Sunarsih Sunarsih
Jurusan Keperawatan Politeknik Kesehatan Tanjungkarang

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Pengaruh senam dysmenorrhoea terhadap premenstruasi syndrome pada remaja putri Sunarsih Sunarsih
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 16, No 6 (2022)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v16i6.7883

Abstract

Background: Premenstrual syndrome or premenstrual syndrome is a collection of physical, psychological, and emotional symptoms associated with a woman's menstrual cycle. Dysmenorrhoea is the medical term for painful menstruation and about 75 percent of women experience dysmenorrhoea at some point during their reproductive years. Sometimes dysmenorrhoea can be accompanied by nausea, vomiting, diarrhea, and stomach cramps, some women even faint and get drunk, this situation appears severe enough to cause sufferers to experience temporary disruption of activity.Purpose: To determine the effect of exercise for dysmenorrhoea on premenstrual syndrome among teenage girlsMethod: This research was carried out using a quasi-experimental method. The population were all teenage girls students who had premenstrual syndrome (dysmenorrhoea). The research was conducted at senior high school 15 grade X Bandar Lampung. The sample was taken by accidental sampling method of 60 participants divided into the intervention and control groups.Results: Before the intervention, the participants had a pain scale level 56.67 percent moderate pain, after the intervention the pain scale level changed to a mild pain scale of 60 percent.Conclusion: There was a significant difference between the menstrual pain scale before and after dysmenorrhea exercise (p= 0.00 ; 0.05).Suggestion: School institutions are advised to hold dysmenorrhea exercises regularly for students who have premenstrual syndrome.Keywords: Exercise; Dysmenorrhea; Premenstrual syndrome; Teenage girlsPendahuluan: Premenstruasi Syndrom atau sindrom pramenstruasi adalah kumpulan gejala fisik, psikologis dan emosi yang terkait dengan siklus menstruasi perempuan. Dysmenorrhoea adalah istilah medis untuk haid yang terasa nyeri dan sekitar 75 persen wanita mengalami dysmenorrhoea pada suatu saat sepanjang usia reproduksinya. Terkadang dysmenorrhoea dapat disertai dengan rasa mual, muntah, diare dan kram perut, beberapa wanita bahkan pingsan dan mabok, keadaan ini muncul cukup hebat sehingga menyebabkan penderita mengalami gangguan aktivitas untuk sementara.Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh senam dysmenorrhoea terhadap premenstuasi syndrome pada remaja putri di SMAN 15 Bandar Lampung.Metode: Penelitian ini dilaksanakan dengan metode quasi experiment. Populasinya seluruh siswi kelas x yang mengalami premenstruasi syndrome (dysmenorrhoea). Penelitian dilakukan di SMAN 15 Bandar Lampung. Sampel penelitian ini diambil dengan metode accidental sampling dengan jumlah sampel 60 partisipan yang dibagai menjadi kelompok intervensi dan kelompok kontrol.Hasil: Sebelum dilakukan intervensi tingkat skala nyeri partisipan adalah nyeri sedang sebanyak 56,67 persen, setelah dilakukan intervensi tingkat skala nyeri berubah menjadi skala nyeri ringan sebanyak 60 persen.Simpulan: Terdapat perbedaan yang bermakna antara skala nyeri haid sebelum dan sesudah senam dysmenorrhoea (p= 0,00 ; α 0,05).Saran: Instansi sekolah disarankan mengadakan senam dysmenorrhoea secara rutin bagi siswi yang mengalami premenstruasi syndrome.
Efektivitas program positive deviance terhadap peningkatan status gizi balita melalui kegiatan pos gizi: Literature review Sugiarti Sugiarti; Sunarsih Sunarsih; Dedek Saiful Kohir; El Rahmayati; Purwati Purwati
THE JOURNAL OF Mother and Child Health  Concerns Vol. 3 No. 1 (2023): Peningkatan Status Gizi Balita Melalui Kegiatan Pos Gizi
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/mchc.v3i1.336

