Sultani Abi Husni
Kementerian Agama

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

AKAL DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN Sultani Abi Husni
ANSIRU PAI : Pengembangan Profesi Guru Pendidikan Agama Islam Vol 6, No 2 (2022): JURNAL ANSIRU PAI
Publisher : Universitas Islam Negeri Sumatera Utara Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30821/ansiru.v6i2.13698

Abstract

Menurut Al-Qur'an, manusia terdiri dari dua unsur, yaitu unsur material dan immaterial. Tubuh manusia bersifat material dan berasal dari sari pati tanah, sedangkan ruh manusia berasal dari substansi inmateri di alam gaib. Roh yang bersifat inmateri itu memiliki dua daya. Pertama, daya pikir yang disebut “aql” terkonsentrasi di otak (kepala). Kedua, daya rasa yang disebut hati, yang terpusat di dada. Jadi, daya pikir (‘aql) dan daya rasa (qalbu) keduanya bersifat immaterial karena merupakan substansi dari roh kemanusiaan. Aql bekerja dengan cara yang rumit melalui proses yang disebut berpikir. Pada saat yang sama, qalbu (hati) bekerja secara singkat dan langsung ketika sesuatu diputuskan/ditentukan. Islam mengakui bahwa akal merupakan alat atau sarana yang sangat penting bagi manusia. Tidak hanya sebagai alat untuk mengembangkan ilmu yang dibutuhkan manusia dalam kehidupan, akal juga merupakan salah satu prasyarat mutlak adanya taklif atau agama. Bahkan diakui bahwa akal merupakan sumber hukum Islam ketiga setelah al-Qur'an dan al-Hadits. Namun akal tidak dapat dijadikan sebagai faktor penentu, juga tidak dapat dilepaskan untuk menegakkan kebenaran tanpa tuntunan unsur-unsur lain yang juga diberikan kepada manusia, seperti rasa, iman (keyakinan) dan syariah (wahyu). Hal ini karena akal itu sendiri bersifat nisbi, sehingga pengamatan dan keputusannya tidak mutlak (relatif), dan ruang lingkupnya juga terbatas. Oleh karena itu akal harus selalu dibimbing/dikendalikan oleh qalbu sedemikian rupa agar tidak terperosok ke dalam jurang kesesatan. Karena yang bisa menentukan “baik dan buruk” hanyalah qalbu (hati)