Ketidaksetaraan gender dalam sebuah organisasi masih dapat ditemukan termasuk di lembaga pendidikan Islam seperti pesantren. Penyebab perbedaan ini berasal dari pengaruh bias gender yang masih banyak ditemukan dalam buku-buku rujukan (kitab kuning) dimana perempuan diposisikan sebagai masyarakat âkelasduaâ, asumsi bahwa kemampuan perempuan hanyadalam urusan domestik serta pandangan perempuandi pesantren bahwa mereka wajib untuk menghormati,mengikuti dan mematuhi pria. Berdasarkan penelaahan atas kontribusi dan posisi âbu Nyaiâ di pesantren, makadapat disimpulkan bahwa banyak perempuan atauânyaiâ yang telah memiliki peran kepemimpinan dipesantren. Tuntutan kepemimpinan perempuan munculdari karakteristik pesantren yang memisahkan pria dan wanita yang secara otomatis memerlukan kontribusi dari kepemimpinan perempuan sebagai wakil pimpinantertinggi âkyaiâ.Kata kunci: Manajemen Pesantren, Partisipasi, Nyai, Gender. Inequality gender roles in organizations still foundincluding in Islamic educational institutions such asboarding school. The cause of this discrepancy comesfrom the influence of gender bias of most of the materials(kitab kuning) i.e. the view of the position of women asbeing âsecond classâ, the assumption that the abilityof women only in domestic affairs just as well as theview of women in boarding schools of the obligation torespect, to follow and to obey men. Whereas, it is alsofound the involvement of women in management ofboarding schools. The demands of womenâs leadershipemerged from boarding relationships characteristic thatseparates men and women as well as the acceptance ofthe girlsâ boarding schools also requires the contributionof womenâs leadership as a representative of the highestleadership of âkyaiâ.Keywords: Participatoty, Women leader, boarding school