Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pengaruh Ekstrak Etanol Daun Pangi (Pangium edule) terhadap Penyembuhan Luka Bakar pada Tikus Putih (Rattus novergicus) Galur Wistar I Made Agus Sunadi Putra; Ni Ketut Era Erliana
Jurnal Ilmiah Medicamento Vol 8 No 2 (2022): Jurnal Ilmiah Medicamento
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Mahasaraswati Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36733/medicamento.v8i2.5167

Abstract

Burns is a form of tissue damage caused by contact with sources that have high temperatures such as fire, electricity, and chemicals. Pangi leaves contain chemical flavonoids, alkaloids, sponges, tannins, and terpenoids that can be used as an alternative in the treatment of burns. This study aims to determine the effect of ethanol extract from Pangi leaves on the healing of second-degree burns. The research design used was an experimental method using white rats with Wistar strain as experimental animals. The treatments were made of 4 kinds with 6 repetitions each. Pangi leaf extraction was carried out by maceration method with 95% ethanol. Variations in treatment were positive control using silver sulfadiazine ointment, negative control without treatment, 2.5% ethanol extract of Pangi leaves and 5% ethanol extract of Pangi leaves. Burns were made by using an iron plate heated with Bunsen fire for 2 minutes and then affixed to the back of the rat for 5 seconds until a second burn was formed which was marked by a reddish color and there were bubbles filled with fluid in the wound. Observations were made by looking at and measuring the width of the wound on day 1, day 2, day 4, and day 7. The results showed that the ethanol extract of Pangi leaves accelerated the healing process of second-degree burns in white rats with the Wistar strain. Pangi leaf ethanol extract with a concentration of 5% was more effective than the concentration of 2.5%. It can be concluded that the ethanolic extract of Pangi leaves affects the speed of wound healing in white rats of the Wistar strain and can be considered one of the active ingredients for the treatment of burns.
Analisis Fitokimia dan Aktivitas Antibakteri Minyak Atsiri Kayu Manis dengan Bakteri Staphylococcus aureus Ni Wayan Karitha Pradnyandari; Ni Made Sukma Sanjiwani Sanjiwani; I Made Agus Sunadi Putra; Wayan Surya Rahadi; I Wayan Sudiarsa; Ni Nyoman Yudianti Mendra
Emasains : Jurnal Edukasi Matematika dan Sains Vol. 15 No. 1 (2026): Maret 2026
Publisher : Program Studi Pendidikan Matematika dan Pendidikan Biologi Universitas PGRI Mahadewa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59672/emasains.v15i1.6058

Abstract

Tanaman kayu manis yang berkembang di Indonesia, terutama jenis Cinnamomum burmanii Blumea. Dalam penelitian ini salah satu tanaman yang digunakan dalam pengobatan yaitu minyak atsiri kayu manis. Minyak atsiri dikenal sebagai minyak eteris atau minyak terbang (volatile oil) adalah senyawa berbentuk cair yang umumnya diperoleh dari berbagai bagian tanaman seperti akar, kulit, batang, daun, buah, biji, maupun bunga. Banyaknya manfaat dari minyak atsiri kayu manis, maka dilakukan penelitian dengan tujuan untuk mengetahui senyawa kimia yang terkandung dalam minyak atsiri kayu manis dan untuk menguji aktivitas antibakteri dengan bakteri Staphylococcus aureus didalam minyak atsiri kayu manis. Penelitian ini merupakan desain pengujian laboratorium dengan tujuan verikatif yaitu untuk menguji adanya metabolit sekunder dan aktivitas antibakteri dari minyak atsiri kayu manis (Cinnamomum burmannii) dengan bakteri Staphylococcus aureus menggunakan metode difusi cakram dengan media agar. Penelitian minyak atsiri kayu manis dibuat dengan dua sampel dalam pembelian toko berbeda. Hasil yang didapatkan dijelaskan dalam analisis deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa minyak atsiri kayu manis (Cinnamomum burmannii) mengandung senyawa triterpenoid dan minyak atsiri kayu manis berpotensi menghambat aktivitas antibakteri Staphylococcus aureus dengan diameter 25,93 mm dan 26,13 mm dengan kategori sangat kuat. Keterbaruan dari penelitian ini adalah menguji kandungan senyawa metabolit sekunder dan menganalisis aktivitas antibakteri pada minyak atsiri kayu manis dengan metode difusi cakram.