Muhammad Anis Mashduqi, Muhammad Anis
Ponpes Aji Mahasiswa Almuhsin Krapyak Sewon Bantul Yogyakarta

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Khilafah Islamiyyah: dari Wahdah Al-Dawlah menuju Wahdah Al-Ummah Mashduqi, Muhammad Anis
Al-Manahij: Jurnal Kajian Hukum Islam Vol 5 No 2 (2011)
Publisher : Fakultas Syariah IAIN Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3864.635 KB) | DOI: 10.24090/mnh.v5i2.616

Abstract

Perdebatan tentang Khilāfah Islāmīyyah belum menunjukkan tanda akan berakhir. Pada saat itu pula, perjuangan beberapa gerakan Islam untuk kembali menegakkan Khilāfah Islāmīyyah semakin menguat saja. Upaya mengurai permasalahan Khilāfah Islāmīyyah ibarat menyelam dalam banjir air bah di mana seseorang bisa saja selamat akan tetapi bisa saja tenggelam di dalamnya. Al-Sanhūrī, salah satu pemikir Islam terkenal, menawarkan gagasan untuk mengubah konsep Khilāfah Islāmīyyah sebagai waḥdah al-dawlah  yang mengandaikan peleburan negara-negara menuju waḥdah al-`ummah (kesatuan umat) dengan mewujudkan suatu lembaga multi-nasional yang akan memperjuangkan prinsip-prinsip Islam di belahan dunia manapun.
KONTRIBUSI HASAN HANAFI DALAM KAJIAN USHUL FIQH Mashduqi, Muhammad Anis
Al-Mazaahib: Jurnal Perbandingan Hukum Vol. 1 No. 1 (2012): Al-Mazaahib
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (246.713 KB) | DOI: 10.14421/al-mazaahib.v1i1.1339

Abstract

Hasan Hanafi is an expert on Islamic law who had the idea of reconstruction usul fiqh. Min Al-Nash ila Al-Waqi, written by him as the reconstruction effort, continuing the spirit of creativity, Al-Risala, Al-Mushtashfā and Al-Muwāfaqāt. Min Al-Nash ila Al-Waqi' written to undermine the claims of Islamic law to disappear the public good (al-mashāliħ al-' ammah). The entire reconstruction project of Hanafi had been referred as a result of application of the phenomenological method. Hanafi called tahlil manhaj al-khabarāt, comparable to manāhij al-ta'wil, manāhij al-nazhar, manāhij al-żauq, manāhij al-tahlil al-lughawī and other methods of classical Islamic creations. Through the philosophy of phenomenology, hermeneutics Gadamerian, Hanafi appreciate the application of the themes and traditions of thought, but in the context of Al-Quran and Al-Sunnah. Hanafi recommends usul fiqh as sacra hermeneutica, the specific case of general hermeneutics. Hanafi, divides methodological-epistemological consciousness of usul fiqh into three-dimensional consciousness; historical consciousness (la conscience historique), eidetic consciousness (la conscience eidetique), and the active awareness (la conscience active). Hanafi finds methodological shift that can be read from configuration changes chapter and logical structure of usul fiqh texts shift. This changes was seen in Al-Mustashfa, work of al-Ghazali (d. 505 H) and Al-Muwāfaqā,t work of Al-Syatibi (d. 790 H).
The Integration-Interconnection Paradigm in Islamic Law: Al-Syatibi’s Thought in Al-Muwafaqat Mashduqi, Muhammad Anis
Al-Mazaahib: Jurnal Perbandingan Hukum Vol. 12 No. 2 (2024): Al-Mazaahib
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/al-mazaahib.v12i2.3915

Abstract

The study of Islamic law has tend to focus on the textual approach and often neglects its interaction with rational sciences. Al-Syatibi’s thought in Al-Muwafaqat offers a new paradigm that combines textual analysis with social reality through the maqasid al-shari’ah approach. However, previous academic studies have not specifically explored how Al-Syatibi’s ideas can be a methodological foundation for the integration-interconnection paradigm. This research uses a text analysis method with a historical-critical and contextual approach to Al-Muwafaqat and related literature. The data is analyzed to understand the relationship between textual and rational epistemology in the study of Islamic law. Al-Syatibi emphasized the importance of the rational-empirical approach in the investigation of Islamic jurisprudence. According to him, the study of Islamic law must involve textual methodology (al-ijtihad fi al-nash) and rational-empirical methodology (al-ijtihad fi al-waqi’). The idea expressed by Al-Syatibi can be interpreted as legitimizing the importance of an integrated and interconnected paradigm in Islamic studies, which includes the field of Islamic law. This study emphasizes that integrating social science, economics, and science in the analysis of Islamic law can answer epistemological and contextual challenges. Kajian hukum Islam selama ini cenderung terfokus pada pendekatan tekstual dan sering diabaikan integrasinya dengan ilmu-ilmu rasional. Pemikiran Al-Syatibi dalam Al-Muwafaqat menawarkan paradigma baru yang menggabungkan analisis teks dengan realitas sosial melalui pendekatan maqasid al-shari’ah. Namun, kajian akademik sebelumnya belum secara spesifik mengeksplorasi bagaimana gagasan Al-Syatibi dapat menjadi landasan metodologis untuk paradigma integrasi-interkoneksi. Penelitian ini menggunakan metode analisis teks dengan pendekatan historis-kritis dan kontekstual terhadap Al-Muwafaqat serta literatur terkait. Data dianalisis untuk memahami hubungan antara epistemologi tekstual dan rasional dalam studi hukum Islam. Al-Syatibi menekankan pentingnya pendekatan rasional-empiris dalam penyelidikan yurisprudensi Islam. Menurutnya, studi hukum Islam harus melibatkan metodologi tekstual (al-ijtihad fi al-nash) dan metodologi rasional-empiris (al-ijtihad fi al-waqi’). Gagasan yang diungkapkan oleh Al-Syatibi dapat diartikan sebagai legitimasi pentingnya paradigma yang terintegrasi dan terinterkoneksi dalam studi Islam, yang meliputi bidang hukum Islam. Studi ini menekankan bahwa pengintegrasian ilmu sosial, ekonomi, dan sains dalam analisis hukum Islam dapat menjawab tantangan epistemologis dan kontekstual.