This Author published in this journals
All Journal Jurnal Instrumentasi
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

VALIDATION OF A SECONDARY METHOD USING JONES CELL - TYPE D FOR ELECTROLYTIC CONDUCTIVITY MEASUREMENTS Nuryatini Hamim; Ayu Hindayani; Yosi Aristiawan; Christine Elishian
Instrumentasi Vol 46, No 1 (2022)
Publisher : LIPI Press, Anggota IKAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31153/instrumentasi.v46i1.321

Abstract

Parameter konduktivitas elektrolitik sangat berguna dalam menentukan kualitas air yangdigunakan di berbagai industri. Pengukuran konduktivitas elektrolitik dilakukan denganmenggunakan alat konduktometer yang telah dikalibrasi dengan bahan acuan bersertifikat. Saatini bahan acuan bersertifikat (CRM) masih merupakan barang impor. Oleh karena itu,Laboratorium Elektrokimia SNSU-BSN telah mengembangkan metode sekunder untukmengukur konduktivitas elektrolitik dalam bahan acuan untuk dijadikan sebagai CRM. Metodesekunder yang digunakan adalah metode dengan menggunakan sel Jones tipe D untuk rentangpengukuran 20 – 150 mS/cm. Validasi metode sekunder dibahas dalam makalah ini. Parameterpengujian meliputi linearitas, akurasi, presisi-repeatability, dan estimasi ketidakpastianpengukuran. Hasil validasi diperoleh linearitas yang baik dengan nilai R2 sebesar 0,999 padafrekuensi 120 – 480 Hz. Akurasi dan presisi cukup memuaskan dengan nilai bias 0,01 mS/cmdan RSD 0,031%. Nilai ketidakpastian diperluas dari metode ini dievaluasi sebesar 0,15% (k=2).Pengukuran konduktivitas elektrolitik ini tertelusur ke satuan SI melalui bahan acuan primerCRM1714 dari Lembaga Metrologi Nasional Denmark. Metode ini telah digunakan untukmensertifikasi bahan acuan sekunder KCl 1 M, dengan nilai 111,6 mS/cm dan ketidakpastiandiperluas relatif 0,15%. Bahan acuan sekunder ini telah dibuat oleh Laboratorium ElektrokimiaSNSU-BSN yang bertujuan untuk mendiseminasikan ketertelusuran pengukuran konduktivitaselektrolitik di Indonesia dan mengurangi ketergantungan pada bahan acuan impor yangmembutuhkan waktu lebih lama dan biaya tinggi.