear regression statistical analysis. The results of this study found that there was a significant influence regarding gratitude on anxiety and stress among students in the city of Samarinda. With a high sense of gratitude, students can reduce anxiety and stress so that students' lives become calmer, more prosperous and happier  
PENGARUH KURANGNYA PERAN AYAH DALAM PENGASUHAN (FATHERLESS) TERHADAP REGULASI EMOSI DEWASA AWAL Widya Ratri Ning Pratidina; Alfiza Fakhriya Haq; Hamka
Jurnal Media Akademik (JMA) Vol. 4 No. 3 (2026): JURNAL MEDIA AKADEMIK Edisi Maret
Publisher : PT. Media Akademik Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62281/fmg5rj46

Abstract

Regulasi emosi merujuk pada kemampuan untuk menilai, mengendalikan, dan mengekspresikan emosi, yang seharusnya berkembang pada masa dewasa awal dengan dukungan orang tua. Di Indonesia, fenomena fatherless cukup banyak terjadi, sekitar 20,9% anak mengalami keterlibatan kurangnya peran ayah dalam pengasuhannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh kurangnya peran ayah terhadap regulasi emosi dewasa awal di Kota Samarinda. Sebanyak 390 mahasiswa dewasa awal berpartisipasi dalam penelitian ini. Dengan menggunakan pendekatan kuantitatif dan desain kausal asosiatif, data dikumpulkan melalui Skala Peran Ayah (Fathering Scale) dan Emotion Regulation Questionnaire (ERQ) yang keduanya telah teruji validitas dan reliabilitasnya dengan skor Cronbach’s Alpha 0,966 untuk skala peran ayah dan Cronbach’s Alpha  0,868 untuk skala ERQ. Analisis regresi sederhana menunjukkan adanya pengaruh signifikan peran ayah terhadap regulasi emosi dewasa awal (F = 80,638; p < 0,001), dengan koefisien regresi sebesar 0,107. Temuan ini menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat absensi peran ayah, maka akan semakin tinggi pula tingkat regulasi emosinya. Nilai R² (0,172) mengindikasikan bahwa absensi peran ayah menyumbang 17,2% terhadap variansi regulasi emosi, sementara 82,2% sisanya dipengaruhi oleh faktor lain. Penelitian ini diharapkan dapat membantu dalam pembaruan multidemensional tentang peranan ayah dalam pengasuhan yang mana disampaikan oleh Lamb (2010) tentang pentingnya keterlibatan ayah tidak hanya penting pada masa kanak-kanak tetapi juga pada masa remaja dan dewasa awal.
PENGARUH REGULASI EMOSI TERHADAP AGRESIVITAS PADA SUPORTER SEPAK BOLA DALAM KOMPETISI BRI LIGA 1 Aan Kusuma Wardani; Hamka; Alfiza Fakhriya Haq
Journal of Research and Public Horizons Vol. 2 No. 1 (2026): Juni : Journal of Research and Public Horizons
Publisher : PT. Lembaga Penerbit Penelitian Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65244/jrph.v2i1.593

Abstract

Agresivitas suporter sepak bola masih menjadi fenomena yang sering terjadi dalam kompetisi BRI Liga 1 dan berdampak pada keamanan serta kenyamanan lingkungan pertandingan. Salah satu faktor psikologis yang diduga berperan dalam menekan perilaku agresif adalah regulasi emosi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh regulasi emosi terhadap agresivitas pada suporter sepak bola dalam kompetisi BRI Liga 1. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan subyek sebanyak 400 suporter sepak bola yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen penelitian yang digunakan adalah Emotion Regulation Questionnaire (ERQ) untuk mengukur regulasi emosi dan Buss & Perry Aggression Questionnaire (BPAQ) untuk mengukur agresivitas. Analisis data dilakukan menggunakan regresi linier sederhana. Analisis regresi linier sederhana menunjukan bahwa regulasi emosi berpengaruh signifikan terhadap agresivitas d pada suporter sepak bola (F = 24,455; p < 0,000), dengan nilai R2 sebesar 0,058 mengindikasikan bahwa regulasi emosi memberikan kontribusi sebesar 5,8% sementara 94,2% lainya di pengaruhi oleh faktor lain. Temuan ini menunjukan bahwa semakin baik regulasi emosi, maka semakin rendah tingkat agresivitas yang ditunjukan oleh suporter. Penelitian ini menegaskan pentingnya regulasi emosi sebagai faktor psikologis dalam upaya menekan perilaku agresif dan menciptakan atsmofer pertandingan yang lebih aman dan kondusif.
Memetakan Konsep Dan Faktor-Faktor Psikologis Yang Mempengaruhi Kerentanan Individu Sebagai Korban Phishing: A Scoping Review Rafif Salsabila; Alfiza Fakhriya Haq; Dian Putriana
Journal Psikologi Forensik Indonesia Vol. 5 No. 2 (2025): Volume 5, No 2 Tahun 2025
Publisher : Asosiasi Psikologi Forensik (Apsifor)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71088/jpfi.v5i2.103

