Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PKM Kelompok Industri Rumah Tangga Rengginang Desa Walen Simo Boyolali Sudarno Sudarno; Huriyah Huriyah
Prosiding Seminar Nasional Unimus Vol 1 (2018): Hilirisasi & Komersialisasi Hasil Penelitian dan Pengabdian Masyarakat untuk Indonesia
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Desa Walen, merupakan desa yang berada di Kecamatan Simo, Kabupaten Boyolali, Sebagian besar pendudukdesa Walen berprofesi sebagai petani, namun selain bertani, memiliki usaha pembuatan makanan  rengginang. Industri ini sudah ada sejak 1981, tetapi tidak berkembang karena keterbatasan keadaan.  Dimulai sejak  awalproses produksi rengginang yang hanya menggunakan dandang kecil untuk memasak beras ketan, setelah masak kemudian dicetak dengan tangan yang bentu hasilnya tidak bagus dan ukuran berbeda-beda sertamemakan waktu yang lama, setelah dicetak kemudian dikeringkan dengan dijemur, yang hanya mengandalkansinar matahari sehingga pada musim hujan produksi rengginang mengalami penurunan, hanya mampumemproduksi setengahnya saja dari musim kemarau. Rengginang yang siap dijual, hanya ditempatkan pada taskresek saja  dan untuk membedakan hanya diberi tanda merah untuk rasa manis dan yang rasa gurih tidak diberitanda. Sehingga tampilan produk rengginang ini tidak menarik minat pembeli kecuali yang sudah biasamembeli. Dengan kondisi tersebut di atas, sangat membutuhkan adanya teknologi tepat guna (TTG) berupamesin pengeringan rengginang, alat pencetak  rengginang dan pengarahan untuk pengepakan yang menarik,serta pelatihan pemasaran dan administrasi keuangan yang baik. Dengan menerapkan TTG mampumeningkatkan produktivitas rengginang sebesar 75%, sehingga omzet penjualannya meningkat yangberpengaruh pada meningkatnya laba yang diperoleh sebesar Rp. 63.000,-/hari. Dan dilakukannya pelatihan-pelatihansangat membantu mitra dalam mengembangkan usahanya, baik dari segi pengelolaan keuangan,pemasaran dan pengemasan dan pemberian label pada produk yang akan dijual. Dengan adanya TTG dankegiatan-kegiatan tersebut membantu mitra untuk tumbuh dan berkembang lebih baik serta meningkatkanproduktifitas dan keberlanjutan usaha dan mampu meningkatkan tarap hidup masyarakat sekitarnya.
Investigating teachers’ pedagogical adaptations for effective technology integration in EFL classrooms Abdul Gafur Marzuki; Vemmy Maidita Nur Aisiyiah; Erizar erizar; Ila Amalia; Huriyah Huriyah; Risa Triassanti; Dewi Kencanawati
Al-Lisan: Jurnal Bahasa Vol 11 No 1 (2026): Al-Lisan: Jurnal Bahasa (e-Journal)
Publisher : LP2M IAIN Sultan Amai Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30603/al.v11i1.6828

Abstract

Background: The rapid integration of digital technologies in secondary education has transformed English as a Foreign Language instruction, yet effective implementation remains uneven and highly contextual. While prior studies often focus on access or technological competence, less attention has been given to how teachers adapt pedagogically within real classroom conditions, particularly in regional Indonesian contexts. Aims: This study investigates how EFL teachers adapt their instructional practices in technology integrated classrooms, examining forms of implementation, contextual factors influencing adaptation, and teachers’ perceptions of instructional effectiveness. Methods: A qualitative multiple site case study was conducted at SMA Negeri 1 Palu and SMA Alkhairaat Palu in Central Sulawesi, Indonesia. Ten EFL teachers were selected through purposeful sampling. Data were collected through semi structured interviews and classroom observations between March and May 2025. The data were analyzed using thematic analysis following Braun and Clarke’s six phase framework, integrating inductive coding with theoretically informed interpretation. Results: The findings indicate that technology integration operates as a dynamic process of pedagogical negotiation rather than linear adoption. Teachers reorganized lesson structures, modified digital tasks in response to classroom contingencies, and recalibrated instructional decisions when facing infrastructural limitations. Professional experience influenced adaptive flexibility, with more experienced teachers demonstrating greater capacity for instructional redesign. Although digital tools enhanced student engagement, their effectiveness depended on deliberate scaffolding and pedagogical orchestration. Implications: This study advances a process-oriented understanding of pedagogical adaptation in technology-mediated EFL classrooms. The findings underscore the centrality of teacher agency and reflective judgment in sustaining meaningful digital learning environments. Professional development initiatives should therefore prioritize adaptive expertise and pedagogical reasoning rather than technical skill acquisition alone.