Cory Febrica Bella
Sekolah Tiggi Filsafat Theologi Jakarta

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Melayani seperti Perempuan Samaria: Membaca Ulang Yohanes 4:1-30 sebagai Konstruksi Keterlibatan Perempuan dalam Pelayanan Nugraha Vienshe; Cory Febrica Bella
JURNAL TERUNA BHAKTI Vol 5, No 1: Agustus 2022
Publisher : SEKOLAH TINGGI AGAMA KRISTEN TERUNA BHAKTI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47131/jtb.v5i1.149

Abstract

The view that women are a secondary group still occurs today both in socio-cultural construction and also in church life, so this paper aims to criticize and try to restore the status of women by imitating the attitude of Jesus who asked for the ministry of Samaritan women in John 4:1-30. Through qualitative research using the method of social-scientific criticism of the text of John 4:1-30 with the help of some literature, an understanding is shown that Samaritan women who are seen as part of a marginalized group are still taken into account by Jesus and are also involved in His evangelistic efforts. In the end, this paper concludes that women need to be given space to actualize themselves in society, including in ministry in the church. AbstrakPandangan bahwa perempuan adalah kelompok yang dinomorduakan masih terjadi pada saat ini baik dalam konstruksi sosial budaya dan juga dalam kehidupan bergereja, sehingga tulisan ini bertujuan untuk mengkritik dan berupaya memulihkan status perempuan dengan meneladani sikap Yesus yang meminta pelayanan perempuan Samaria dalam Yohanes 4:1-30. Melalui penelitian kualitatif yang menggunakan metode kritik sosial-ilmiah atas teks Yohanes 4:1-30 dengan dibantu oleh beberapa literatur, diperlihatkan pemahaman bahwa perempuan Samaria yang dipandang sebagai bagian dari kelompok yang terpinggirkan tetap diperhitungkan oleh Yesus dan dilibatkan juga dalam usaha penginjilan-Nya. Pada akhirnya, tulisan ini menyimpulkan bahwa perempuan perlu diberi ruang dalam mengaktualisasikan dirinya dalam masyarakat, termasuk dalam pelayanan dalam gereja. 
Gereja Terpanggil Menyuarakan Isu Sosial Melalui Pemimpin Gereja: Analisis Walter Rauschenbusch Terhadap Jabatan Kepemimpinan di Gereja Cory Febrica Bella
EDULEAD: Journal of Christian Education and Leadership Vol 3, No 2 (2022): Pendidikan Agama Kristen dan Kepemimpinan - Desember 2022
Publisher : Sekolah Agama Kristen Terpadu Pesat Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47530/edulead.v3i2.110

Abstract

Social issues are reality, text, and context that affect and construct society's moral values. Some topics concerning social injustice, inequality, discrimination, vulnerability, poverty, and oppression should be put at the center as a shared-concerns. This paper confronts the absence of church leaders in advocating for marginalized people. In transforming society, the church's ethical-social teaching and the preferential option for the marginalized are most needed. This essay considers the descriptive qualitative research method and how it can be used to collect data and information through literature studies. I investigate and elaborate on Walter Rauschenbusch’s theory while analyzing social issues in Indonesia and the actions of church leaders. I observed that his critics of the church's passivity in responding to social issues in the United States (19th Century) still relate to the situation in Indonesia. This paper argues that the preferential option for marginalized people, as well as the church's ethical-social teaching derived from God's love, will inspire people to envision and design a peaceful and prosperous society.AbstrakIsu sosial merupakan keadaan yang mempengaruhi sebagian besar masyarakat berkaitan dengan nilai moral. Beberapa persoalan menyangkut isu sosial adalah ketidakadilan, ketimpangan sosial, diskriminasi dan penindasan. Ada asumsi meskipun menjadi masalah yang serius ditengah-tengah masyarakat namun tidak banyak orang yang berani bersuara mengenai isu sosial termasuk pemimpin gereja. Padahal jabatan kepemimpinan di dalam gereja merupakan penggerak utama untuk melakukan gerakan atau aksi sosial bagi jemaat yang dipimpinnya. Dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif yaitu mengumpulkan data berdasarkan studi literatur. Penulis akan meneliti sumber primer dari karya tulisan Walter Rauschenbusch. Penelitian ini hendak mengkritisi sikap pemimpin gereja saat ini yang terpaku pada isu sosial, seperti kritik Walter Rauschenbusch di dalam karya tulisnya mengenai kebungkaman gereja pada krisis sosial yang terjadi di Amerika abad 19. Hasil penelitian menjelaskan adanya urgensi mengenai sikap gereja dalam menyuarakan isu sosial melalui pemimpin gereja. Pemimpin gereja yang bersuara dan beraksi, merupakan salah satu sikap untuk mempersiapkan jemaat mengetahui nilai moral dan etika sesuai teladan Yesus.