Abstract

Serangan phishing meningkat dan menyebabkan kerugian yang diproyeksikan mencapai $10,5 triliun pada 2025 dan $15,63 triliun pada 2029, dengan biaya pemulihan rata-rata mencapai $4,88 juta per perusahaan. Di Indonesia sendiri laporan IDADX mencatatkan 26.675 serangan phishing pada Q1 2023 yang menargetkan domain seperti .id, biz.id, dan my.id. dengan kasus seperti penipuan pada situs BCA dan DJKN yang pernah terjadi di Indonesia. Tinjauan ini bertujuan untuk memetakan konsep dan faktor-faktor psikologis yang mempengaruhi kerentanan individu sebagai korban kejahatan phishing. Metode yang digunakan adalah scoping review untuk memetakan konsep dan faktor psikologis yang mempengaruhi individu sebagai korban dari kejahatan phishing yang dijadikan panduan dalam studi ini. Peneliti memasukkan studi kualitatif dan kuantitatif yang diterbitkan dari tahun 2016 hingga 2025 dalam berbagai data base seperti ScienceDirect, Pubmed, dan Google Scholar. Hasil penelitian memetakan faktor psikologis yang terjadi pada korban kejahatan phising seperti faktor kognitif, faktor emosional, dan faktor sosial teknologi yang saling terkait dan membentuk respons individu terhadap ancaman phising. Penelitian ini menyoroti peran dari faktor psikologis pada kerentanan phishing dengan implikasinya untuk penelitian selanjutnya dan pengembangan pelatihan Cyber Awareness. Diperlukannya penelitian lebih lanjut untuk melihat faktor atau aspek-aspek apa saja yang muncul pada korban kejahatan phising dan penelitian longitudinal di Indonesia guna mendapatkan strategi pencegahan yang efektif sesuai sosial-kultur Indonesia.
Pengaruh Hustle Culture Terhadap Work Life Balance Pada Karyawan Tambang Generasi Z di Kecamatan Bengalon Suci Cahyani; Desti Purnamasari; Alfiza Fakhriya Haq
Jurnal Pendidikan Dasar Islam Vol. 4 No. 2 (2026): Juni
Publisher : putrapublisher.org

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58540/jurpendis.v4i2.1795

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh hustle culture terhadap work life balance pada karyawan tambang Generasi Z di Kecamatan Bengalon. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode korelasional. Sebanyak 325 karyawan tambang Generasi Z berusia 20–28 tahun dipilih sebagai responden melalui teknik accidental sampling. Data dikumpulkan menggunakan skala Hustle culture berdasarkan teori Balkeran dan skala Work life balance berdasarkan Fisher, Bulger, dan Smith yang telah memenuhi kriteria reliabilitas tinggi. Analisis data dilakukan menggunakan regresi linear sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hustle culture berpengaruh negatif dan signifikan terhadap work life balance (p < 0,05) dengan kontribusi sebesar 43,8%. Temuan ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi kecenderungan individu mengadopsi hustle culture, maka semakin rendah tingkat work life balance yang dimiliki. Dengan demikian, budaya kerja yang menekankan produktivitas secara berlebihan berpotensi mengganggu keseimbangan antara kehidupan kerja dan kehidupan pribadi karyawan. Penelitian ini menegaskan pentingnya penerapan budaya kerja yang lebih seimbang guna mendukung kesejahteraan dan kualitas hidup karyawan Generasi Z di sektor pertambangan