Lasmery R. M. Girsang
Universitas Bunda Mulia

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Sarkasme figur politik di media sosial Radita Gora; Lasmery R. M. Girsang
Bricolage : Jurnal Magister Ilmu Komunikasi Vol 8, No 2 (2022): Accredited by Kemenristekdikti RI SK No. 36/E/KPT/2019
Publisher : Universitas Bunda Mulia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30813/bricolage.v8i2.3223

Abstract

Sosok figur Megawati sudah dikenal sebagai putri dari mantan Presiden Soekarno dan juga pernah menjabat sebagai Presiden RI kelima. Meski sosoknya dikenal pernah berkontribusi sebagai kepala negara dan juga Ketua Umum PDIP, namun tidak lepas begitu saja dari perundungan dan ujaran kebencian melalui media sosial terutama ketika baru diangkat sebagai Dewan Pengarah BRIN yang memunculkan budaya komunikasi negatif di media digital. Sehingga melalui permasalahan ini, penulis bertujuan menemukan budaya komunikasi negatif yang muncul di media sosial. Melalui Computer Media Communication Theory, penulis berupaya untuk menemukan penggunaan bahasa dan komunikasi dari netizen, serta menggunakan pendekatan etnografi virtual untuk menganalisis penggunaan bahasa dan tuturan di media sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwasanya berbagai macam spekulasi, sarkasme diutarakan dengan bahasa dan kalimat yang non lugas atau kerap tersamar dengan gaya sindiran, gaya satire hingga penggunaan bahasa-bahasa yang biasa digunakan dalam ritme bahasa komputer.Hal ini terlihat pada penggunaan netspeak dan netlinggo seperti penggunan bahasa ‘kekinian’ hingga penggunaan bahasa lelucon satire yang biasa diutarakan dengan teks virtual di media sosial, kemudian menggunakan kata-kata akronim dalam mengutarakan pesan. Serta, klasifikasi audiens yang paling banyak berkomentar adalah klasifikasi tourists dan juga devotee, namun lebih banyak untuk memberikan kritik bersifat oposisional dan seperti berpihak memperjuangkan kepentingan maupun lembaga riset sehingga audiens terlihat tidak banyak memiliki pengetahuan tentang lembaga riset dan hanya memperhatikan sosok Megawati yang kontroversial. Sebagai kesimpulan ditemukan bahwa bentuk sarkasme yang diutarakan lebih banyak spekulasi atau anggapan, maupun justifikasi bahwa pemilihan Dewan Pengawas BRIN sarat dengan kepentingan politik dan juga upaya mempertahankan kekuasaan di pemerintahan.