Abstract

Background: Toddlers are a risk population. Toddlers are a group that is at risk of experiencing malnutrition due to age and their dependence on parents in fulfilling their nutrition, including the lack of control from parents and society against all forms of health threats to toddlers. Positive deviance/Hearth is a community-based intervention that identifies the main challenges contributing to malnutrition in the community and finds local solutions to address them by observing positive behaviors practiced in “positive deviance”, children from poor households with better nutritional outcomes better than families who have the same problem in society. Purpose: To identify the effectiveness of the positive deviation program in improving the nutritional status of toddlers through nutrition post activities. Method: Writing articles using a systematic literature study. Articles were searched for and collected from online databases using: Google Scholar, Scopus, Science Direct, Google Scholar, ProQuest and Elsivier. Literature is limited to the range of 2016 to 2022. Results: It was found that poverty is not the main cause of malnutrition in children under five. This is corroborated by the finding that there are positive behaviors in poor families that can cause toddlers to continue to grow normally, and this activity can be exemplified through the positive deviation approach. The results showed that there was a relationship between the participation of mothers in nutrition post activities and the nutritional status of toddlers. This is due to the positive feeding practices and good care during the nutrition post session practiced by the mother of the toddler. Positive deviation activities carried out in the community require good planning, so that the implementation of the program can bring benefits in accordance with the goal of improving the nutritional status of children under five. Because an evaluation is needed in this program so that the nutritional status of toddlers who have improved can be maintained. Conclusion: Poor nutritional status of children under five is a very complex health problem and requires treatment through both intensive and sensitive efforts, positive deviation is a very effective program to implement.   Keywords: Effectiveness; Positive Deviance, Increase; Toddler Nutrition.   Pendahuluan: Balita adalah populasi berisiko. Balita merupakan kelompok yang berisiko mengalami kurang nutrisi karena faktor usia dan ketergantungannya terhadap orang tua dalam pemenuhan nutrisinya termasuk kurangnya kontrol dari orang tua dan masyarakat terhadap segala bentuk ancaman kesehatan terhadap balita. Positive deviance/Pos Gizi adalah intervensi berbasis masyarakat yang mengidentifikasi tantangan utama yang berkontribusi terhadap kekurangan gizi di masyarakat dan menemukan solusi lokal untuk mengatasinya dengan mengamati perilaku positif yang dipraktikkan dalam “penyimpangan positif”, anak-anak dari rumah tangga miskin dengan hasil gizi yang lebih baik dibandingkan keluarga yang memiliki masalah yang sama di masyarakat. Tujuan: Untuk mengidentifikasi efektifitas program positive deviance terhadap peningkatan status gizi balita melalui kegiatan pos gizi. Metode: Penulisan artikel menggunakan studi literatur tersistematis. Artikel dicari dan dikumpulkan dari online database yaitu menggunakan: Google scholar , Scopus, Science Direct, Google Cendikia, ProQuest dan Elsivier.  Literatur terbatas pada rentang tahun 2016 sampai 2022. Hasil: Ditemukan bahwa kemiskinan bukan menjadi penyebab utama kejadian gizi kurang pada balita. Hal ini dikuatkan dengan temuan bahwa terdapat perilaku yang positif pada keluarga miskin yang dapat menyebabkan balita tetap bertumbuh dengan normal, dan kegiatan ini dapat dicontoh melalui pendekatan positive deviance. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan antara keikutsertaan ibu dalam kegiatan pos gizi dengan status gizi balita. Hal ini disebabkan karena praktik pemberian makan yang positif dan pengasuhan yang baik selama sesi pos gizi dipraktikkan oleh ibu balita.  Kegiatan positive deviance yang dilakukan dalam masyarakat, membutuhkan perancanaan yang baik, sehingga pelaksanaan program bisa membawa manfaat sesuai dengan tujuan yaitu meningkatkan status gizi balita. Karena diperlukan adanya evaluasi dalam program ini sehingga status gizi balita yang telah membaik dapat dipertahankan. Simpulan: Status gizi balita yang kurang merupakan masalah kesehatan yang sangat kompleks dan membutuhkan penanganan baik melalui upaya intensif maupun sensitif, positive deviance adalah salah satu program yang sangat efektif untuk dilakukan.
Faktor faktor yang berhubungan dengan kejadian hipotensi pada pasien dengan pasca spinal anestesi Sunarsih Sunarsih; Yuspita Dewi Utari
JOURNAL OF Tropical Medicine Issues Vol. 3 No. 2 (2026): Edition April 2026
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/tmi.v3i2.2579

Abstract

Background: Post-spinal anesthesia hypotension is a common complication that has a serious impact on patients' hemodynamic stability. At RSUD Jenderal Ahmad Yani Metro, the incidence of hypotension is reported to reach 20–25% of all patients undergoing spinal anesthesia procedures. This condition may worsen the prognosis, especially in patients with certain risk factors such as abnormal body mass index, poor hydration status, or intraoperative bleeding. Purpose: To determine the factors related to the incidence of hypotension in patients after spinal anesthesia in the operating room. Method: A quantitative method with a cross sectional design. The research sample was 50 patients who underwent spinal anesthesia and were taken using purposive sampling techniques. The variables studied were age, BMI, preloading fluid, vasopressor administration, amount of bleeding, and height of blockade. Data analysis was carried out univariate and bivariate using the chi-square. Results: The results showed that there was a significant relationship between BMI (p=0.004), preloading fluid (p=0.002), administration of vasopressor (p=0.006), and amount of bleeding (p=0.021). Meanwhile, the age factor (p=0.378) and the height of the anesthesia blockade (p=0.776) did not show a significant relationship. Conclusion: There is a relationship between BMI, preloading fluid, vasopressor administration and the amount of bleeding with the incidence of hypotension in patients with spinal anesthesia. Keywords: BMI; Hemodynamic Status; Hypotension; Preloading; Spinal Anesthesia.   Pendahuluan: Hipotensi pasca spinal anestesi merupakan komplikasi yang sering terjadi dan berdampak serius terhadap kestabilan hemodinamik pasien. Di RSUD Jenderal Ahmad Yani Metro, insiden hipotensi dilaporkan mencapai 20–25% dari total pasien yang menjalani tindakan spinal anestesi. Kondisi ini dapat memperburuk prognosis, terutama pada pasien dengan faktor risiko tertentu seperti indeks massa tubuh tidak ideal, status hidrasi buruk, atau perdarahan intraoperatif. Tujuan: Untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian hipotensi pada pasien pasca spinal anestesi di ruang bedah. Metode: Metode kuantitatif dengan desain cross sectional. Sampel penelitian sebanyak 50 pasien yang menjalani spinal anestesi dan diambil menggunakan teknik purposive sampling. Variabel yang diteliti adalah usia, IMT, cairan preloading, pemberian vasopressor, jumlah perdarahan, dan ketinggian blokade. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji chi-square. Hasil: Menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara IMT (p=0.004), cairan preloading (p=0.002), pemberian vasopressor (p=0.006), jumlah perdarahan (p=0.021). Sedangkan faktor usia (p=0.378) dan ketinggian blokade anestesi (p=0.776) tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Simpulan: Terdapat hubungan antara faktor IMT, pemberian cairan preloading, pemberian vasopressor dan jumlah perdarahan dengan kejadian hipotensi pada pasien dengan spinal anestesi. Kata Kunci: Hipotensi; IMT; Preloading; Spinal Anestesi; Status Hemodinamik.