Industri pembangkit listrik merupakan sektor dengan tingkat risiko operasional yang tinggi akibat kompleksitas sistem, penggunaan material berbahaya, serta aktivitas operasional yang berlangsung secara kontinu. Namun, evaluasi kinerja keselamatan pada banyak organisasi masih didasarkan pada indikator frekuensi kejadian, yang belum mampu merepresentasikan tingkat risiko secara akurat. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan pendekatan berbasis risiko dalam penilaian safety culture melalui integrasi Human Reliability Analysis (HRA) dan corporate risk matrix guna meningkatkan akurasi penentuan prioritas risiko operasional. Data yang dianalisis berupa 16.555 temuan keselamatan yang dikumpulkan dari 16 unit pembangkit selama periode Semester II 2023 hingga Semester I 2025. Probabilitas kesalahan manusia (Human Error Probability / HEP) dihitung menggunakan metode Accident Sequence Evaluation Program (ASEP) dan dikoreksi dengan pendekatan Human and Organizational Reliability Analysis in Accident Management (HORAAM) untuk mengakomodasi faktor organisasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas penanganan material berbahaya serta traffic/material handling memiliki nilai HEP tertinggi sebesar 0,14, diikuti oleh unsafe operation sebesar 0,13. Berdasarkan evaluasi matriks risiko, kategori tersebut termasuk dalam tingkat risiko tinggi dengan nilai risiko mencapai 20, sedangkan kategori lainnya berada pada tingkat risiko sedang hingga tinggi. Temuan housekeeping mendominasi jumlah data, namun hanya berada pada tingkat risiko sedang, yang menunjukkan bahwa frekuensi tinggi tidak selalu mencerminkan risiko tinggi. Penelitian ini menunjukkan bahwa integrasi HRA dengan risk matrix mampu menghasilkan pendekatan analisis risiko yang lebih akurat, sistematis, dan mendukung pengembangan manajemen keselamatan yang bersifat proaktif.