Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PENYESUAIAN PERNIKAHAN PADA PASANGAN YANG DIJODOHKAN St Darmah; Tellma M. Tiwa; Deetje J Solang
PSIKOPEDIA Vol. 2 No. 2 (2021): Juni
Publisher : Program Studi Psikologi Universitas Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (207.997 KB) | DOI: 10.36582/pj.v2i2.1533

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses Penyesuaian Pernikahan pada Pasangan yang Dijodohkan. Subjek penelitian merupakan dua pasangan suami istri yang menikah melalui perjodohan di Desa Kariango, Kecamatan Lembang, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan. Dalam penelitian ini, indikator penyesuaian pernikahan yang digunakan mengacu pada teori Hurlock (2002) tentang Faktor-faktor yang mempengaruhi Penyesuaian Pernikahan dengan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses penyesuaian pernikahan pada pasangan yang dijodohkan sangat dipengaruhi oleh pola komunikasi yang terjadi antar pasangan sehingga berbagai masalah dan konflik yang bisa terjadi baik pada penyesuaian individu terhadap pasangan, penyesuaian seksual, penyesuaian keuangan dan penyesuaian individu terhadap keluarga pasangan dapat dihindari.
HUBUNGAN ANTARA KONFLIK KERJA DENGAN EFEKTIVITAS KOMUNIKASI ANTARPRIBADI PADA KARYAWAN PLN UNIT LAYANAN PELANGGAN DI TOMOHON Roslin Muyu; Deetje J Solang; Gloridei L. Kapahang
PSIKOPEDIA Vol. 2 No. 1 (2021): Maret
Publisher : Program Studi Psikologi Universitas Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (131.578 KB) | DOI: 10.36582/pj.v2i1.2105

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara konflik kerja dengan efektivitas komunikasi antarpribadi pada Karyawan. Hipotesis yang diajukan adalah ada hubungan anatar konflik kerja dengan efektivitas komunikasi antarpribadi. Penelitian ini dilaksanakan pada karyawan PLN Unit Layanan Pelanggan di Tomohon dengan jumlah subjek sebanyak 30 orang. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini mengunakan jenis sampel jenuh. Alat uur yan digunakan dalam penelitian ini adalah skala konflik kerja dan skala komunikasi antarpribadi dalam bentuk sakala Likert. Pada skala konflik kerja terdapat 14 itm valid dengan koefisien reliabilitas cronbach alpha 0, 820 dan skala komunikasi antarpribadi terdapat 12 item valid dengan koefisien reliabilitas cronbach alpha 0,781. Metode analisis data yang digunakan adalah metode statistik korelasi Product Moment Pearson. Koefisien korelasi empirik (rxy) sebesar 0,325 > 0,05, dan nilai rhitung sebesar 0,087 < 0,361. Hasil ini menunjukkan bahwa tidak terdapat korelasi yang signifikan antara variabel konflik kerja dengan variabel efektivitas komunikasi antarpribadi, yang berarti H0 diterima dan Ha ditolak.
Studi Kasus Tentang Latar Belakang Anggota Keluarga Yang Melakukan Bunuh Diri Di Desa Tawaang Kecamatan Tenga Kabupaten Minahasa Selatan Jesica Noviyanti Dalope; Deetje J Solang; Meike E Hartati
Jurnal Impresi Indonesia Vol. 4 No. 11 (2025): Jurnal Impresi Indonesia
Publisher : Riviera Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58344/jii.v4i11.7177

Abstract

This study aims to analyze the family background of suicide victims in Tawaang Village by examining five key aspects: parenting style, educational background, social interaction, culture, and economic condition. This research employed a qualitative approach using in-depth interviews, observations, and data collection from informants such as the spouse, children, grandparents, pastors, village leaders, neighbors, and community elders. The findings reveal that parenting styles, whether democratic or authoritarian, do not necessarily prevent suicide risk when emotional support is inadequate. Low educational attainment limits understanding of mental health and coping skills. In terms of social interaction, both openness and limited engagement can serve as risk factors if not supported by quality emotional bonds. Cultural practices that once stigmatized suicide have shifted through the role of the church in providing spiritual support, although remnants of stigma persist. Furthermore, both “sufficient” and “limited” economic conditions may generate significant psychological distress. Overall, suicide in Tawaang Village is the result of a complex interplay between family, educational, social, cultural, and economic factors. This study highlights the importance of a holistic approach to suicide prevention, involving families, communities, and religious institutions.