Rahma Elliya
Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Peningkatan pengetahuan masyarakat tentang stigma pada penderita kusta Umi Romayati Keswara; Andoko Andoko; Rahma Elliya
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 16, No 5 (2022)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v16i5.8055

Abstract

Background: The disease of leprosy is one of the most prevalent infectious diseases in Lampung Province, both medically and socially. Data from the World Health Organization (WHO) recorded a prevalence of 0.2 per 10,000 population, with 208,619 new patients occurring throughout 2018. In Indonesia, the number of new cases of leprosy is 14,397 with a detection rate of 5.43 per 100,000 population.  In addition, there are a total number of 19,033 cases of leprosy, with a prevalence rate of 0.72 per 10,000 population. One of the problems that hinder efforts to control leprosy is the stigma of it, and the lack of public knowledge about stigma in people with leprosy.Purpose: Increasing public knowledge about the negative stigma of patients with leprosy.Method: Quantitative research type, with a Quasi-Experimental group pre-test post-test design. The population of the people of Sidodadi Asri Village, the Working Area of the Banjar Agung Inpatient Health Center, with a sample of 30 patriarchs. Dependent T-Test data analysis.Results: The average knowledge of the community about stigma before health education was 29.5 with a standard deviation of 2.82 and a minimum value of 23, after health education of 32 with a standard deviation of 2.15 and a minimum value of 25, p-value 0.000 < = 0.Conclusion: There is an effect of health education on increasing public knowledge about stigma in leprosy patients. Suggestions, health education can be used to increase public awareness of negative stigma of patients with leprosy.Keywords: Knowledge; Public Stigma; Leprosy; Health education.Pendahuluan : Penyakit kusta merupakan salah satu penyakit menular yang menjadi masalah kesehatan di Propinsi Lampung, baik aspek medis maupun social. Data World Health Organization (WHO), mencatat prevalensi 0,2 per 10.000 penduduk, dengan jumlah pasien baru 208.619 kasus terjadi sepanjang 2018. Di Indonesia jumlah kasus baru kusta 14.397 dengan case detection rate 5,43 per 100.000 penduduk dengan jumlah total kasus kusta 19.033 dengan angka prevalensi 0,72 per 10,000 penduduk. Salah satu masalah yang menghambat upaya penanggulangan kusta adalah adanya stigma terhadap penyakit kusta, kurangnya pengetahuan masyarakat tentang stigma pada penderita penyakit kusta.Tujuan : Meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang stigma pada penderita kusta.Metode : Jenis penelitian Kuantitatif, dengan Quasi Experimental One group pre-test post-test design. Populasi masyarakat Desa Sidodadi Asri Wilayah Kerja Puskesmas Rawat Inap Banjar Agung dengan, sampel 30 Kepala Keluarga. Analisa data Dependent T Test.Hasil : Rata-rata pengetahuan masyarakat tentang stigma sebelum pendidikan kesehatan sebesar 29,5 dengan standar deviasi 2,82 nilai minimal 23, setelah pendidikan kesehatan sebesar 32 dengan standar deviasi 2,15 nilai minimal 25, p- value 0,000 < α = 0,05.Simpulan: Ada pengaruh pendidikan kesehatan terhadap peningkatan pengetahuan masyarakat tentang stigma pada penderita kusta. Saran, pendidikan kesehatan dapat digunakan sebagai salah satu cara untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang stigma pada penderita kusta.
Dukungan keluarga terhadap kemandirian anak usia dini dengan retardasi mental Iwal Iwal; Rahma Elliya; Teguh Pribadi
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 17, No 3 (2023)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v17i3.9228

Abstract

Background: Mentally retarded children need training and guidance so they can carry out activities independently. Families encourage training and guidance from formal education and informal education. Family support provided is very important because it can help independence in fulfilling their needs according to their age level, although it is much different compared to children who have no mental retardation.Purpose: To identify family support for the independence of children with mental retardationMethod: This research was conducted at the Dharma Bhakti Dharma Pertiwi Beringin Raya Bandar Lampung SLB Foundation, and this research was conducted in January 2022, with a total population of 78 respondents whose parents (mothers or fathers) from early childhood (4-6 years) have mental retardation. The questionnaire is as family support and several levels of parental observation of the child's independence in carrying out his daily activities. Data analysis using univariate and bivariate using chi-square tests.Results: Most family support with the good family category is 52 respondents (66.7%). The most independent in the category of doing it right 49 respondents (62.8%).Conclusion: There is a relationship between family support for the independence of children with mental retardation in SLB Dharma Bakti Dharma Pertiwi Kemiling, Bandar Lampung City in 2022 with a p-value of 0.000 (<0.05).Keywords: Family Support; Children; Independence; Mental RetardationPendahuluan: Anak dengan retardasi mental membutuhkan pelatihan dan bimbingan agar mereka dapat melakukan aktivitas secara mandiri. Keluarga mendorong pelatihan dan bimbingan dari pendidikan formal dan pendidikan informal. Dukungan keluarga yang diberikan sangat penting karena dapat membantu kemandirian dalam memenuhi kebutuhannya sesuai dengan tingkat usianya, walaupun jauh berbeda dengan anak yang tidak mengalami retardasi mental.Tujuan: Mengidentifikasi dukungan keluarga terhadap kemandirian anak dengan retardasi mentalMetode: Penelitian ini dilakukan di SLB Yayasan Dharma Bhakti Dharma Pertiwi Beringin Raya Bandar Lampung, dan penelitian ini dilakukan  pada bulan Januari 2022, dengan jumlah populasinya  78 respondennya orangtua (ibu atau ayah) dari anak usia dini (4-6 tahun) yang mengalami mental retardasi. Kuesioner berupa dukungan keluarga dan beberapa tingkat observasi orangtua terhadap kemandirian anak tersebut dalam melakukan aktifitas hariannya. Analisa data menggunakan univariat dan bivariat menggunakan uji chi square.Hasil: Dukungan keluarga terbanyak dengan kategori keluarga baik 52 responden (66,7%).Kemandirian terbanyak dengan kategori melakukan dengan tepat 49 responden (62,8%).Simpulan: Terdapat hubungan dukungan keluarga terhadap kemandirian anak dengan retardasi mental di slb dharma bakti dharma pertiwi kemiling kota bandar lampung tahun 2022 dengan nilai p-value 0,000 (<0.05).