Charly Billy Talarima
Unknown Affiliation

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Meminimalkan Keluhan Subyektif Pekerja Pembelah Tahu Pada Industri Kerupuk Tahu Retno Rusdjijati; Charly Billy Talarima; Oesman Raliby Al Manan
Borobudur Engineering Review Vol 2 No 1 (2022): Industrial Engineering and Emission Control
Publisher : Universitas Muhammadiyah Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31603/benr.6880

Abstract

Postur kerja para pekerja pembelah tahu pong pada industri kecil krupuk tahu Larasta, Magelang pada umumnya termasuk kategori janggal atau tidak alamiah karena menyebabkan bagian-bagian tubuh tidak berada atau bergerak menjauhi posisi alamiah. Postur kerja janggal tersebut antara lain duduk pada kursi pendek sehingga kaki menekuk pada jangka waktu lama dan tangan menggantung karena menggunting tahu pong. Hasil wawancara awal terhadap 3 orang pekerja menyatakan bahwa mereka sering mengalami rasa sakit pada bagian punggung, pinggang, pinggul belakang, dan bahu. Kondisi ini bisa beresiko menyebabkan gangguan muskuloskeletal disorders (MSDs) yaitu gangguan pada otot skeletal karena otot menerima beban statis secara berulang dan terus-menerus dalam jangka waktu lama yang akan menyebabkan keluhan berupa kerusakan pada sendi, ligament, dan tendon. Guna menentukan jenis-jenis dan tingkat keluhan subyektif pada para pekerja, maka akan dilakukan penelitian lebih lanjut agar dapat ditentukan solusi untuk mengurangi keluhan-keluhan tersebut. Metode yang digunakan untuk menganalisis postur kerja para pekerja pembelah tahu pong menggunakan Nordic Body Map (NBM) dan Rapid Entire Body Asssessment (REBA).Jumlah sampel pekerja yang dianalisis sebanyak 9 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa punggung merupakan bagian tubuh yang sering dikeluhkan sakit oleh sampel. Frequency indeks sebesar 88,33% dan severity indeks 26,66% yang termasuk kategori beresiko tinggi (skor 16). Selanjutnya hasil analisis dengan REBA menunjukkan bahwa skor pada posisi duduk pada dingklik adalah 8 yang termasuk kategori sangat berbahaya, dan cenderung dapat menyebabkan cedera; skor pada posisi duduk di lantai adalah 4 yang termasuk kategori beresiko rendah. Oleh karena diperlukan perbaikan terhadap fasilitas kerja agar postur kerja menjadi alamiah atau tidak janggal, sehingga pekerja menjadi nyaman dalam bekerja dan keluhan-keluhan subyektif berkurang. Perbaikan tersebut berupa penambahan bantal sebagai alas duduk pada para pekerja yang duduk di lantai. Posisi ini setelah dianalisis dengan metode REBA, diperoleh skor 2 yang berarti posisi kerja tersebut tidak berbahaya.